10 Tanya-Jawab Seputar ‘Cara Melihat Minat dan Bakat Anak’

10 Tanya-Jawab Seputar ‘Cara Melihat Minat dan Bakat Anak’

cara melihat bakat anak

Orangtua bijak Indonesia, setelah membaca pentingnya minat dan bakat anak serta bagaimana cara mengetahui minat dan bakat anak, Anda pasti memiliki banyak pertanyaan.

“Kenapa hanya 1 bakat saja yang perlu diasah?”

“Bagaimana jika anak sangat berminat dalam satu bidang, tapi tidak diimbangi dengan bakatnya?”

“Kenapa harus dengan cara stimulasi dan uji coba terlebih dahulu?”

Dan, sederet pertanyaan lainnya.

Berikut kami lampirkan beberapa pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh para orangtua terkait cara melihat bakat anak.

1. Orangtua hanya perlu menemukan 1 bakat dalam diri anak dan mengembangkannya hingga mencapai kualitas terbaik. Tapi, sistem pendidikan sekolah di Indonesia tidak mendukung hal tersebut. Anak-anak masih harus menguasai beragam mata pelajaran dengan materi yang kompleks. Bagaimana mengatasi masalah ini?

Saat ini sudah mulai bermunculan sekolah-sekolah yang menghormati keunikan anak.

Nah, sekolah dengan prinsip inilah yang perlu orangtua temukan.

Tapi, meskipun sudah memilih sekolah alternatif yang tidak membebani murid dengan beragam mata pelajaran, orangtua masih juga cemas.

Kecemasan ini muncul karena anak masih harus menghadapi Ujian Nasional.

Sedangkan, kurikulum di sekolah alternatif tidak sepadat kurikulum di sekolah umum.

Jadi, orangtua cemas kalau anak tidak mampu mengikuti Ujian Nasional dengan baik.

Solusinya, saat mendekati waktu Ujian Nasional, Anda bisa membantu anak untuk mendapatkan tambahan pelajaran.

Ingat! Fokusnya adalah agar anak mampu lulus ujian.

Tidak perlu muluk harus mendapat nilai sempurna kalau memang minat dan bakatnya tidak dalam bidang akademis.

Inilah kenapa kami memandang perlu untuk menetapkan tujuan jauh sebelum anak masuk sekolah.

Karena fungsi sekolah yang sebenarnya adalah untuk penajaman.

Tentukan tujuan anak, baru memilih sekolah yang tepat untuk mempertajam skillnya.

Bukan memilih sekolah dulu, baru memikirkan cita-cita.

2. Apakah mungkin jika seorang anak berbakat dalam 1 bidang, tapi ia tidak berminat dalam bidang tersebut?

Mungkin.

Kemungkinan besar penyebabnya berasal dari luar diri anak.

Sebagai contoh, seoarng anak dibesarkan dalam oleh keluarga yang berlatar belakang science.

Keluarga besarnya berprofesi sebagai dokter.

Sehingga, ia diarahkan oleh orangtuanya untuk mejadi dokter.

Tapi, anak ini sebenarnya berbakat dalam menciptakan lagu dan melakukan aransemen lagu.

Karena tekanan dari lingkungan, maka anak juga menekan potensinya.

Inilah yang disebut dengan bakat terpendam.

3. Apakah mungkin jika seorang anak berminat dalam 1 bidang, tapi ia tidak berbakat dalam bidang tersebut?

Mungkin.

Penyebabnya adalah orangutua yang kurang maksimal dalam tahap ‘memilih spesialisasi’.

Contohnya, ada anak yang hobi menonton konser musik. Khususnya, musik jazz.

Anak ini sangat hafal tiap lirik dan alunan nada dari musik-musik bergenre jazz.

Ia pun mengenal baik beberapa penyanyi jazz dari dalam dan luar negeri.

Tidak cukup sampai di situ. Anak ini pun mengoleksi beragam DVD lagu-lagu jazz dan tak pernah ketinggalan menonton konser musik jazz di kotanya.

Kesalahan orangtua adalah kurang detil memahami minat anak.

