6 Cara Membangun Komunikasi Efektif dengan Anak

cara membangun komunikasi dengan anak

Hisyaaaammm, sudah jam berapa ini? Masih pantengin TV! Ayo matiin TVnya. Bangun nggak atau mama yang harus kesitu matiin TVnya? Mentang-mentang hari Minggu, seharian kerjaannya nonton TV mulu.

Lihat tuh kakak kamu, bangun tidur langsung keluar main sama teman-temannya, aktif dan banyak gerak. Eh, kamu malah nimbun lemak males-malesan! Ayo bangun!

Orangtua bijak Indonesia, menurut Anda apakah Hisyam akan segera beranjak dari depan TV dan langsung menuruti perintah ibunya?

Kemungkinan besar tidak.

Sekalipun Hisyam mematikan TVnya, dia melakukannya dengan kesal dan marah.

Dia pun tetap enggan untuk meniru kakaknya yang sedari pagi sudah aktif bersama teman-temannya di hari Minggu.

Apakah hal semacam ini juga terjadi kepada anak-anak dari orangtua bijak sekalian?

Apakah Anda sering memerintah atau meminta anak melakukan sesuatu tapi mereka tak menggubrisnya?

Karena anak-anak mengabaikan perintah, akhirnya Anda memohon, berteriak, membentak dan membandingkan mereka dengan saudara atau anak tetangga lainnya.

Dengan cara seperti itu, apakah anak akan menuruti kata-kata Anda?

Jika ya, sepertinya mereka akan melakukannya dengan terpaksa.

Sepanjang menjalankan perintah Anda, mereka akan kesal dan menggerutu, ‘Kenapa ibu tidak mengerti keadaanku?’ atau ‘Enak banget sih, tinggal perintah-perintah’.

Itulah yang akan keluar dari pikiran mereka.

Bukannya ikhlas menjalankan perintah Anda, justru mereka akan berpikir kenapa orangtuanya tidak mau mengerti keadannya saat itu.

Bisa jadi, saat itu anak sedang menghadapi masalah di sekolah yang tidak diketahui oleh orangtuanya.

Bisa jadi anak sedang menantikan sebuah acara yang sudah dinantikannya begitu lama.

Orangtua bijak Indonesia . .

Komunikasi efektif ditandai dengan anak yang merespon pesan Anda dengan tepat dan positif.

Apabila anak tidak mau mendengar perintah Anda, sering membangkang dan tidak menggubris permintaan tolong yang Anda lontarkan, artinya Anda gagal dalam menyampaikan pesan.

Singkatnya, komunikasi diantara kalian tidak efektif.

Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan 6 cara membangun komunikasi dengan anak.

Tentu saja bukan sekedar komunikasi.

Melainkan, komunikasi efektif dimana anak mampu merespon pesan yang disampaikan orangtuanya dengan tepat dan positif.

Tidak hanya itu, Anda pun sebagai orangtua harus bisa merespon pesan anak dengan tepat.

Dasar Komunikasi yang Efektif

Kunci tercapainya tujuan pendidikan anak di lingkungan keluarga adalah kelancaran komunikasi.

Dan, dasar dari komunikasi antara orangtua dengan anak adalah komitmen dengan pasangan dan belajar membaca bahasa tubuh anak.

Berkali-kali kami nyatakan, anak adalah cerminan dari orangtuanya.

Apabila anak suka membangkang dan tak meladeni perintah orangtua, maka Anda patut untuk berkaca.

Dalam artian, mengamati tingkah laku Anda.

Jika memang selama ini Anda kurang sabar, memberikan perintah kepada anak dengan cara marah-marah, meremehkan, membandingkan hingga bicara tanpa spasi, hasilnya anak menjadi pendiam, melawan, menentang dan sulit untuk diajak kerjasama.

Setelah menyadari kesalahan Anda, segeralah berkomunikasi dengan pasangan.

Karena percuma saja Anda berubah, tapi pasangan masih bertingkah seperti biasanya.

Rumuskan dengan pasangan Anda, pernyataan positif apa yang boleh diucapkan di depan anak.

Rumuskan juga pernyataan negatif yang harus dihindari.

Berkomitmenlah untuk mematuhi aturan yang sudah kalian berdua rumuskan.

Intinya, komitmen ini adalah tentang kerjasama dengan pasangan untuk perubahan yang lebih baik.

Dasar komunikasi efektif dengan anak yang kedua adalah belajar membaca bahasa tubuh anak.

Sebagai ilustrasi, silahkan baca cerita berikut.

Rike yang baru tiba dari sekolah langsung melempar tasnya di atas sofa, membuka sepatu dan kaos kaki di ruang tamu serta menaruhnya sembarangan. Melihat hal itu, ibunya menjadi kesal.

“Kamu ini! Ibu sudah seharian bersih-bersih rumah, masak, ngurusin kamu, tapi kamu nggak tahu aturan. Ayo taruh tas dan sepatu di tempatnya. Jangan sampai mama marah ya Rike!”

