Bagaimana Cara Mendidik Anak Laki-laki dan Perempuan di Usia Pubertas?

cara mendidik anak usia pubertas

Setelah membaca tanda-tanda pubertas pada anak perempuan, di halaman ini kita akan fokus membahas cara mendidik anak usia pubertas.

Pubertas adalah masa dimana anak mengalami perubahan fisik, psikis dan kematangan fungsi seksual.

Masa pubertas dimulai sejak usia 8 hingga 14 tahun dan berakhir kurang lebih di usia 16 tahun.

Apa sih yang sebenarnya terjadi pada anak-anak kita di masa puber, sehingga orangtua perlu memberi treatment khusus kepada anaknya?

Kalau hanya perubahan fisik dan emosi saja, bukankah seiring berjalannya waktu manusia memang akan bertumbuh?

Benar ..

namun, ada pengecualian di masa pubertas ini.

Masa pubertas dikenal dengan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.

Ada banyak kejutan di masa ini yang dimulai dengan perubahan bentuk tubuh, tumbuhnya bulu halus di area tubuh tertentu, mulai tertarik dengan lawan jenis hingga kondisi emosi yang labil.

Anak-anak Anda tak mau lagi disebut bocah.

Mereka merasa memiliki hak penuh untuk mengontrol dirinya sendiri.

Mereka cenderung lebih suka menghabiskan waktu bersama teman sebaya dibandingkan dengan orangtuanya.

Keputihan yang dialami anak perempuan sebelum menarche, keluarnya cairan kental yang berbau tak sedap alias mimpi basah bagi anak laki-laki, akan menyisakan rasa bingung dan kaget bagi mereka.

Saat anak tidak memiliki seseorang yang bisa membimbing dan menjawab segala kebingungan itu, mereka akan mencoba mencari tahu sendiri.

Dengan cara apa?

Bertanya pada temannya atau googling alias mencari jawaban melalui internet.

Tidak salah jika anak bertanya pada pengalaman temannya.

Tidak salah juga jika anak mencari tahu melalui internet.

Tapi, 2 sumber tersebut tentu tidak mampu memberikan jawaban yang terarah dan bertanggung jawab.

Akan lebih baik jika orangtuanya sendiri yang menjawab kebingungan anak.

Karena Anda lebih paham jawaban mana yang bijak dan mampu mengarahkan anak.

Penyebab Munculnya Pubertas

Pubertas disebabkan oleh hormon yang dipengaruhi oleh hipofisis (pusat dari seluruh sistem kelenjar penghasil hormon tubuh).

Berkat hormon yang mulai aktif, remaja mulai mengalami perubahan fisiologis yang akhirnya menjadi mudah dibedakan antara perempuan dan laki-laki.

Ya ..

inilah masa dimana tubuh memproduksi hormon-hormon seks sehingga alat reproduksi berkembang secara matang dan berfungsi.

Hormon seks pada perempuan adalah estrogen dan progesteron yang diproduksi di indung telur.

Sedangkan pada laki-laki disebut dengan testosteron dan diproduksi oleh testis.

Hormon-hormon ini ada di dalam darah dan mempengaruhi alat-alat dalam tubuh, sehingga terjadi beberapa perubahan pada fisik anak-anak.

Cara Mendidik Anak Usia Pubertas

Berbeda dengan manusia dewasa, mereka telah melewati berbagai pengalaman hidup dan memiliki kapasitas untuk menjaga diri serta membedakan baik atau buruk.

Tapi, masa pubertas adalah pengalaman pertama anak menjadi dewasa.

Saat Anda tak hadir bersama dengan fisik dan emosi mereka..

Bagaimana jika di luar sana mereka bertemu dengan lingkungan yang tidak tepat?

Bagaimana jika mereka menjadi lebih dekat dan percaya pada teman ketimbang orangtuanya?

Bagaimana jika emosi yang labil mengunci telinga mereka dari saran dan nasihat orangtua?

Bagaimana jika mereka sulit mengontrol rasa ‘suka’nya pada lawan jenis, sehingga tak mampu menjaga pandangan dan kemaluan?

