Bagaimana Mengatasi Anak yang Malas Belajar?

bagaimana mengatasi anak yang malas belajar

Bagaimana mengatasi anak yang malas belajar? Pertanyaan sekaligus keluhan dari orangtua ini semakin sering kami dengar.

Beberapa dari mereka mengambil kesimpulan bahwa malasnya anak belajar adalah karena gadget, terlalu sering bermain dengan teman-temannya hingga anggapan orangtua jika anaknya memang pemalas.

Orangtua bijak Indonesia, dalam hal belajar seharusnya Anda memegang prinsip, ‘Seseorang akan menjadi rajin dengan sendirinya apabila ia menyukai bidang yang dipelajari’.

Cobalah bertanya kepada diri Anda.

Saat ini Anda yang sudah sukses dengan pekerjaan atau bisnis tertentu, apabila diminta untuk mempelajari kembali tentang rumus sinus, cosinus, tangen, cotangen, secan dan cosecan, apakah masih bersemangat?

Jawaban Anda, tentu saja tidak.

Pertama, karena Anda menganggap itu tidak penting.

Kedua, Anda tentu tidak menyukainya karena tidak ada hubungannya dengan bisnis atau pekerjaan yang sedang Anda geluti.

Jika bukan karena tuntutan supaya bisa naik kelas atau lulus ujian, mungkin semasa sekolah dulu pun Anda tidak bersemangat dalam mempelajarinya.

Bahkan, dalam materi pelajaran yang tidak menarik seringkali membuat kita tertekan dan stres karena sekolah.

Hal itu dikarenakan Anda tidak tahu manfaat apa yang bisa didapatkan dari pelajaran tersebut.

Buktinya, pekerjaan Anda sekarang tidak ada sangkut pautnya dengan materi tersebut.

Kecuali jika sejak awal Anda bercita-cita menjadi guru atau profesi lain yang memungkinkan berkutat dengan rumus trigonometri.

Fakta ini kami sampaikan untuk mengubah pandangan orangtua yang salah tentang belajar.

Mengapa anak saya selalu malas belajar?

Mengapa kalau disuruh belajar selalu membantah dan menunda?

Bagaimana mengatasi anak yang malas belajar seperti ini?

Bagaimana Mengatasi Anak yang Malas Belajar?

Kami ingin Anda berhenti mengeluhkan berbagai pernyataan di atas dan membaca fakta yang di dalamnya sudah terdapat tips mudah bagaimana mengatasi anak yang malas belajar.

1. Belajar Tidak Sama dengan Sekolah

Berapa banyak orangtua yang berpikir bahwa belajar berarti sekolah.

Belajar berarti membaca buku-buku sekolah.

Belajar berarti mengerjakan PR.

Belajar berarti duduk tenang di dalam kelas bersama guru.

Belajar berarti datang ke tempat kursus. Belajar berarti matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, kimia, fisika, PKn dan pelajaran lain yang diujikan di ujian nasional.

Belajar adalah proses perubahan kepribadian manusia yang ditunjukkan dalam peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku.

Seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir dan kemampuan lain.

Nah, peningkatan kualitas dan kuantitas tersebut bisa didapatkan dari banyak hal.

Bukan hanya dari sekolah formal seperti SD, SMP dan SMA.

Artinya, makna belajar itu luas.

Jika sejak awal Anda membiarkan pemahaman belajar sama dengan sekolah, maka setelah keluar dari sekolah anak-anak akan berhenti belajar.

Jika sejak awal Anda menanamkan ke pikiran mereka bahwa mengerjakan PR sama dengan belajar, maka ia tidak akan menganggap Anda sebagai guru, lingkungannya sebagai sekolah untuk menimba ilmu kehidupan dan pengalaman orang lain sebagai pembelajaran.

Orangtua bijak Indonesia . .

Jelaskan kepada anak-anak Anda tentang luasnya makna belajar.

Mengerjakan PR dan sekolah adalah salah satu bagian dari belajar.

Ketika usianya masih di bahwa 5 tahun, sering-seringlah mengajaknya keluar rumah guna mengeksplorasi lingkungan.

