Bagaimana Mengajarkan Anak Mengatasi Bullying di Sekolah?

cara mengatasi bullying di sekolah

Dampak bullying yang mengancam harga diri, kepercayaan diri, terisolasi dari pergaulan hingga performa belajar yang merosot menyebabkan orangtua khawatir dengan lingkungan anak di sekolah.

Bahkan dalam beberapa kasus, anak yang tak kuat menerima bullying lebih banyak menyendiri, depresi hingga bunuh diri.

Begitu berbahayanya dampak bullying ini, sehingga Anda perlu mengajarkan kepada anak yang terlanjur menjadi korban tentang bagaimana cara mengatasi bullying di sekolah.

Sebelum itu, perlu Anda ketahui penyebab kenapa seseorang bisa menjadi pembully.

Sehingga, solusi bagaimana mengajarkan anak cara mengatasi bullying di sekolah bisa lebih mudah tercapai karena telah disesuaikan dengan kondisi dan situasinya.

Penyebab pertama seseorang menjadi pembully adalah rasa tidak suka terhadap korban.

Entah itu karena korban lebih pintar, cenderung aneh, suka berbicara out of topic hingga terkesan lemah.

Sedangkan, si pembully memiliki otoritas yang lebih besar, merasa superior karena anak orang kaya atau lebih berkuasa karena memiliki banyak teman.

Penyebab kedua adalah pelaku merasa senang dengan perbuatan membully tersebut.

Saat tak sengaja melakukannya untuk pertama kali, ia merasakan kesenangan.

Sehingga, ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi. Meskipun itu bukanlah perilaku terpuji.

Penyebab ketiga ini masih berkaitan dengan sebab sebelumnya, yakni muncul perasaan berkuasa seolah-olah pelaku adalah pemegang kendali.

Apabila perasaan semacam ini tidak segera disingkirkan dari benak anak, maka saat dewasa ia bisa tumbuh menjadi orang serakah.

Ia takkan peduli dengan kebutuhan atau nasib orang lain demi tujuan pribadinya.

Penyebab keempat seseorang menjadi pelaku adalah ingin mendapatkan popularitas.

Dengan melakukan bully terhadap temannya, muncul rasa bangga karena ia berkuasa, sehingga pengikut (temannya) akan bertambah.

Selanjutnya, ia akan berlagak seperti public figure yang terkenal.

Perilaku seperti ini adalah ciri dari anak yang jarang mendapatkan perhatian dari orangtuanya.

Sehingga, ia mencari perhatian lain dengan cara negatif.

Cara Mengatasi Bullying di Sekolah

1. Komunikasi dengan Anak

Setelah mengamati perilaku anak Anda dan terlihat ciri-ciri dia terkena bullylangkah pertama yang harus diambil adalah bertanya kepada anak Anda.

Hindari untuk bertanya secara langsung, seperti “Kak, ada yang gangguin kamu di sekolah ya?”

Pertanyaan semacam itu akan menekan psikologis anak yang membuatnya menghindar dan menutup diri.

Anda pun tidak perlu mencari waktu khusus atau berbicara berdua secara tatap muka. Karena kondisi seperti itu mirip interogasi yang membuatnya tak nyaman untuk bicara.

Orangtua bijak Indonesia, tips untuk menggali informasi dari anak adalah dengan menciptakan kenyamanan terlebih dahulu.

Misalnya, saat Anda berkendara dengan anak. Alih-alih menikmati perjalanan, manfaatkan waktu itu untuk bertanya ringan.

Gimana kak sekolahnya, kamu suka kan?

Apabila anak menjawab ia benci dengan sekolah, gali lebih dalam pernyataan tersebut. Apa yang membuatnya benci atau apa yang membuatnya malas.

Apakah materi pelajaran, guru kelas atau teman-temannya.

Untuk bisa mendapatkan informasi yang jelas, perhatikanlah bahasa tubuh anak.

Karena bahasa tubuh anak mengungkapkan apa yang tidak diungkapkan oleh mulutnya.

Seorang anak yang benar-benar terkena bullying akan memperlihatkan bahasa tubuh gelisah, takut, bingung dan khawatir.

Berikut adalah contoh bahasa tubuh yang mungkin ditampilkan.

  • Menyilangkan tangan di belakang tubuh (gelisah)
  • Sibuk memainkan benda saat berbicara (gelisah)
  • Sering mengedipkan mata saat berbicara (gelisah, berpikir keras)
  • Mengucek-ucek mata seolah gatal (bingung)
  • Menyentuh bagian muka tertentu saat berbicara (berbohong, berusaha menutupi kenyataan)
  • Menyentuh bagian leher belakang (merasa terancam)

Anda juga bisa memanfaatkan waktu bermain anak untuk bertanya.

Misalnya, Anda melihat anak asyik memainkan gadget sendirian. Cobalah mendekatinya dengan bertanya tentang aktivitasnya terlebih dahulu.

“Wah, lagi main apa nih? Seru banget kelihatannya”

Bukalah pernyataan atau pertanyaan yang membuatnya nyaman untuk berbicara terlebih dahulu.

Ciri anak yang nyaman berbicara dengan orangtua adalah mau menjawab dengan antusias dan memberikan pertanyaan balik atau meminta pendapat Anda.

Jika 2 tanda itu sudah muncul, galilah informasi tentang sekolahnya.

Tentang perasaannya di sekolah serta hubungannya dengan guru dan teman-temannya.