Dengan bukti-bukti di atas, banyak orangtua yang menganggap anaknya berbakat menjadi penyanyi jazz.

Sehingga, anak langsung diarahkan pada kegiatan-kegiatan untuk mempertajam skill bernyanyinya.

Padahal, persembahan musik jazz tidak terdiri atas penyanyi jazz saja.

Melainkan, ada pemusik (keyboardist, gitaris, drummer, bassist dll.), ada manager artis, pengarah gaya, penata panggung, composer, promotor konser dan sebagainya.

Anak ini memang bisa bernyanyi, tapi untuk menjadi penyanyi jazz, ia membutuhkan usaha extra.

Setelah mengikuti penajaman potensi, memang ada sedikit kemajuan, tapi itu tidak begitu berarti.

Kenapa?

Karena meskipun ia terlihat memiliki minat dalam musik jazz, bukan berarti ia berbakat menjadi penyanyi.

Bisa jadi ia berbakat dalam komposisi musik jazz, sehingga bakatnya adalah menjadi composer jazz.

Solusinya, bekerjalah secara maksimal dalam tahap ‘memilih spesialisasi’.

Sehingga, Anda mampu menemukan minat yang sekaligus bakat anak.

4. Pada usia berapa anak bisa diikutkan kursus ketrampilan? Beragam penelitian menyatakan, semakin dini semakin baik. Tapi, dalam usia yang terlalu dini orangtua belum mengetahui dimana minat dan bakat anak. Bagaimana jika sudah dikursuskan, ternyata bakatnya tidak dalam bidang tersebut?

Terkait hal ini, muncul 2 penelitian yang belum tentu berhasil jika diterapkan.

Penelitian pertama menyatakan bahwa untuk mengasah ketrampilan anak, maka mulailah sedini mungkin, yakni 1 tahun.

Semakin dini, daya serap otak pun semakin tinggi.

Penelitian kedua menyatakan bahwa kemampuan belajar anak menjadi maksimal saat mereka masuk rentang usia 6 hingga 13 tahun.

Orang-orang yang menganut pada penelitian kedua percaya jika sebelum anak memasuki usia tersebut, maka sia-sia saja pengajaran yang diberikan.

Solusinya, hindari memandang penelitan terlalu serius. Akan lebih baik jika Anda mengacu pada kondisi fisik dan mental anak.

Karena kunci pembelajaran efektif adalah suasana hati yang bahagia.

Usia tidak jadi masalah. Yang penting, anak Anda bahagia dan menikmati kegiatannya.

Tidak ada tokoh terkenal yang menemukan ‘sesuatu’ dalam keadaan tertekan.

5. Orangtua mencoba melakukan uji minat dan bakat anak. Tapi, masalah lain muncul. Yakni, nilai matematika di sekolah turun drastis. Karena keasyikan mengikuti kursus ketrampilan, anak jadi ketinggalan pelajaran dan malas ikut les matematika. Bagaimana solusinya?

Jalan mengikuti minat dan bakat itu tidak mudah.

Jalan mengikuti minat dan bakat biasanya adalah jalan yang paling sepi.

Apalagi jika minat dan bakat anak tidak tergolong profesi umum, seperti dokter, guru atau akuntan.

Melihat hal ini, kekhawatiran orangtua menjadi-jadi.

Melihat teman-teman sebaya anak mendapat nilai 9 dan 10 untuk mata pelajaran matematika, melihat teman-teman sebaya anak mengikuti kursus mata pelajaran matematika atau bahasa inggris, orangtua semakin khawatir.

Karena anaknya tidak sepandai dan serajin itu.

Itulah kenapa, terkait cara mengetahui minat dan bakat anak, orangtua harus punya ‘nyali’.

Nyali untuk menjadi berbeda.

Nyali untuk tetap konsisten meskipun berbeda.

Nyali untuk tetap semangat membantu anak meskipun dicibir sana-sini.

Nyali untuk tetap bangga terhadap anak meskipun cita-citanya dianggap ‘kosong’ oleh sebagian orang.

Nyali untuk tetap teguh pada keputusan meskipun lingkungan tidak mendukung.

