Bagaimana Cara Mengatasi Anak Introvert Supaya Bisa Sukses?

 

cara mengatasi anak introvert

Bagaimana cara mengatasi anak introvert supaya bisa sukses? Pertanyaan ini seolah menganggap anak-anak dengan kepribadian introvert sulit berkembang menjadi diri sendiri dan sukses.

Benarkah demikian?

Orangtua bijak Indonesia, anak-anak kita lahir membawa kepribadian unik yang terbentuk berkat sifat bawaan lahir, pola asuh keluarga dan lingkungan yang mereka tinggali.

Jangan cemas dan marah hingga mendorong Anda memaksakan kehendak kepada anak introvert agar berubah menjadi extrovert.

Kenapa?

Karena anak introvert pun bisa sukses!

Sebelum melanjutkan penjelasan cara menangani anak introvert agar tetap percaya diri menjadi diri sendiri dan mampu merih sukses, kita bahas dulu ‘anak introvert itu yang seperti apa sih?’

Ciri Anak Introvert

1. Lebih Suka Sendiri

Menyendiri adalah ciri yang paling kentara dari anak introvert.

Apa itu salah?

Tidak.

Anak introvert bukannya depresi atau muak dengan keadaan.

Mereka juga tidak antisosial.

Itulah karakternya dan mereka bahagia dengan itu.

Anak introvert memang cenderung pendiam, tapi sesungguhnya ia memiliki pikiran yang paling ‘cerewet’ dibanding anak extrovert.

Apabila si extrovert mengalami stress atau tertekan dengan masalah tertentu, mereka akan mencari teman atau tempat untuk bermain.

Tapi, si introvert lebih suka menenangkan diri dan mengembara sejauh mungkin bersama pikirannya.

Ya, anak-anak kita yang memiliki kepribadian introvert cenderung menikmati me time dengan bercakap-cakap dengan pikirannya sendiri.

2. Tidak Suka Basa Basi

Apalagi berbasa-basi dengan orang asing.

Anak introvert di sekolah misalnya, mereka lebih suka membangun kedekatan yang dalam dengan beberapa teman dibandingkan memiliki banyak teman tapi tidak bermanfaat.

Saat anak introvert mengenal seseorang dan merasa nyaman dengan kedekatan itu, mereka bisa heboh, cerewet serta mampu menceritakan apapun.

Artinya, introvert tidak sama dengan pemalu.

Mereka hanya ingin membahas hal-hal penting dengan orang yang dekat dengannya.

Sayangnya . .

Banyak orangtua menganggap introvert adalah pemalu dan pendiam.

Sehingga, perlakuan yang kita berikan cenderung mendorongnya untuk berani bicara dan bergaul dengan lingkungan baru.

Anak-anak introvert akan tersiksa dan merasa menderita dengan perlakuan semacam ini.

3. Ekspresinya Manaaa?

Tidak hanya Anda yang menganggap si introvert tak punya ekspresi.

Hampir sebagian besar orangtua menduga, anak-anak ini sulit menunjukkan emosinya.

Saat marah tidak kelihatan.

Saat sedih seperti biasa saja.

Saat bahagia pun tidak bisa ditebak.

Sehingga, sulit bagi orangtua untuk menebak apa yang dirasakan oleh anaknya.

Anak extrovert akan langsung meluapkan ekspresinya melalui emosi dan kata-kata.

Itulah kenapa extrovert begitu identik dengan istilah ekspresif.

Sedangkan, si introvert lebih memilih menyimpan sementara ‘ekspresi’nya itu untuk diolah di dalam pikirannya.

Selanjutnya, mereka akan mengungkapkan respon setelah memikirkannya sebentar.

4. Menggemari Kegiatan yang Tidak Membutuhkan Banyak Percakapan

Bukannya tidak suka mengobrol.

Bukannya tidak suka bercerita.

Mereka menyukai kedua hal itu.

Hanya saja, anak-anak introvert membutuhkan media yang berbeda dengan anak ekstrovert.

Extrovert tidak akan bermasalah jika harus bermain atau berkegiatan dengan banyak orang.

Extrovert pun menyukai kegiatan yang membuat mereka lebih leluasa dalam mengungkapkan pendapat dan perasaannya.

Tapi, introvert kita berbeda . . 

Mereka lebih suka kegiatan ‘tenang’ yang memberikan kesempatan untuk berpikir lebih dalam sendirian.

Kegiatan umum yang paling digemari introvert biasanya, menulis, membaca, bersepeda, melukis, memancing dan lain-lain.

Kegiatan semacam itu bagaikan surga bagi mereka karena mampu membebaskan dan menenangkan pikirannya.

5. Tidak Memiliki Banyak Teman

Anda bisa hafal siapa saja nama teman anak.

Karena introvert memang tidak memiliki banyak teman.

Mereka lebih memilih satu atau dua orang teman yang mampu memberikan kenyamanan.

Saat itu ditemukan, ia akan membagi semuanya kepada temannya tersebut.

Introvert malas untuk berteman dengan banyak orang.

Tapi, bukan berarti mereka tidak pandai bersosialisasi.

Bagi introvert, kualitas lebih penting daripada kuantitas.

