Anakku Ketahuan Nonton Film Porno dan Koleksi Majalah Dewasa

cara memberikan pendidikan seks pada anak

Bagaimana ya cara memberikan pendidikan seks pada anak? Kemarin waktu aku coba masuk ke kamar anakku, tiba-tiba dia kaget langsung nutup laptopnya. Aku jadi penasaran dong.

Langsung aku buka paksa laptopnya, ternyata dia lagi nonton film porno pakai DVD.

Aku speechless. Nggak tahu harus respon seperti apa.

Aku keluar dari kamar anakku sambil bawa laptopnya untuk laporan ke ayahnya. Ayahnya marah luar biasa. Karena curiga dia nggak cuma nyimpen satu satu DVD, ayahnya coba untuk geledah tasnya.

Dan, kita nemuin majalah dewasa disana. Ada beberapa majalah.

Kata teman-temanku pendidikan seks itu penting supaya anak nggak penasaran dan coba cari tahu sendiri. Apakah benar seperti itu?

Kalau memang iya, lalu bagaimana ya cara memberikan pendidikan seks pada anak? Bagaimana pula penanganannya kalau sudah ketahuan seperti kasus anak saya?

Karena sekarang anak saya yang masih SMP jadi canggung kalau ngomong sama saya atau ayahnya. Mungkin karena malu abis ketahuan nonton film porno dan ketahuan koleksi majalah dewasa.


Orangtua bijak Indonesia, apakah Anda pernah mengalami kasus yang sama dengan cerita di atas?

Bagaimana reaksi Anda setelah menangkap basah anak yang sedang menonton sesuatu yang belum layak ia tonton?

Baca juga, Nonton Film Romantis Bareng Anak untuk Pendidikan Seks.

Orangtua yang belum memiliki persiapan untuk mengenalkan anak pada pendidikan seks memang cenderung kaget, kesal dan marah kepada anak.

Karena kebanyakan dari mereka berpikir bahwa jika anak tidak diberikan pendidikan seks, maka ia tidak akan mengenal seks dan semuanya akan berjalan aman.

Yang terjadi justru kebalikannya.

Saat tidak mendapatkan bimbingan dari orangtua, maka ia akan mencoba mencari tahu sendiri dari sumber yang belum tentu bertanggung jawab.

Nah, untuk penanganan bagi anak yang sudah ketahuan nonton film porno, koleksi majalah dewasa atau berperilaku seks menyimpang, penjelasannya bisa Anda baca di tulisan ini.

1. Hindari untuk meluapkan emosi

Sebagai contoh kasus di atas.

Setelah mendapati anaknya menonton film porno, ayah dan ibunya langsung marah tanpa melihat latar belakang.

Ya, latar belakang ini penting untuk digali.

Khususnya jika anak sudah terperangkap dalam lingkungan yang kurang baik.

Meluapkan emosi dengan marah, mengata-ngatai anak, mencap bandel, melarang anak untuk menggunakan laptopnya lagi hanya akan berdampak buruk bagi hubungan orangtua dan anak.

Anak merasa malu dan canggung di hadapan orangtua, orangtua pun kebingungan terhadap sikap anaknya.

Selanjutnya jika ada kasus serupa atau bentuk kenakalan lain, Anda tak bisa lagi mengajaknya berbicara atau diskusi.

Anak akan langsung menutup diri karena respon Anda selalu menyudutkan anak.

2. Berikan respon positif terlebih dahulu

Anak kita sesungguhnya terlahir netral.

Yang mengajari mereka mengenal ‘rasa’ tertentu adalah orangtua, lingkungan, sifat bawaan lahir dan pengalaman anak.

Karena keluarga, khususnya orangtua adalah tempat pertama yang mengenalkan mereka pada ‘rasa’, maka sebaiknya Anda menanamkan rasa positif terhadap setiap hal.

Saat Anda mendapati anak menonton film porno, berikan respon positif terlebih dahulu.

Wah, anak ibu sekarang sudah dewasa ya.

Lakukanlah dengan tulus.

Berkata positif harus diimbangi dengan mimik wajah dan bahasa tubuh yang positif pula.

Kalau hanya berkata positif, tapi bahasa tubuh Anda menunjukkan kegeraman, anak bisa menangkap sinyal itu lho.

Dampaknya, ia akan menutup diri.

Oleh karena itu, totallah dalam merespon anak secara positif.

3. Ajaklah anak untuk berbincang

Anak Anda mungkin akan malu dan takut.

Oleh karena itu, perlu untuk memberikan respon positif terlebih dahulu.

Hal ini bertujuan untuk menciptakan rasa nyaman dan rasa percaya anak terhadap orangtuanya.

Jika emosi marah dan menyalahkan anak yang Anda tunjukkan, jelas dia akan menghindar untuk berbincang.

Berbincang dengan anak guna membahas kejadian ini memiliki banyak manfaat.

Diantaranya, Anda bisa menemukan latar belakang masalah, mencari tahu lingkungan mana yang baik untuk anak serta kesempatan untuk introspeksi diri.

Bukan tidak mungkin, kenakalan anak ini adalah buah dari kelalaian orangtuanya yang terlalu percaya kepada lingkungan anak.

Terlalu abai terhadap perkembangan teknologi, khususnya internet serta tidak mengenalkan anak pada pendidikan seks.

Oleh karena itu, cara memberikan pendidikan seks pada anak penting untuk dipelajari orangtua.

Ketika berbincang dengan anak, usahakan untuk mencari tahu sumber dari mana ia bisa mendapatkan DVD porno dan majalah pria dewasa tersebut.

Jauhkan anak dari sumber yang membawa dampak buruk itu.

Apabila sumbernya dari teman-teman sekolah, Anda bisa bertandang ke sekolah dan meminta solusi dari pihak sekolah.

Apabila tidak ada solusi atau bantuan dari pihak sekolah, itu berarti kualitas sekolah anak Anda kurang baik.

Sebaiknya, pindah dari sekolah tersebut.

Intinya, penanggulangan terhadap lingkungan yang kurang baik adalah menghindarinya.

Lingkungan buruk sama dengan junk food.

Di awal terasa nikmat saat disantap, tapi jika terus dikonsumsi akan menimbulkan efek buruk pada tubuh dan itu berakibat jangka panjang.

Bagaimana . . 

merasa lebih percaya diri dalam menangani rasa penasaran anak tentang seks?

Selanjutnya, Anda bisa mempersiapkan diri membaca pertanyaan yang paling sering ditanyakan anak seputar seks.