Apakah Saya Sudah Menjadi Orangtua yang Bijaksana?

bagaimana menjadi orang tua yang bijaksana

Bagaimana menjadi orang tua yang bijaksana?

Pertanyaan ini sering diajukan oleh para orangtua yang mengikuti seminar, pelatihan maupun konsultasi dengan tim Bintang Mulia Foundation.

Mereka lebih sering menggunakan istilah bijaksana daripada baik.

Karena menurut mereka, bijaksana berarti bertindak dengan memperhatikan keadaan, akal pikiran dan perasaan sehingga memperoleh keputusan yang tepat.

Sedangkan, istilah baik lebih mengacu pada teratur dan patut.

Bijaksana kesannya lebih keren ya, orangtua bijak Indonesia.

Sayangnya meskipun menggunakan istilah keren, banyak dari kita yang belum memahaminya dengan baik apalagi menerapkannya ketika mengasuh anak-anak.

Padahal menjadi bijaksana itu tidak ada standarnya.

Coba perhatikan pengertiannya, bertindak dengan memperhatikan keadaan, akal pikiran dan perasaan.

Artinya, hanya Anda yang mampu menganalisa keadaan, melihat akal pikiran dan menengok perasaan Anda sendiri atau anak-anak.

Bukannya orang lain.

Apabila Anda melihat ada banyak sumber baik dari internet atau buku-buku tentang perilaku bijaksana, itu hanya bersifat sebagai referensi saja.

Bukan patokan yang wajib orangtua tiru mentah-mentah tanpa memerhatikan kondisi anak kita.

Karena pada praktiknya Anda harus berkaca terhadap situasi yang Anda hadapi.

Oleh karena itu, tiap kali ada yang bertanya bagaimana menjadi orang tua yang bijaksana, kami akan balik mengajukan pertanyaan sebagai jawabannya.

Bagaimana Anda ingin diperlakukan oleh orangtua Anda sewaktu masih kecil?

Tanggung jawab kita sebagai orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak memang tidak mudah.

Penuh drama yang melibatkan emosi secara kompleks, tantangan dan hambatan.

Sayangnya, banyak diantara kita yang tidak membekali diri dengan ilmu parenting mumpuni.

Hanya berbekal pengalaman menjadi anak dari orangtua kita sebelumnya, kita sudah berani melangkah dan mengidentifikasi diri sebagai orangtua.

Alhasil, sebagian besar pola pengasuhan yang kita terapkan untuk anak-anak adalah ilmu yang kita dapat dari orangtua kita sendiri.

Kita memperlakukan anak sebagaimana kita diperlakukan oleh orangtua kita dulu.

Artinya, kita bertindak atas dasar pikiran dan perasaan kita sebagai orangtua.

Seharusnya, kita bertindak dari persepsi seorang anak, bagaimana ia ingin diperlakukan.

Karena apa yang dianggap baik oleh orangtua, belum tentu tepat sesuai dengan kebutuhan dan keinginan anak.

Memahami Peran Orangtua

Beberapa waktu lalu, kami menerima klien seorang remaja yang sering uring-uringan, selalu bolos sekolah dan tidak pernah mau menuruti nasihat orangtuanya.

Karena khawatir dengan masa depan sang anak, orangtua tersebut mengantarkannya kepada kami untuk mengikuti sesi konseling.

Dengan harapan, ia bisa berubah menjadi penurut, baik dan rajin berangkat sekolah.

Ketika kami mengobrol bersama dengan si anak dan orangtua, terjadi konflik hebat dimana wajah sang anak menjadi merah padam, tangan mengepal dan bergetar hingga otot-otot lehernya terlihat menonjol.

Karena situasi yang sulit dikendalikan, akhirnya kami mengakhiri sesi pertama tanpa menghasilkan apapun.

Kami meminta mereka mengikuti sesi kedua dimana hanya fokus untuk menggali perasaan si anak.

Alhamdulillah, akhirnya kami menemukan penyebab utama dari masalah klien remaja ini.

Yakni, kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari ayahnya.

Tidak hanya itu, sang ayah pun ternyata sering memaksakan kehendaknya kepada anak, tidak mau mendengarkan harapan dan keinginan anaknya.

Sehingga, anak merasa diabaikan dan tidak dipahami perasaannya.

Perasaan inilah yang kemudian mendorongnya untuk mencari perhatian dengan cara negatif, seperti bolos sekolah.

Orangtua yang tidak memahami latar belakang sikap negatif anak, justru akan memarahi dan memberikan cap bandel.

Padahal, apa yang dilakukan remaja tersebut adalah untuk mencari perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya.

Orangtua bijak Indonesia . .

Banyak diantara kita yang bersikap sok tahu terhadap anak.

Kita merasa lebih dewasa dari segi usia, kita merasa sudah banyak makan asam garam kehidupan dibandingkan anak-anak, sehingga menganggap anak kita bukanlah manusia dengan sepaket perasaan dan pengalaman.