6. Paling Betah Kalau di Rumah

Anak yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah menjadi impian sebagian besar orangtua.

Tapi, saat anak benar-benar berada di rumah sepanjang hari bahkan minggu, hal ini tentu saja membuat Anda khawatir.

Apabila 5 ciri di atas telah ditunjukkan oleh anak dan Anda mendapati bahwa ia juga lebih suka menikmati waktunya di rumah, tidak perlu khawatir lagi.

Karena itu berarti ia adalah si introvert.

Usia pra sekolah dan sekolah adalah masa-masa dimana mereka begitu menyukai kegiatan di luar rumah.

Terutama untuk mengexplore lingkungan rumah, sekolah dan teman-teman sebayanya.

Si introvert pun menyukai hal ini. Tapi, tidak sesering yang dilakukan si extrovert.

Lalu, apa yang menjadi penyebab anak introvert?

Seperti yang kami ungkapkan di awal tulisan.

Kepribadian anak terbentuk berdasarkan sifat bawaan lahir, pola asuh orangtua dan lingkungan tempat ia tinggal.

Pola asuh over protective bisa menumbuh suburkan kepribadian introvert. Meskipun Anda melakukannya karena takut kalau anak terluka.

Tapi, terlalu banyak mengekang anak justru bisa membuat anak jadi manja dan tidak mandiri.

Kegiatan apapun yang ia lakukan atau masalah apapun yang ia hadapi, anak dengan pola asuh over protective cenderung menggantungkan diri pada orangtua.

Inilah yang kemudian menjadikannya malas berusaha dan bergaul.

Selain itu, latar belakang introvert pun bisa dipengaruhi oleh lingkungan.

Misalnya, orangtua tidak mendukung kegiatan anak di luar rumah.

Cara Mengatasi Anak Introvert

Tahukah Anda siapa Audrey Hepburn?

Ia adalah seorang model dan artis asal Inggris yang lahir pada 1929.

Kala itu, ia sangat populer dengan puluhan filmnya yang laris di pasaran.

Bahkan ia dinobatkan sebagai Fashion Icon dunia di jamannya.

Dengan kecantikan dan keanggunannya, bintang film Breakfast at Tiffany’s ini mendulang kesuksesan luar biasa dan memboyong beragam nominasi.

Kenapa kami tunjukkan hal ini?

Apa hubungannya dengan tulisan ‘cara mengatasi anak introvert?’

Dalam suatu kesempatan, Audrey Hepburn mengaku . .

Aku adalah seorang introvert. Aku suka sendirian sekalipun itu di luar. Menyusuri jalan dan berbincang dengan anjingku. Menikmati pepohonan, bunga dan langit.”

Ia adalah salah satu contoh anak introvert yang sukses.

Siapa bilang introvert itu depresi, aneh, tidak pandai bersosialisasi?

Ini ada contoh anak introvert yang katanya ‘antisosial’, tapi malah jadi artis.

Baca Juga, Audrey Hepburn, Albert Einsten hingga Nabi Muhammad SAW adalah Seorang Introvert

Padahal, artis begitu dekat dengan istilah ‘ekspresif’ yang menjadi ciri dari anak extrovert.

Padahal, artis memiliki pergaulan luas dan sering berada di lokasi ramai saat shooting.

Artinya . .

Seorang anak introvert apabila bertemu dengan pola asuh atau penanganan yang tepat dari orangtua dan lingkungannya, ia mampu bersinar.

Ia akan tetap membawa ke-introvert-annya itu.

Ia tetap menjadi diri sendiri dan mampu menggapai suksesnya.

Lalu, bagaimana cara mengatasi anak introvert ini supaya tetap percaya diri dan mengenal potensinya?

Langkah 1: Hindari Pola Asuh Over Protective

Menjaga dan menghindarkan anak dari faktor-faktor yang bisa membahayakan masa depannya itu penting.

Tapi, jangan berlebihan.

Karena kekangan berlebihan terhadap anak bisa menimbulkan dampak buruk.

Manja, tidak mandiri, tidak berani sendiri, merasa tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri.

Itulah beberapa sikap yang muncul jika Anda menerapkan Pola Asuh Over Protective.

Seorang anak yang introvert apabila bertemu dengan over protective, maka ia akan semakin tenggelam dalam kesendirian nan kelam.

Karena ia mudah menggantungkan diri pada orang lain, ditambah dengan hobinya yang suka ‘sendirian’, maka ia akan kesulitan mencari minat dan potensinya.

Ia cenderung malas berusaha dan bergaul.

Ini diakibatkan oleh orangtua yang tidak memberikan keleluasan pada anak dalam berpendapat dan memilih.

Akhirnya, ia akan ‘pasrah’ dengan masa depannya.

Sebagai orangtua . .

Anda perlu memberikan aturan yang jelas pada anak.

Tapi, Anda harus melibatkan anak saat membuat aturan tersebut.

Apakah ia setuju atau keberatan. Jika keberatan, aturan seperti apa yang diinginkan oleh anak.

Dan, minta ia menjelaskan kenapa ayah atau ibu harus menerima pendapat itu.