Terkait pertanyaan ini, ada 1 hal perlu orangtua ingat kembali.

Apa yang menjadi potensi terunggul anak Anda?

Jika matematika membantu kesuksesan anak dalam mempertajam potensinya, maka Anda perlu membantu anak meningkatkan nilai matematika.

Jika potensi anak sama sekali tidak ada hubungannya dengan matematika, maka cukup bantu anak mencapai nilai standar saja.

Tidak perlu harus mencapai nilai sempurna hingga membuat Anda memaksakan kehendak agar anak semangat menjalani kursus matematika.

6. Belum 3 bulan anak sudah malas kursus menyanyi dan ingin pindah kursus main piano. Setelah dituruti, ternyata ia juga cepat bosan dan sekarang ingin kursus biola saja. Bagaimana mengatasi anak yang mudah bosan dengan berbagai kursus yang dicoba?

Kasus seperti ini biasanya terjadi saat uji coba minat dan bakat.

Seharusnya orangtua tidak mengeluh.

Seharusnya orangtua menerima dengan lapang dada dan berterima kasih kepada anak karena cepat bosan itu menunjukkan bahwa bakatnya tidak disitu.

Justru orangtua diuntungkan karena anak mau jujur mengungkapkan ketidaktertarikannya tersebut.

Bayangkan jika anak sudah mengikuti kursus dan terlihat baik-baik saja selama 2 tahun.

Tapi, belakangan ia terlihat tertekan dan tidak menikmati bidang yang digeluti. Bukankah Anda rugi secara finansial dan anak rugi dari segi waktu?

Uji coba minat dan bakat adalah moment untuk memperkenalkan ‘medan perang’ kepada anak saat ia ingin ‘bertempur’ dalam bidang tersebut.

Jika memang benar potensi terbaiknya ada disitu, maka bagaimanapun medan yang harus ditempuh dan apapun yang terjadi saat bertempur, ia akan tetap berjuang sampai akhir.

Saat ia mengetahui ternyata area itu tak seenak yang dibayangkan, anak akan quit dengan sendirinya jika memang itu bukan bakatnya.

Jadi, hindari untuk mencela, mengeluh atau memarahi anak saat ia berusaha jujur ingin berpindah jalur.

Katakan saja,

Tidak apa-apa nak. Terima kasih sudah mau jujur dan berani membuat keputusan. Ayah bangga sama kamu.

7. Orangtua khawatir jika masa depan anak tidak terjamin secara finansial. Tapi, bagaimana jika anak memiliki minat dan bakat dalam bidang yang tidak populer serta dipandang banyak orang sulit mencari uang disana?

Masih ingat rumus Bahagia = Kaya? 

Ya, polanya adalah menemukan bidang yang membuat anak berhasrat dan bahagia dalam menjalaninya.

Jika itu sudah dipegang, secara otomatis anak akan total dan sepenuh hati dalam menjalaninya.

Totalitas akan mendatangkan uang dengan sendirinya.

Masih banyak orangtua yang sulit menerima dan mengaplikasikan rumus ini.

Katakanlah Anda memaksa anak memilih bidang yang populer dan dikenal bisa mendatangkan banyak uang.

Kira-kira berapa banyak penghasilan yang bisa didapatkan jika ia tidak bahagia menjalani profesinya?

Berapa lama anak mampu mengumpulkan banyak uang sesuai dengan harapan Anda?

Kita lihat saja fakta saat ini.

Berapa banyak karyawan yang lebih menanti tanggal merah dan tanggal gajian daripada hari Senin?

Kenapa mereka membenci hari Senin?

Kenapa mereka lebih bersemangat pada hari Jumat yang mendekati weekend?

Mungkinkah orang yang happy menjalani karirnya tidak suka pada hari Senin yang notabene tergolong hari sibuk penuh deadline?

Mungkinkah orang yang tidak bahagia menjalani pekerjaannya mampu meraih posisi yang lebih baik dan mendapatkan kekayaan yang diiinginkan?

Jawabannya, kami kembalikan kepada Anda para orangtua.

