Bagaimana Membiasakan Anak Makan Sendiri dengan Teratur?

cara mengajari anak makan sendiri

Seorang jurnalis dan penulis progresif asal Amerika Selatan, Hodding Carter pernah berkata, ada dua hal yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita.

Pertama adalah akar, kedua adalah sayap.

Artinya, tugas kita sebagai orangtua adalah membekali anak-anak dengan karakter yang kuat, kontrol diri yang sehat dan pemahaman tentang perilaku yang baik guna menempuh perjalanan hidup mereka sendiri.

Kita tidak bisa terus menyertai mereka dalam segala keadaan karena kita akan menua dan mati.

Kita tidak bisa terus menemani serta membantunya menghadapi dunia karena mereka punya rasa dan pikiran sendiri yang belum tentu sama dengan kita.

Anak-anak, biarkan mereka mencari hidupnya sendiri. Kita hanya perlu membekali mereka dengan ketiga hal di atas.

Itulah kenapa cara mengajari anak makan sendiri masuk ke dalam kategori kepribadian anak.

Karena dari hal sepele, ‘makan sendiri’ dengan teratur kita mengajarkan mereka tentang memahami kebutuhan diri sendiri dan kemandirian.

Orangtua bijak Indonesia . . 

apakah Anda sering kesal dan sebal ketika anak tidak mau makan dengan teratur?

Mereka susah sekali disuruh untuk makan. Kita mesti membujuk mereka ini dan itu supaya mau menerima suapan dari tangan kita.

Kita mesti ikut lari-larian, panjat sana panjat sini mengikuti tingkah anak hanya agar mereka mau makan.

Kita turuti segala menu yang diinginkan, entah itu junk food atau cemilan ringan supaya perutnya tidak kosong.

Orangtua bijak Indonesia . .

apabila Anda mencoba memahami jalan pikiran anak, kemungkinan mereka juga kesal karena kita selalu memaksanya makan.

Kami memiliki pandangan yang unik tentang cara mengajari anak makan sendiri, yakni hindari untuk menyuruh mereka makan. Logikanya, setiap manusia tidak suka apabila harus diperintah atau disuruh.

Meskipun ia masih kecil dan membutuhkan bantuan dari kita.

Tapi, memegang prinsip ‘hindari menyuruh anak-anak makan’ justru akan berefek positif terhadap keinginan anak untuk makan.

Tentu saja, prinsip ini harus Anda kenalkan pada anak sejak mereka balita.

Lalu, bagaimana tahapan dalam cara mengajari anak makan sendiri tanpa menyuruh mereka?

Baca dan rasakan tulisan ini hingga akhir.

Cara Mengajari Anak Makan Sendiri

1. Mengenalkan Konsep Kebutuhan

Makan adalah kebutuhan dasar manusia yang mana menjadi tanggung jawab pribadi itu sendiri.

Tugas pertama Anda adalah mengenalkan anak-anak pada konsep kebutuhan ini.

Bukankah sejak anak lahir, ia begitu lahap menyusu kepada ibunya?

Kenapa setelah besar ia mulai malas makan, perlu dibujuk dan kita sebagai orangtua seperti berolahraga saat harus menyuapi anak?

Penyebabnya, karena kita selalu meminta dan menyuruh anak-anak untuk makan.

Ketika mereka terbiasa untuk disuruh, di benaknya muncul pemikiran bahwa makan bukanlah kebutuhanku.

Melainkan, untuk memuaskan hati orangtuaku.

Tapi, kalau tidak disuruh kan anak bisa tidak makan?

. . jerit seorang ibu yang sedang membaca tulisan ini.

Itulah kenapa, kami meminta Anda untuk mengenalkan konsep kebutuhan.

Bahwa makan adalah kebutuhan dasar manusia.

Makanan dan minuman adalah energi bagi manusia untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Tunjukkan kepada anak sebuah contoh . .

lihat robot atau boneka ini. Dia juga membutuhkan energi supaya bisa bersuara. Energi yang dibutuhkan boneka dan robot ini bersumber dari batu baterai. Batu baterai sama dengan makanan dan minuman bagi manusia.

Sikap ini bisa Anda terapkan pada anak-anak yang sudah bisa diajak berkomunikasi.

Namun, kita bisa mulai ajarkan kepada anak untuk makan sendiri sejak mereka mampu memegang sesuatu.

Di tahap awal, kenalkan mereka pada makanan kering, seperti biskuit.

Minta dia untuk memegangnya dan contohkan padanya cara memasukkan biskuit ke dalam mulutnya.

Karena anak yang mampu memegang sesuatu biasanya juga mulai meniru tingkah laku orang lain yang dilihatnya.

Tiap kali makan besar, ngemil atau minum, biasakan ia untuk duduk manis di meja makan.