Misalnya, berkeliling kompleks rumah, berkunjung ke rumah kakek dan nenek atau bergaul dengan tetangga.

Katakan pada anak dengan riang, “yuk kita belajar bersama.”

Saat berkeliling kompleks, Anda bisa memperkenalkannya pada lingkungan, milsanya dengan menjelaskan nama dan manfaat benda yang ia lihat.

Kalau perlu, ijinkan dia untuk menyentuh dan mencium aromanya.

Dengan begitu, sejak kecil akan tertanam di pikirannya bahwa belajar itu menyenangkan.

Belajar itu berkenalan dengan hal-hal baru.

Belajar itu melihat, menyentuh, merasakan dan mencium.

Belajar itu melibatkan semua panca inderanya.

Tidak selalu membaca dan menulis.

Jika di bawah usia 5 tahun Anda hanya memperkenalkannya dengan calistung (baca, tulis, hitung) maka, jangan tanya kalau setelah memasuki usia sekolah. .

Anak muak dengan kata belajar!

Lalu, bagaimana kalau anak sudah memasuki usia sekolah dan sudah terlanjur percaya bahwa belajar sama dengan sekolah?

Tidak perlu bingung. Anda bisa mengubah cara pandang anak tentang belajar sedikit demi sedikit.

Tiap kali Anda mengajaknya keluar rumah, misalnya berbelanja ke minimarket, katakan saja, “yuk kita belajar bersama.”

Kalimat tersebut mengesankan bahwa Anda akan belajar bersamanya.

Jadi menyenangkan kan belajar bersama orangtua?

Jangan hanya berkata, “ayo belajar!”

Itu perintah yang menyebalkan bagi anak.

Anda terkesan memerintah dan hanya dia yang akan belajar.

Jika anak bertanya, “lho kita belanja apa belajar mah?”

Jawab saja, “belanja itu juga belajar kak.”

Intinya, gunakan aktivitas belanja itu sebagai media untuk belajar.

Sebelum pergi belanja, ajak dia untuk menuliskan daftar belanjaan bahwa Anda dan anak hanya akan berbelanja barang-barang yang sudah ditulis.

Di situ Anda mengajarkannya tentang berhemat dan efektivitas waktu dalam berbelanja.

Terapkan juga untuk aktivitas lainnya.

Bukankah dengan begini Anda mampu mengubah persepsi anak terhadap kata belajar?

“Belajar itu aysik, nak!”

2. Belum Memahami Tujuan Belajar

Kembali pada pernyataan di awal tulisan tentang rumus trigonometri.

Semasa sekolah, Anda malas untuk mendalaminya karena Anda tidak tahu apa manfaatnya untuk kehidupan Anda.

Jika guru matematika kita memberitahukan apa manfaatnya, maka kemungkinan besar kita akan semangat dalam mempelajarinya.

Yup, untuk bisa menjawab pertanyaan bagaimana mengatasi anak yang malas belajar, Anda harus membantunya menentukan tujuan belajar yang benar.

Banyaknya anak malas dan tidak mau belajar adalah karena mereka tidak mengetahui tujuan belajar.

Dalam benaknya, belajar adalah untuk menyenangkan orangtua.

Belajar adalah untuk sekedar mendapatkan nilai bagus agar tidak remidi.

Belajar adalah untuk lulus ujian.

Belajar adalah untuk menghindari cemoohan guru atau teman-teman.

Belajar tidak ada hubungannya dengan masa depan.

Manfaat belajar terkesan ringan bagi anak-anak, yakni untuk mendapatkan nilai bagus. “That’s it!”

Kalau memang hanya itu tujuannya, pantas saja mereka begitu meremehkan belajar.

Pantas saja mereka malas untuk belajar.

Ajarkan kepada anak-anak Anda, belajar itu memiliki manfaat luar biasa untuk masa depan mereka.

Misalnya, ketika Anda mengajaknya ke minimarket untuk belanja.

Ketika di minimarket, Anda bisa menunjukkan padanya tentang manfaat mempelajari matematika di sekolah.