Rike yang kesal justru langsung nyelonor masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras.

“Rikeeee! Dasar anak bandel!”

Orangtua bijak Indonesia, jika Anda melihat tingkah anak sepulang sekolah seperti Rike, mungkin Anda juga akan kesal dan memarahinya.

Tapi, sebagai orangtua bijak seharusnya Anda belajar bagaimana cara membaca bahasa tubuh anak.

Karena bahasa tubuh akan berkata lebih jujur dari suara yang keluar dari mulut mereka.

Yang seharusnya Anda lakukan ketika melihat anak seperti Rike adalah memperhatikan bahasa tubuhnya.

Kemudian, bertanyalah tentang perasaannya.

Bukan pikirannya!

Tanyakan padanya, “Lagi sebal ya nak? Kok mukanya kusut gitu, nggak biasanya naruh tas di sini?”

Dengan pertanyaan tenang dan langsung menohok perasaannya, anak akan cenderung terbuka kepada Anda.

Karena Anda tidak tahu apa yang sudah dilewati Rike atau anak Anda di sekolah seharian tadi.

Bisa jadi dia lupa mengerjakan PR dan mendapat hukuman dari sang guru.

Atau bisa juga dia dikerjain oleh temannya yang usil hingga membuatnya bete seharian.

Jika anak sudah menjawab pertanyaan pertama Anda, misalnya Rike menjawab seperti ini, “Iya nih buk lagi sebal abis dikerjain sama Agung”.

Silahkan lanjutkan dengan pertanyaan kedua yang masih berkaitan dengan perasaannya, misalnya, “Lho kok bisa? Kamu kesel dan marah dong”.

Jangan lanjutkan bertanya jika anak belum menjawab pertanyaan pertama. Itu artinya, dia belum merasa nyaman untuk bercerita kepada Anda.

Komunikasi akan efektif apabila orangtua dan anak sedang dalam keadaan nyaman satu sama lain.

Bagaimana orangtua bisa menghakimi anak dan menggelontorkan pertanyaan menuduh dan mencap sebagai anak bandel serta tidak tahu aturan?

Padahal, ketika di sekolah dia harus menghadapi masalahnya.

Itulah kenapa kami sangat menganjurkan Anda untuk belajar membaca bahasa tubuh anak.

Dengan memperhatikan, mencermati dan kemudian menyadari apa yang dirasakan anak,

Anda akan mampu untuk menyampaikan pertanyaan, pernyataan atau perintah yang tepat.

Dampaknya, anak pun akan merespon dengan tepat dan positif.

Cara Membangun Komunikasi dengan Anak

Setelah memahami betapa pentingnya bekerjasama dengan pasangan dan belajar membaca bahasa tubuh anak, selanjutnya Anda bisa menerapkan cara membangun komunikasi dengan anak berikut.

1. Luangkan Waktu Terbaik Anda

Cara membangun komunikasi dengan anak yang pertama adalah meluangkan waktu terbaik.

Orangtua bijak Indonesia yang bekerja, lebih banyak menghabiskan waktu di kantor atau di lokasi bisnis.

Dari pagi hingga waktu petang.

Anda menghabiskan waktu fit Anda untuk pekerjaan atau bisnis.

Sepulang dari kantor, Anda terjebak macet dan pikiran yang dipenuhi dengan target kerja, penjualan menurun atau performa tim yang kurang baik di bulan ini.

Dengan banyaknya kegiatan dan hal-hal yang perlu Anda pikirkan, membuat Anda merasa kelelahan seharian ini.

Untuk membalas kelelahan itu Anda ingin istirahat.

Baik suami maupun istri, hanya menyumbangkan sedikit waktu untuk anaknya di malam hari.

Itu pun waktu sisa yang tak berenergi.

Anda hanya memberikan perhatian sekenanya dan seperlunya.

Berdalih bahwa kerja dan bisnis pun adalah untuk masa depan anak menjadi alasan utama Anda.

Seharusnya, mencari nafkah bukan berarti Anda tidak sempat menyediakan waktu terbaik untuk anak.

Karena orangtua pasti tahu mana yang harus diprioritaskan.

Jika memang suami dan istri harus sama-sama bekerja, hal terbaik yang bisa ditempuh adalah upaya untuk tetap semangat di depan anak dan menunjukkan antusiasme dalam merespon mereka.

2. Dengarkan Suara Mereka!

Ya, cara membangun komunikasi dengan anak selanjutnya adalah mendengarkan.

Waktu terbaik yang orangtua bijak luangkan untuk mendengarkan anak-anak dengan antusias.

Jika Anda mendengarkan mereka sekenanya saja, lebih baik untuk tidak memiliki anak.

Karena sikap cuek yang ditunjukkan orangtua bisa menumbuhsuburkan sikap acuh tak acuh atau rasa tidak peduli anak.