Padahal, anak kecil pun tahu apa yang disukai dan tidak disukai.

Hanya saja, dia masih belum paham tentang dampak yang bisa didapatkan dari kesukaannya tersebut.

Oleh karena itu, dia membutuhkan bimbingan dari orangtuanya.

Apalagi dengan remaja, dimana mereka sudah mampu mengambil keputusan layaknya orang dewasa jika diberi waktu dan akses informasi yang tepat.

Inilah kenapa, kami memberikan tempat khusus untuk membuat Anda paham tentang peran sebagai orangtua.

Fakta menunjukkan, sekarang banyak orangtua yang menyerahkan tugas pengasuhan kepada sekolah.

Mentang-mentang sudah di sekolahkan atau dititipkan di sekolah agama yang berasrama, lantas kita menganggap sudah mendidik mereka dengan baik.

Ingat!

Anda tetap wajib menciptakan kedekatan dan melatih anak untuk mengelola emosi sebagai investasi berharga.

Bukannya lepas tangan begitu saja setelah anak diterima di sekolah favorit yang menjanjikan pendidikan berkarakter.

Bagaimana Menjadi Orang tua yang Bijaksana

Anda sudah mengetahui jawabannya, bukan?

Meskipun begitu, Anda tetap membutuhkan ilmu yang bisa Anda jadikan referensi dalam mengasuh anak.

Misalnya, sharing pengalaman dengan sesama orangtua, membaca buku atau artikel dari internet berkaitan dengan pengasuhan hingga mengikuti seminar atau pelatihan parenting.

Menjadi orangtua bijaksana memang tidak mudah.

Apalagi ketika menghadapi keinginan anak yang tidak sejalan dengan harapan kita.

Terlebih lagi jika orangtua menganggap dirinya sebagai makhluk yang selalu benar dan lebih paham dengan masa depan anak.

Sehingga, keadaan semacam ini sering menjadi pemicu konflik antara orangtua dan anak.

Anak merasa keinginannya tidak dihargai oleh orangtuanya.

Sedangkan, orangtua menganggap bahwa mereka menyayangi anaknya sehingga perlu membantu mereka dalam membuat keputusan.

Lantas, bagaimana menjadi orang tua yang bijaksana sesuai dengan dambaan anak?

Bagaimana menjadi orangtua bijaksana yang tetap memegang prinsip, tapi tidak melukai harapan anak?

Berikut adalah beberapa tips yang perlu Anda terapkan.

1. Memahami Konsep Pengasuhan

Seperti yang telah kami ungkapkan, memasukkan anak ke pesantren atau sekolah berbasis pendidikan karakter, bukan berarti kita lepas tangan terhadap proses pengasuhan.

Memasukkan anak ke sekolah agama bukan berarti kita telah mendidik mereka secara agama.

Hal ini terjadi karena banyak orangtua yang tidak paham konsep pengasuhan anak yang sebenarnya.

Pengasuhan adalah proses mendidik dan membentuk karakter, melatih kontrol diri dan mengajarkan perilaku yang diinginkan.

Tugas utama tersebut tidak bisa dilimpahkan kepada pihak lain seperti, kakek dan nenek, baby sitter, sekolah atau asrama.

Melainkan, menjadi tanggung jawab orangtua.

Konsep pengasuhan sendiri harus mencakup 3 hal yakni, pengasuhan yang baik, penuh cinta dan kasih sayang serta berkualitas.

Ciri dari pengasuhan penuh cinta dan kasih sayang adalah anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Hal ini dikarenakan citra dirinya dibentuk oleh orangtua yang mencurahkan kasih sayang dan menghargai setiap pilihan anaknya.

Ciri dari pengasuhan yang baik, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap masa depannya.

Karena ia ditempa oleh orangtua yang lebih mengutamakan proses daripada hasil.

Orangtua cenderung membiarkan anak untuk mencoba mengatasi masalahnya sendiri, tentu saja tetap dengan arahan dari orangtua.

Sedangkan, ciri dari pengasuhan berkualitas, anak akan tumbuh sehat dan seimbang secara psikologis dan fisik.

Dengan memahami konsep pengasuhan, orangtua seharusnya sadar bahwa tanggung jawab penuh ada di tangan kita.

Bukan hanya sosok ibu, tapi ayah pun harus ikut andil dalam prosesnya.

Baik ayah maupun ibu harus memiliki cara pandang yang sama terhadap proses pengasuhan.

Ingat!

Masa depan anak di kemudian hari sangat tergantung dari tanggung jawab orangtua terhadap tubuh, pikiran, jiwa, keimanan dan kesejahteraan mereka di hari ini.

2. Memahami Tujuan Pengasuhan

Dengan menetapkan tujuan pengasuhan sama dengan Anda telah mampu menjawab pertanyaan bagaimana menjadi orang tua yang bijaksana.

Karena dari sinilah semuanya terbentuk.