Jadi, peranan orangtua sangat penting di masa pubertas ini.

Berikut adalah beberapa cara mendidik anak usia pubertas yang tepat;

1. Membekali diri dengan ilmu

Anak perempuan mungkin pernah mendengar, akan datang satu masa dimana payudara mereka tumbuh dan menonjol.

Anak laki-laki pun pernah saling berbincang, setelah khitan, suara mereka akan membesar dan tumbuh rambut tipis di kemaluan.

Jika orangtua tidak terbuka pada anak, pasti akan canggung saat harus membicarakan perubahan fisik tersebut.

Apalagi jika Anda menganggap materi ini saru untuk dibahas dengan anak.

Saran kami. .

perbanyaklah diskusi dengan anak.

Saat makan, berkendara atau menonton tv bersama.

Manfaatkan waktu semacam itu untuk menggali sikap kritis anak dengan melontarkan pertanyaan atau meminta pendapat anak mengenai sesuatu yang barusan ia lihat.

Dengan pola seperti ini, mereka akan terbiasa bertanya dan mengungkapkan opini.

Anda dan anak menjadi terbuka satu sama lain.

Sehingga, percakapan yang mengarah pada alat reproduksi tidak lagi saru.

Justru. .

menjadi kesempatan bagi Anda untuk mendidik anak tentang adab menjaga pandangan dan kemaluan.

Jadi, kapan waktu yang tepat memberitahu anak tentang perubahan fisik yang akan dilaluinya pada masa puber?

Beritahu anak saat mereka bertanya untuk pertama kalinya.

Ungkapkan saja sejujurnya perubahan apa saja yang akan terjadi.

Berusahalah untuk membahasnya dari sudut pandang positif.

Jelaskan pada anak ..

sekarang, kamu bisa belajar menjadi manusia dewasa. Kamu berhak mengambil keputusan sendiri. Tapi, setiap tindakan kamu nanti ada konsekuensinya. Konsekuensinya bisa positif maupun negatif.

 

2. Membekali diri dengan sabar

Perubahan emosi yang penuh gejolak adalah ciri khas remaja.

Pada detik tertentu, mereka bisa menjadi tenang dan nyaman.

Beberapa detik kemudian, mereka bisa berubah kesal dan kecewa.

Semangat pun mudah beralih dari up menjadi down.

Nilai matematika yang jeblok bisa merusak mood remaja Anda.

Tapi, saat melihat aktor kesayangannya muncul di iklan tv, mereka bisa segera lupa dengan nilai yang jeblok.

Anda tidak bisa mengimbangi emosi labil mereka dengan kemarahan.

Anda harus extra sabar dan menerima segala perubahan anak dengan ikhlas serta penuh rasa syukur.

Inilah fase dimana anak-anak akan belajar menjadi pribadi dewasa.

Namanya juga lagi belajar. Melakukan banyak kesalahan, ya wajar. Intinya, Anda harus sabar, sabar dan sabar.

3. Memposisikan diri sebagai teman dan pendengar bagi anak

Kenapa remaja identik dengan hura-hura bersama teman sebaya?

Karena orangtua cenderung memposisikan diri sebagai penasihat.

Ya ..

kita malas mendengarkan anak. Tapi, begitu semangat saat mengomeli mereka.

Kita tak mau mendengar penjelasan anak. Tapi, kita memaksa mereka mendengarkan kita.

Tentu saja ini tak adil bagi anak-anak.

Berbeda dengan teman yang mau mengerti dan mendengarkan keluh kesahnya.

Anak akan menganggap orangtua tak mau menghargai pendapatnya.

Inilah kesalahan kita sebagai orangtua.

Karena terlalu sering menanggapi pendapat atau permintaan anak dengan larangan.

Bukannya mendengarkan dulu latar belakang pendapat anak, kita langsung menjudge bahwa pendapat mereka itu salah dan tak baik.

Cara mendidik anak usia pubertas adalah dengan menjadi teman dan pendengar bagi mereka.

Percayalah..

orangtua tidak akan kehilangan kehormatan saat harus menjadi teman bagi anak.

Perlakukan anak sebagai seseorang yang bisa Anda curhati.