Untuk apa saya dengarkan orang lain, kalau suara saya tidak pernah didengarkan?” atau “Untuk apa saya berpendapat, toh pendapat ini tidak penting”

Kurang lebih seperti itu suara hati mereka yang terabaikan.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun.

Sikap tak peduli anak semakin subur.

Hasilnya, dia pasif.

Contohnya, ketika di sekolah dia akan lebih sering diam dan malas untuk memberikan opini.

Sikap antusias dan pikiran kritisnya akan mati.

Mendengarkan aktif bisa menjadi solusi ketika anak mengalami masalah dengan perasaannya.

Apakah anak sedang marah, sedih, kesal atau kecewa, mereka akan sulit untuk mengungkapkannya apabila orangtua tidak mendengarkan secara seksama.

Ya, cara membangun komunikasi dengan anak yang kedua adalah dengarkan suara mereka dengan antusias!

Seolah Anda menjadi bagian dari ceritanya.

3. Libatkan Diri Anda Secara Total

Tidak jauh berbeda dengan mendengarkan suara anak secara antusias, melibatkan diri akan meningkatkan rasa nyaman anak untuk berada di dekat Anda.

Misalnya, ketika Anda mendengarkan cerita mereka, cobalah untuk masuk ke feel yang ingin disampaikan oleh anak.

Perhatikan ekspresinya ketika bercerita dan ikuti mimik mukanya.

Jika Anda membiasakan hal ini, Anda akan takjub dengan sensasi bond diantara kalian.

Anak akan merasa nyaman dan menyadari bahwa Anda memperhatikannya.

Jika Anda benar-benar tulus melibatkan diri, bukannya pura-pura saja, dan Anda menerapkan tips ini secara berkelanjutan, maka anak akan merasa dihargai dan diakui.

Cara membangun komunikasi dengan anak yang ketiga ini pun akan menstimulasi anak untuk terbuka dengan masalah yang dihadapi.

4. Mendorong Anak untuk Aktif Berkomunikasi

Sudah menerapkan cara pertama hingga ketiga?

Maka, akan lebih mudah untuk mendorongnya menjadi anak cerewet.

Bukan cerewet yang negatif, seperti suka berceloteh di tengah pembicaraan orang dewasa.

Melainkan, menjadi cerewet secara positif.

Misalnya, rasa ingin tahunya mendorong anak untuk lebih banyak bertanya.

Jika anak dari orangtua bijak Indonesia belum bisa banyak bertanya, Anda bisa menstimulasi mereka dengan mencoba bertanya lebih dulu.

Misalnya, ketika sedang berkendara menuju sekolah, jangan biarkan anak diam atau bermain dengan dirinya sendiri.

Sibukkan mereka dengan menggali pendapatnya tentang lingkungan atau tempat-tempat yang kalian lewati.

Tidak hanya mendorong anak untuk aktif bicara, Anda juga sedang mengajari mereka untuk berdiskusi.

Bahwa keputusan atau pendapat anak itu harus didiskusikan lebih dulu dengan orangtua.

Itulah sikap yang harus Anda tanamkan.

5. Hargailah Upaya Anak-anak Anda

Anak bukanlah orang dewasa mini.

Mereka memiliki perspektif dan sikap tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan orang dewasa.

Jika ingin memberikan perintah atau penjelasan, berupayalah untuk menyesuaikan dengan usia mereka.

Oleh karena itu, Anda harus senantiasa bersabar menghadapi anak-anak.

Sama dengan Anda yang berproses menjadi orangtua bijak, mereka juga berproses menjadi anak baik yang Anda dambakan.

Setiap perkataan, sikap, keputusan atau ulah mereka, Anda patut menghargainya.

Ingat . . 

Mereka sedang berproses.

Yang perlu Anda lakukan adalah memandang sikap anak-anak dari kacamata positif.

6. Anak-anakku adalah Aku di Masa Lalu

Katakan seperti itu kepada diri Anda sendiri.

Maka, Anda akan mengingat bagaimana masa kecil Anda dulu.

Betapa Anda pernah bandel, melawan orangtua, usil dengan teman sekolah hingga berbohong kepada orangtua untuk pergi berpetualang ke luar kota.

Dan, tingkah unik lain dimana Anda sendiri lebih paham.

Dengan mengingat masa kecil dulu, sekarang apakah Anda sadar bahwa anak hanyalah anak dengan segudang ulah unik yang ketika dewasa nanti masa-masa itu tidak akan terulang.

Bahkan, kini Anda senyum-senyum sendiri karena kenangan bersama orangtua dulu.

Bagaimana, merasa lebih memahami sikap anak?

Seharusnya memang seperti itu.

Sekian tips kali ini tentang cara membangun komunikasi dengan anak.

Semoga bermanfaat untuk keluarga Anda.


*Lengkapi pengetahuan Anda dalam membangun komunikasi efektif dengan membaca ‘Memahami Bahasa Tubuh Anak Sebagai Dasar Komunikasi Efektif’