8. Tidak semua orang bisa sukses mengikuti minat dan bakatnya. Berapa banyak yang berbakat melukis? Tapi, yang terkenal dan sukses hanya sedikit. Berapa banyak yang berbakat main musik? Tapi, yang terkenal dan sukses hanya segelintir. Bukankah lebih baik anak mengikuti jalur umum yang sudah terbukti aman?

Orangtua perlu memahami bahwa kesuksesan datangnya bersama dengan kegagalan.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika anak gagal.

Karena orang bijak berkata . . 

Success is never, never dan never give up.

Anda hanya perlu mendampingi dan memotivasi anak untuk tetap berjuang saat gagal hingga ia mampu meraih suksesnya.

Seperti yang Anda katakan, tidak semua orang yang berbakat menyanyi mampu untuk sukses.

Sama dengan mereka yang memilih jalur umum dan aman.

Tidak semua dari mereka mampu mengecap kesuksesan.

Katakanlah anak Anda berpotensi menjadi penulis.

Tapi, karena dipandang sepi secara finansial, Anda mendorongnya menjadi banker.

Setelah ia berhasil menjadi banker, apakah tidak ada kemungkinan ia gagal?

Sekalipun berhasil menjadi banker, ia takkan menjadi banker yang hebat!

Ingat, orang yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan passion, pasti akan terlihat dari hasilnya.

Berhenti memusingkan berapa besar pendapatan yang akan anak dapatkan.

Saat Anda percaya pada potensi unggul anak, bantu ia untuk maksimal dalam menajamkan kemampuannya.

Sabar dan konsisten dalam mendukung atau mendampingi.

Karena hasil yang matang membutuhkan proses ‘penggodokan’ yang tidak sebentar.

9. Jika anak sudah mantap dengan potensinya, maka orangtua dituntut untuk memberikan sekolah terbaik guna menajamkan kemampuannya. Jika bicara tentang budget, bagaimana orangtua mampu memenuhi hal tersebut? Karena tidak semua orangtua memiliki daya finansial yang cukup untuk menuruti minat dan bakat anaknya.

Jika seseorang sudah menentukan visi dalam hidupnya, maka ia akan lebih mudah dalam memilih jalur untuk mencapai visi tersebut.

Ia pun sudah paham ‘kendaraan’ apa yang akan digunakan untuk mencapai tujuannya.

Jika jalur A tertutup, maka ia berusaha mencari jalur lain.

Jika tiket pesawat mahal, maka ia akan mencari transportasi lain yang sesuai dengan budgetnya.

Tidak melulu dari kantong orangtua.

Sekarang ada banyak sponsor dan beasiswa yang bisa diandalkan supaya mau membantu anak-anak yang berpotensi namun kekurangan dana.

Jika orangtua percaya pada potensi anak, maka akan ada sejuta cara untuk mencapainya.

Bukan tentang mahal atau murahnya yang dipikirkan.

Bukan pula tentang budget.

Melainkan, fokus pada cara agar kita sampai pada tujuan.

10. Bagaimana sebuah bakat bisa muncul dalam diri anak? Apakah bakat itu turunan dari orangtua atau bentukan dari lingkungan?

Bakat adalah perpaduan yang pas antara faktor genetik dan pengaruh lingkungan.

Karena kepribadian manusia ini terbentuk dari nature (bawaan lahir, genetik) dan nurture (pengasuhan, lingkungan).

Bakat yang bagus, jika tidak dikembangkan dalam wadah yang tepat (lingkungan), maka selamanya bakat itu tidak akan terungkap.

Apabila seorang anak terlahir dari pasangan musisi, ia berada pada lingkungan yang menuntutnya menjadi penyanyi, tapi ia tak berbakat bahkan suaranya tidak enak didengar.

Maka, percuma saja melatihnya mati-matian. Dia tidak akan bersinar.

Jadi, yang diperlukan adalah bakat dan lingkungan yang tepat.


*Sekian pembahasan kami mengenai cara melihat bakat anak. Apabila Anda memiliki pertanyaan lain yang belum tercantum atau membutuhkan bantuan ahli untuk menemukan minat dan bakat anak Anda, silahkan hubungi kami untuk berkonsultasi dengan Kang Wahyu.