Maka, mereka pun akan melakukan hal yang sama pada Anda.

Hindari berbicara nyerocos dan mengabaikan pendapat anak.

Terapkan prinsip, 2 kali mendengar dan 1 kali berbicara.

4. Hindari menjadi overprotective

Sama seperti Anda sewaktu muda, remaja pun ingin mengexplore masa mudanya.

Semua yang terlihat menyenangkan di mata mereka, ingin dicicipi.

Hingga tak mengindahkan resiko dari ‘icip-icip’ yang mereka lakukan.

Pada titik inilah orangtua biasanya mengeluarkan jurus overprotective.

Hasilnya . .

sang remaja yang merasa dirinya telah dewasa, kemudian menganggap orangtuanya cerewet dan terlalu banyak mengatur.

Dampak dari pola asuh orangtua yang terlalu protective adalah anak-anak menjadi manja.

Karena terbiasa dilayani dan dilindungi orangtua secara berlebihan.

Maka, mereka tidak mengenal dan tidak mampu mengelola resiko.

Tipsnya . .

berikanlah kepercayaan dan tanggung jawab pada remaja.

Pada fase ini, Anda harus mengajari anak untuk bertanggung jawab pada hidupnya.

Secara bertahap, orangtua harus mengurangi keikutsertaannya dalam mengambil keputusan terkait masalah anak.

Cukup berikan wawasan dan konsekuensi baik serta buruk dari tiap tindakan anak.

Kemudian, katakan pada remaja Anda ..

Kak, ayah siap untuk dimintai saran dan pertolongan kapanpun.

Meskipun begitu, Anda masih harus mengawasi mereka dari jauh.

Karena remaja belum memiliki kontrol diri yang baik dan pengalaman yang cukup.

Sehingga, pengawasan dari orangtua diperlukan untuk evaluasi tindakan mereka.

5. Memberikan pilihan, tapi tetap ada batasan

Remaja paling benci jika diatur dan diperintah.

Semakin dilarang, semakin membangkang.

Semakin didorong, justru semakin melawan.

Tipsnya ..

ajaklah anak untuk membuat aturan bersama.

Diskusi dan negosiasi adalah metode komunikasi yang tepat bagi mereka.

Lalu, aturan apa saja yang perlu dibuat bersama remaja?

Semua tergantung kondisi keluarga Anda.

Misalnya, anak harus langsung kembali ke rumah sepulang sekolah.

Jika anak menolak, maka minta mereka untuk mengungkapkan tawaran beserta alasannya.

Saat pendapat anak masuk akal dan tidak merugikan masa depannya, maka ijinkanlah.

Contoh kedua, berapa lama anak boleh memanfaatkan internet?

Anda sudah membuat aturan 2 jam sehari.

Tapi, anak Anda menolak dan menawarkan 3 jam sehari karena kadang ada tugas sekolah yang membutuhkan koneksi internet.

Selanjutnya..

tulis semua peraturan untuk anak, tanda tangani bersama dan tempel di tempat dimana kalian bisa melihatnya tiap saat.

Hal ini penting agar anak ingat, dulu pernah memberikan persetujuan untuk aturan-aturan tersebut.

Jadi, kecil kemungkinan bagi mereka bertindak tidak sesuai aturan.

6. Memberikan hukuman dan reward sesuai dengan tindakan anak

Anak-anak kita ini sedang belajar.

Jadi, mustahil bagi mereka mendapatkan nilai sempurna untuk tiap peraturan.

Satu atau dua aturan mungkin akan dilanggar oleh anak.

Tipsnya ..

lakukanlah evaluasi untuk tiap tindakan anak.

Jika anak menunjukkan perkembangan yang baik, berikanlah reward.

Jika anak melanggar aturan yang telah dibuat, berikanlah hukuman.

Reward dan hukuman haruslah seimbang dan sesuai dengan hasil usaha anak.

Sebagai contoh. .

saat anak pulang terlambat dari sekolah dan tidak mengabari orangtua, Anda bisa menghukumnya dengan mengurangi uang saku.

Berikanlah konsekuensi dengan penjelasan.