Langkah 2: Membiarkannya Sendiri Menikmati Waktunya

Yang orangtua biasa lakukan saat melihat anak sendiri adalah menganggapnya pemalas.

Kemudian, Anda mendorongnya untuk beraktivitas  di luar rumah.

Bukannya semangat, anak introvert justru muak dengan perintah semacam ini.

Ia sedang menikmati waktu dan mengembara bersama pikirannya.

Itulah surga anak introvert.

Jadi, hindari berkomentar dengan nada menyakitkan, “Lagi ngapain kamu. Bengong aja kerjaannya” atau “Jangan jadi anak kudet dong. Main-main keluar sana” atau “Kalau bengong terus, mau jadi apa nanti?”

Alih-alih bertanya atau berkomentar tentang apa yang dilakukan anak introvert, lebih baik dekati dan temani ia.

Apakah ia sedang membaca, menulis, menggambar, sibuk dengan mainannya, Anda cukup duduk di sampingnya dan memperhatikan.

Jika anak merasa terganggu dengan kehadiran Anda, ia akan berdiri dan meninggalkan Anda.

Saat itu terjadi, biarkan ia pergi dan jangan berusaha mengganggunya.

Langkah 3: Mengembangkan Bakatnya

Inilah cara terbaik membuat anak introvert menghidupkan hidupnya.

Dengan mengenali dan mengembangkan bakat anak, mereka tidak lagi menyendiri tanpa arti.

Pada umumnya, minat dan bakat anak introvert berkaitan dengan profesi ‘dibalik layar’.

Misalnya, penulis, pelukis, sutradara, dubber, penulis naskah drama, cameraman dan lain-lain.

Namun, hal ini tidak bisa Anda jadikan rumus dalam membantu anak introvert menemukan bakatnya.

Seperti contoh di atas, Audrey Hepburn adalah seorang introvert.

Tapi, ia justru berkarir sebagai artis yang sering tampil di depan banyak orang.

Artinya, tidak semua introvert harus berkarir dalam bidang yang tidak mengharuskan ia tampil di depan umum.

Oleh karena itu, Anda perlu hati-hati dalam membantu mereka menemukan bakat.

Anda harus lihat keseharian anak . . 

Hal apa yang paling sering ia lakukan saat memiliki waktu luang?

Pertanyaan jenis apa yang paling sering ia tanyakan saat bepergian dengan Anda?

Silahkan baca ‘Cara Mengetahui Minat dan Bakat Anak’ untuk menemukan bakat anak introvert Anda.

Langkah 4: Membangun Komunikasi Efektif

Anda mungkin kesulitan membaca emosi anak introvert.

Karena ciri khas mereka adalah pandai menyembunyikan ekpresinya saat tertekan, sedih, marah dan segudang perasaan lain.

Apabila anak mengalami masalah, tentu Anda akan kesulitan dalam menggali informasi.

Tidak hanya menyembunyikan ekspresinya, mereka juga akan diam apabila tidak menemukan kenyamanan dengan lawan bicara.

Jadi, Anda harus mampu membangun komunikasi efektif dengan anak sejak dini.

Bagaimana caranya?

  • Memberikan pujian saat ia melakukan hal baik meskipun sepele
  • Memberikan hukuman yang sesuai saat anak melakukan kesalahan
  • Meluangkan waktu terbaik Anda untuk berbincang dengan anak
  • Saat berbincang, terapkan 2 kali mendengar dan 1 kali berbicara
  • Saat berbincang, libatkan diri secara total. Jangan mendengarkan sembari bermain gadget atau melakukan aktivitas lain
  • Mendorong anak untuk aktif berbicara, seperti sering menanyakan pendapat dan lain-lain
  • Memperhatikan bahasa tubuh karena ia bicara lebih jujur dibandingkan dengan apa yang keluar dari mulut anak

Langkah 5: Membangun Kepercayaan Diri Anak

Dibumbui mitos bahwa introvert tidak mungkin sukses karena tidak pandai bergaul.

Membuat banyak orangtua skeptis memandang masa depan anak.

Orangtua bijak Indonesia, hindari bersikap seperti ini.

Karena hal ini akan mempengaruhi psikologis anak.

Bagaimana anak bisa percaya diri jika orangtuanya tidak yakin anaknya mampu?

Oleh karena itu, optimislah.

Tularkan sikap optimis Anda kepada anak introvert.

Katakan padanya, “Ayah bangga sama kamu, nak” atau “Ibu tahu kamu bisa” atau “Semangat nak, ayah dan ibu selalu mendukung dan menyayangimu”

Jangan hanya bicara.

Tapi, imbangilah ungkapan kasih sayang tersebut dengan mengantarkan anak pada lingkungan tepat yang mampu memompa kepercayaan dirinya.


Orangtua Bijak Indonesia . .

Terimalah anak dengan segala ‘aksesoris’ yang menempel dalam dirinya.

Hindari mengubah warnanya jika itu bukan sifat atau sikap yang buruk.

Apakah ia introvert atau extrovert, Anda bisa membimbingnya pada kebaikan dan kesuksesan.

Semua tergantung pada pola asuh orangtuanya.