Tanpa tujuan, Anda dan pasangan hanya akan berputar-putar di siklus yang membingungkan.

Seperti yang kebanyakan terjadi, pasangan muda mengikutsertakan anaknya yang masih batita ke playgroup.

Dengan tujuan menstimulasi kemampuan bersosial atau supaya anak menjadi pintar dalam hal akademis.

Setelah masuk ke sekolah dasar, anak akan diikutkan kursus beberapa mata pelajaran.

Mereka berharap anak menjadi pintar secara akademis hingga mengabaikan aspek penting lain yang juga wajib dikembangkan oleh orangtua. Misalnya, kecerdasan emosi dan spiritual.

Banyak orangtua yang tidak paham, mau dibawa kemana anak ini?

Alih-alih menikmati proses pengasuhan layaknya air mengalir, kita tidak pernah menyelidiki kemana arus air ini akan membawanya?

Kami sangat menyarankan kepada orangtua bijak Indonesia untuk merumuskan tujuan pengasuhan sejak anak masih dalam kandungan.

Tujuan ini akan membantu ayah dan ibu untuk memilih pendekatan apa yang digunakan dalam proses pengasuhan hingga kegiatan apa yang perlu diprioritaskan.

Tujuan pengasuhan yang baik adalah menyelaraskan kondisi anak dan harapan dari orangtua.

Sebagai contoh, ada orangtua muda yang mendatangi kantor kami untuk meminta bantuan dalam merumuskan tujuan pengasuhan.

Ayahnya adalah seorang pengusaha dalam bidang Furniture, sedangkan ibunya fokus untuk mengurus rumah tangga.

Orangtua muda ini berharap anaknya kelak menjadi seorang pengusaha yang jujur, bertanggung jawab dan bermanfaat bagi banyak orang.

Dari harapan itulah, kemudian kami membimbing mereka dalam merumuskan pola asuh, karakter apa yang perlu dikembangkan, model pendidikan seperti apa yang cocok untuk anaknya, bagaimana menanamkan prinsip-prinsip kehidupan yang sesuai dengan tujuan mereka, kalimat seperti apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan di depan anak dan sebagainya.

Bukankah membuat kerangka semacam ini memudahkan kita dalam mengasuh anak-anak?

Namun, perhatikan juga kondisi anak Anda.

Analisalah, kemampuan dan kecenderungannya terhadap harapan Anda.

3. Menetapkan Pola Asuh yang Tepat

Proses pengasuhan yang konsisten dari waktu ke waktu akan membentuk sebuah pola.

Dan, pola inilah yang disebut dengan pola asuh.

Yang termasuk dalam pola asuh adalah sikap orangtua dalam memperlakukan anaknya.

Bagaimana gaya orangtua dalam berbicara dengan anak dan bagaimana orangtua menyikapi prestasi atau kesalahan anak.

Secara umum, ilmu parenting mengenal 4 pola asuh yakni, otoriter, permisif, demokratis dan diabaikan.

Pola asuh otoriter memaksa anak untuk mengikuti keinginan orangtua dengan mengabaikan perasaan anak.

Jika tidak patuh, orangtua cenderung memberikan hukuman kepada anak.

Kebalikan dari pola asuh otoriter adalah pola asuh permisif dimana orangtua tidak memberikan batasan apapun terhadap anaknya.

Semua hal adalah baik untuk anak karena orangtua tidak menuntut dan tidak memiliki kontrol terhadap anak.

Demokratis menjadi pola asuh yang menjawab pertanyaan bagaimana menjadi orang tua yang bijaksana.

Karena orangtua menghargai kepentingan dan kecenderungan anak, tapi tetap mengontrol tingkah lakunya secara tegas.

Sedangkan pola asuh diabaikan adalah menunjukkan ketidakpedulian terhadap anak.

Orangtua tidak mengambil sikap serta tidak menetapkan batasan-batasan tertentu yang harus dipatuhi anak.

Tidak Ada Sekolah Menjadi Orangtua

Banyaknya kasus kegagalan orangtua dalam mengasuh anak, seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih waspada.

Berbagai kendala yang muncul pun sebenarnya bukan hanya datang dari anak kita.

Melainkan, dari kita sendiri yang belum paham bagaimana menjadi orang tua yang bijaksana dan belum memutuskan tujuan pengasuhan.

Memang tidak ada sekolah untuk bagaimana menjadi orang tua yang bijaksana, tapi Anda bisa belajar dari berbagai hal.

Seperti buku, sumber-sumber internet, berkaca terhadap pola asuh yang diterapkan oleh orangtua Anda dulu, sharing pengalaman dengan sesama orangtua atau mengikuti pelatihan parenting yang kami adakan.


*Selanjutnya, kita akan belajar lebih detil mengenai tugas dan fungsi orangtua.

Apa saja yang perlu Anda siapkan dan lakukan untuk mengasuh anak-anak agar tumbuh sesuai dengan harapan Anda.

Silahkan baca, memahami peran orangtua terhadap anak.