“Ini nih salah satu manfaat belajar hitung-hitungan di kelas sama bu Indah.

Kalau kita mau bayar di kasir dan ada kembaliannya, kita bisa cek.

Kembalian itu udah benar atau belum.”

Usahakan untuk tiap aktivitas yang Anda kerjakan bersama anak, Anda hubungkan dengan materi pelajaran tertentu.

Tujuannya supaya mereka punya gambaran jelas tentang manfaat yang akan dia dapatkan.

Ingat!

Seseorang akan merasa ringan dalam mengerjakan sesuatu jika ada imbalannya.

Imbalan di sini berarti manfaat yang akan dia dapatkan.

Dengan menunjukkan manfaat sama dengan Anda membantunya membentuk tujuan yang jelas.

3. Pahami Jenis Kecerdasan Anak

Kami pernah menangani seorang anak yang dianggap bodoh karena malas belajar oleh orangtuanya.

Ia mudah mengantuk ketika belajar pelajaran sekolah dan sulit berkonsentrasi.

Tujuan dari konsultasi tersebut adalah membuat sang anak rajin belajar dan mampu meraih nilai yang bagus untuk mata pelajaran UN.

Saat menjalankan sesi terapi, kami berkesimpulan bahwa anak ini begitu cerdas.

Ia mudah beradaptasi dengan orang-orang baru, matanya berbinar ketika kami memintanya bercerita tentang dinosaurus.

Ia hafal dan mampu membedakan dengan cermat jenis-jenis dinosaurus.

Ia pun mudah fokus dan konsentrasi saat melihat film-film tentang dinosaurus.

Bagaimana mungkin anak sehebat ini dianggap bodoh dan pemalas?

Padahal ia memiliki kecerdasan interpersonal yang baik.

Hal ini ditunjukkan dengan betapa mudahnya ia dekat dengan orang-orang baru.

Selain itu, berdasarkan penuturan sang ibu, anak ini memiliki banyak teman dan cenderung ramah kepada tetangga sekitar rumah.

Orangtua bijak Indonesia . .

Jika anak begitu ramah menyapa orang-orang, suka menegur sapa dan menolong tetangga, apakah Anda tidak menganggap itu sebagai bentuk kecerdasan?

Jika anak Anda pandai menari dan sering ikut lomba dance, apakah Anda tidak menganggap itu sebagai bentuk kecerdasan?

Jika anak berminat di bidang musik atau olahraga, apakah Anda sering mengabaikannya karena menganggap masa depan mereka tidak menentu jika dibandingkan dengan PNS atau karyawan BUMN?

Kebanyakan dari orangtua menganggap itu bukanlah bentuk kecerdasan.

Melainkan, selingan hidup yang tidak bermanfaat untuk masa depan anak.

Tapi, jika anak-anak rajin mengikuti kursus, rangking di kelas, masuk Universitas Negeri, masuk IPB, masuk sekolah ikatan dinas, maka Anda akan menganggap anak cerdas dan sukses.

Benarkah demikian?

Coba Anda perhatikan Rudy Choirudin.

Sewaktu kecil ia begitu dekat dengan ibunya yang merupakan pengusaha restoran.

Sejak masih duduk di bangku SMP, ia sering berada di dapur untuk memodifikasi makanan.

Jika orangtuanya menganggap hobi memasaknya bukanlah bentuk kecerdasan, apakah dia akan sesukses dan terkenal seperti sekarang?

Coba Anda perhatikan Rudy Hadisuwarno.

Sewaktu kecil ia pun dekat dengan ibunya yang merupakan pemilik salon.

Setiap pulang sekolah, ia sering melihat cara kerja ibunya dalam menata rambut pelanggan.

Dari situ muncul ketertarikannya terhadap bidang tata rambut.

Jika ibunya menganggap hobi menata rambut sebagai bidang yang tidak menjanjikan masa depan cerah, maka ia tidak akan sesukses ini bersama dengan sekolah tata rambut dan salonnya yang menjamur di seluruh Indonesia.