Dan, jangan lupa untuk mendampingi mereka ketika makan.

Ingat . .

meskipun Anda sedang mengajarkan kemandirian, mereka masih anak kecil yang butuh bantuan dan bimbingan dari orangtuanya.

Membuat anak betah duduk manis di meja makan memang bukan pekerjaan mudah.

Baru duduk satu menit, mereka bisa turun dan bermain sekehendak hatinya.

Solusinya, pusatkan perhatiannya pada meja makan.

Misalnya, dengan menggunakan peralatan makan yang menarik, menu makan bervariasi atau menghindarkan anak dari mainannya.

Apabila ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya, tentu saja mereka tidak akan mampu untuk duduk sopan di meja makan.

Jadi, usahakan untuk tidak menonton tv atau ada anggota keluarga lain yang sedang beraktivitas khusus yang mampu memecah perhatiannya dari makanan.

2. Membiasakan Makan Bersama

Cara mengajari anak makan sendiri adalah membiasakan makan bersama dengan seluruh anggota keluarga.

Namun, sayangnya tak semua orangtua mau menerapkannya.

Orangtua tidak mau repot!

Ayah lebih sering makan dulu, sedangkan ibu menjaga adik.

Kemudian, ibu gantian untuk makan dan ayah menjaga adik.

Selanjutnya, adik makan sendiri disuapi ibu sembari nonton tv dan bermain.

Kalau tidak begitu, biasanya adik makan sendiri ditemani nanny, sedangkan orangtuanya asyik makan berdua.

Dengan cara seperti ini, makan jadi lebih efisien secara waktu.

Karena kalau harus makan bersama-sama di meja makan, anak biasanya butuh waktu lebih lama dan makanannya pun bisa tumpah mengotori taplak meja.

Orangtua bijak Indonesia . .

itulah harga yang harus Anda bayar ketika menginginkan anak jadi mandiri sejak dini.

Selain itu, apabila sejak awal Anda dan pasangan membiasakan makan bersama di meja makan, maka di benaknya akan tertanam bahwa makan itu menyenangkan.

Duduk bersama dengan orangtua yang perhatian, memberikan contoh tata cara makan yang sopan dan bercerita tentang bagaimana makanan itu bisa tersaji di meja makan adalah tips mudah terkait cara mengajari anak makan sendiri.

Anda bisa menggunakan peralatan makan yang menarik, aman dan tidak mudah pecah.

Sehingga, Anda tidak perlu khawatir apabila anak menumpahkan makanan atau menjatuhkan piringnya.

3. Variasi Menu Makanan

Supaya anak kita lahap dalam mencerna makanan, Anda perlu menjadi orangtua yang kreatif terkait dengan menu makanan.

Sama seperti orang dewasa, apabila anak diberikan menu makanan yang sama terlalu sering, maka mereka bisa malas menyantap makanannya.

Orangtua yang tidak mau repot . .

biasanya akan memberikan makanan instan, seperti mi instan atau junk food. Sekali mulut anak mengenal rasa gurih dari bumbu mi instan atau junk food, maka mereka akan kesulitan menghentikan keinginannya untuk makan makanan instan lagi.

Ketika hal ini terjadi, mereka tidak akan peduli entah makanan itu bergizi atau tidak.

Yang penting enak dan nikmat di mulut anak-anak.

Oleh karena itu, orangtua harus bersedia untuk senantiasa belajar terkait menu makanan anak.

4. Mencoba Suasana Baru

Ketika diajak ke pantai atau ke restoran, anak menjadi lebih lahap dalam menyantap makanannya.

Kita sering menduga, hal ini disebabkan oleh makanannya yang enak karena buatan koki restoran.

Padahal, sama seperti orang dewasa, anak juga bisa mengalami kebosanan terhadap suasana makan.

Membiasakan makan bersama dengan orangtua di meja makan memang baik.

Tapi, sesekali Anda bisa mengajak mereka untuk makan di luar.

Karena suasana baru bisa menimbulkan semangat baru, bukan?


Setelah Anda membiasakan keempat tips di atas sejak dini, kami yakin bahwa anak akan menyukai aktivitas makan dengan sendirinya.

Anda telah mengajarkan bahwa makan adalah kebutuhan dasar manusia.

Jadi, apabila anak menolak untuk makan, hindari menyuruh ataupun memaksa.

Sebaiknya, tanyakan padanya apakah sedang tidak enak badan, mengalami sakit pada gigi dan gusi atau ada alasan lainnya.

Apabila tidak ada alasan khusus atau ia terlihat sedang malas makan, biarkan saja.

Berikan kesempatan bagi mereka untuk menikmati waktunya.

Tidak perlu khawatir apakah ia akan sakit karena telat makan.

Karena ia telah belajar konsep kebutuhan, maka ketika ia lapar, ia akan makan dengan sendirinya.