Anda harus mengajaknya duduk bersama, kemudian menjelaskan kesalahan atau ketepatan anak.

Tunjukkan pada mereka konsekuensi yang harus dijalani.

Hindari membentak, mengancam dan menceritakan kesalahan anak pada orang lain.

7. Menyampaikan kritik yang membangun

Cara mendidik anak usia pubertas selanjutnya adalah memberikan kritikan yang bermanfaat.

Kritikan ini penting bagi pengalaman belajar anak.

Hanya saja, banyak orangtua yang tidak tahu cara mengkritik remaja dengan tepat.

Alih-alih mengkritik, yang keluar justru omelan dan sindiran.

*Yang perlu orangtua ketahui

Dalam memberikan kritikan untuk remaja, perhatikan 5 poin berikut;

  • Salahkan perilakunya, bukan pribadi anaknya
Kamarmu berantakan, nak! BUKAN Kamu nih pemalas!
  • Mendengarkan dan menerima perasaan anak
Padahal udah lelah ya, tapi masih harus nyiapin barang buat besok.
  • Menggunakan kata ‘seandainya’
Seandainya nggak kebanyakan main PS, pasti matanya nggak perih.
  • Fokus pada solusi, bukan kesalahan
Sebelum main, belajar dulu. BUKAN Kamu itu bandel, main terus.
  • Kesalahan harus diakui, bukan dihindari
Ibu dulu juga sering keluar main. Tapi, karena selalu pulang larut, akhirnya motor ibu disita selama 1 bulan. Setelah itu, ibu nggak pulang larut lagi.

8. Memberikan pujian yang memotivasi

Pujian yang diberikan oleh seseorang yang dihormati anak akan membuatnya bangga dan percaya diri.

Kedua rasa itu akan membangkitkan semangat anak untuk menjadi lebih baik lagi di depan orangtuanya.

*Yang perlu orangtua ketahui

Dalam memberikan pujian untuk remaja, perhatikan 5 poin berikut;

  • Fokus pada kepuasan pribadi anak
Kalau nggak sambil nonton tv, makanmu jadi cepat selesai ya.
  • Spontan/seketika saat melihat kemajuan anak
Wah, jam segini sudah rapi anak mama. Jadi, seger lihatnya.
  • Spesifik pada kemajuan anak
Karena sekarang kamar tidurnya rapi, jadi nyenyak kan tidurnya.
  • Pujilah usahanya, bukan hasilnya
Ayah tahu kamu pantang menyerah, meskipun tes kali ini diluar kemampuanmu.
  • Tulus, tidak ada maksud tersembunyi
Terima kasih ya kak, sudah mau bantuin ibu. Padahal baru pulang sekolah, pasti kan capek.

9. Memberi pemahaman moral dan agama

Pendidikan moral dan agama sangat perlu untuk dijadikan pondasi bagi kepribadian anak.

Jadi, jauh sebelum anak memasuki masa pubertas, seharusnya Anda telah memanfaatkan agama sebagai pedoman dalam hidup mereka.

Rasulullah SAW. bersabda,

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun. (HR. Ahmad)

Tentu saja, tidak hanya sholat yang wajib kita kenalkan

Ajaran Islam lainnya yang mampu membentuk kepribadian anak sesuai dengan tujuan penciptaannya, yakni sebagai manusia khalifah pun harus dikenalkan sejak dini.

10. Mendoakan keselamatan anak

Orangtua mana yang tidak mendoakan anaknya?

Agaknya tidak ada orangtua yang lupa atau enggan menyertai anaknya dalam doa.

Cara mendidik anak usia pubertas yang ke-10 ini mengacu pada doa Nabi SAW. untuk Hasan dan Husain.

Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (ain) yang membuat sakit. (HR. Bukhari & Abu Daud)

Orangtua bijak Indonesia. . 

setelah cara mendidik anak pubertas yang ke-1 hingga ke-9 Anda jalankan, tutuplah ikhtiar tersebut dengan berserah diri pada Yang Maha Menentukan.

Melalui doa yang tulus untuk perlindungan dan keselamatan anak, Allah SWT. pasti tak kuasa jika tak mengabulkan doa Anda.