Percayalah . .

Setiap anak memiliki kecerdasan atau kelebihan masing-masing.

Hindari untuk membandingkannya dengan kakak atau adiknya, apalagi dengan anak orang lain.

Syukuri kehadiran anak bersama dengan minat dan bakatnya.

Apabila anak Anda malas untuk belajar atau sulit berkonsentrasi, mungkin kecerdasannya tidak di bidang akademik (Matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan pelajaran UN lainnya).

Ia pasti memiliki minat di bidang lain.

Hanya saja Anda belum menemukan bidang yang tepat untuk menonjolkan potensinya.

Jadi, bagaimana mengatasi anak yang malas belajar?

Kenali dulu jenis kecerdasannya, maka Anda tak perlu lagi menyuruhnya untuk belajar.

Karena setelah bertemu dengan apa yang disukai, anak akan belajar dengan sendirinya tanpa perlu diminta.

4. Berkomunikasi dengan Anak

Orangtua cenderung malas untuk mencari tahu kenapa anaknya malas belajar.

Karena orangtua lebih suka bicara daripada mendengarkan.

Padahal, anak terlahir bersama dengan pemikiran dan perasaannya.

Sekalipun Anda adalah orangtua yang membiayai kehidupannya hingga dewasa, namun Anda tetap wajib untuk menghargai pendapatnya.

Jika Anda hanya berbicara tanpa mendengarkan, maka diskusi dengan anak mengenai kendalanya dalam belajar akan gagal.

Jadi, solusi tentang bagaimana cara mengatasi anak yang malas belajar adalah perbanyak mengajak anak berdiskusi.

5. Berkomunikasi dengan Pihak Sekolah

Dalam menjawab bagaimana mengatasi anak yang malas belajar, Anda sangat dianjurkan untuk berkomunikasi dengan pihak sekolah, khususnya guru yang bertanggung jawab terhadap anak Anda.

Buatlah janji dengan guru anak Anda dan konsultasikan kendalanya dalam belajar.

Tanyakan juga bagaimana proses belajar mengajar di kelas dan bagaimana kecenderungan anak Anda dalam berkegiatan di sekolah.

Dan, pertanyaan-pertanyaan lain yang Anda anggap perlu.

Apabila pihak sekolah tidak mau menemui Anda karena alasan tak jelas, berarti kualitas sekolah tersebut kurang bagus.

Buktinya, ia tak mau bertanggung jawab terhadap keberhasilan anak Anda di sekolah.

6. Apakah Anda Orangtua yang Pemalas?

Bagaimana mengatasi anak yang malas belajar?

Sebelum mengajukan pertanyaan itu, sebaiknya Anda mengambil kaca dan melihat ke dalamnya.

Apakah Anda orangtua yang pemalas?

Jika tidak, syukurlah.

Jika ya, maka Anda harus sering-sering mampir ke PelatihanParenting.com guna membaca tips-tips pengasuhan dan pendidikan anak.

Atau mendaftar Pelatihan untuk memperluas ilmu parenting dan bertemu dengan orangtua lain guna sharing pengalaman.

Anda juga bisa membaca buku-buku parenting yang kini banyak dijual.

Artinya, Anda harus menunjukkan perilaku rajin belajar jika meminta anak untuk menjadi pribadi yang rajin.

Anda menonton sinetron tiap sore hingga larut malam, tapi mulut mengoceh meminta anak untuk rajin membaca.

Anda mengajak anak plesiran ke mall setelah pulang sekolah, tapi Anda berteriak kepada anak untuk rajin belajar.

Anda ringan tangan dalam mengupdate gadget yang harganya diatas 2 juta.

Tapi, sering merasa keberatan jika anak meminta buku seharga 200 ribu.

Jangan harap anak akan rajin, jika Anda sendiri tidak mencontohkan perilaku rajin di rumah!


Masih mau mengeluh soal bagaimana mengatasi anak yang malas belajar?

Semoga saja tidak, ya.

Sekarang kita akan lanjut membahas materi selanjutnya, yakni cara mengatasi anak yang suka menyontek.