Setelah anak mulai terbuka dan mau menjawab tentang kendalanya di sekolah, termasuk kasus bullying yang dialaminya, tenangkan anak Anda.

Berikan pelukan, belaian lembut untuk kepala atau bahunya, elus tangannya dan katakan pada anak bahwa semua akan baik-baik saja.

Kakak boleh nangis supaya lega. Sekarang, kakak lebih kuat dan berani menghadapi teman-teman di sekolah. Kita hadapi sama-sama ya?

Berusahalah untuk menatap mata anak saat menyatakan kalimat di atas.

Karena bentuk penguatan itu akan membekas di pikiran anak dan membuatnya merasa tenang serta mampu menghadapi masalahnya.

Bekerja samalah dengan pasangan Anda untuk menguatkan mental anak.

Ajari ia 3 langkah berikut agar tetap semangat menjalani hari-hari di sekolah.

  • Hindari bengong atau pergi sendiri, meski itu hanya ke kamar mandi, ruang guru atau perpustakaan. Jika terpaksa harus sendiri dan tiba-tiba pelaku bully beraksi, minta anak untuk melawan secara verbal, misalnya dengan berkata, “Jangan ganggu aku.”
  • Bantu anak untuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Karena berhubungan baik dengan banyak teman, bisa menghindarkannya dari bullying.
  • Bekali anak dengan ilmu bela diri, seperti karate atau silat.

2. Gali Informasi Melalui Teman Si Anak atau Barang Pribadinya

Seorang anak takkan mampu menyimpan rahasia bullying sendiri.

Ia yang mengalami bullying, kemungkinan besar akan bercerita kepada seseorang atau ‘sesuatu’ yang mampu membuatnya merasa lega.

Jadi, cara mengatasi bullying di sekolah yang kedua adalah mendekatkan diri Anda dengan teman dekat anak Anda.

Agar anak Anda tidak marah atau malu apabila orangtuanya menginterogasi teman dekatnya, mintalah teman dekatnya untuk merahasiakan pertemuan tersebut.

Informasi selanjutnya bisa Anda dapatkan dari smartphone atau gadget lain yang dimiliki anak.

Disana, Anda bisa mengecek history atau bekas laman yang telah dibuka anak Anda.

Apabila berkaitan dengan bullying, misalnya anak mencari ‘tips mengatasi bullying di sekolah’ atau ‘supaya berani menghadapi teman sekolah’, maka benar bahwa ia sedang mengalami kendala dengan teman-temannya.

Manfaat dari menggali informasi melalui gadget atau teman dekatnya adalah menguatkan pengakuan anak.

Meskipun anak telah memperlihatkan bahasa tubuh tak nyaman dan menyatakan ia kena bully, Anda masih perlu melakukan konfirmasi dengan pihak lain.

Karena bisa jadi anak tidak terkena bullying, melainkan occasional conflict dengan teman sebaya.

Occasional conflict adalah pertengkaran yang wajar diantara teman-teman sekolah.

Justru, anak akan belajar mengatasi masalah untuk mendewasakan mentalnya.

3. Menghubungi Pihak Sekolah

Cara mengatasi bullying di sekolah selanjutnya adalah berdiskusi dengan pihak sekolah, khususnya guru pembimbing anak.

Mintalah waktu pribadi dengan guru tersebut guna membicarakan kasus yang dihadapi anak Anda.

Pertanyaan pembuka yang bisa Anda ajukan adalah tentang perkembangan anak di sekolah.

Bagaimana anak Anda menjalani kegiatan belajar mengajar di sekolah, apakah ia terlihat antusias atau malas?

Apakah di sekolah ia tergolong mudah beradaptasi, memiliki banyak teman atau lebih suka menyendiri?

Apakah di dalam kelas saat Bapak atau Ibu guru menjelaskan, ia aktif bertanya, cenderung diam atau sering diolok-olok oleh temannya?

Dan, pertanyaan lain yang Anda anggap perlu dan berkaitan.

Setelah pihak sekolah memberikan jawaban, Anda bisa mengungkapkan apa yang diceritakan oleh anak Anda tentang bullying yang ia hadapi.

Berikan juga bukti berupa pernyataan dari teman anak Anda atau history dari smartphonenya.

Anda tidak perlu meminta sekolah atau guru pembimbing untuk menjaga anak Anda dengan ketat.

Hal ini justru akan membuat anak tidak nyaman atau membuat teman-temannya iri karena anak Anda mendapatkan perlakuan khusus. Dampak buruknya, ia bisa semakin dibully.

Jadi, cukup minta kerjasama dan komitmen dari pihak sekolah untuk melakukan sosialisasi kepada murid-murid tentang bullying.

Kenapa hal ini harus dilakukan?

Karena banyak dari pelaku yang tidak mengetahui bahwa perilakunya tersebut tergolong dalam bullying.

Perkenalan dengan bullying juga harus dilengkapi dengan contoh-contoh perilaku bullying dan dampak negatifnya terhadap korban maupun pelaku.

Selain itu, minta tolonglah kepada pihak sekolah, khususnya guru pembimbing untuk memberikan perhatian lebih kepada anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya di kelas.

4. Menghubungi Orangtua dari Pelaku Bullying

Cara mengatasi bullying di sekolah tidak berhenti sampai di sini.

Setelah bekerja sama dengan pihak sekolah, lanjutkan dengan orangtua dari pelaku bullying.

Tujuan Anda adalah untuk menghentikan sikap pelaku agar dia sadar bahwa sikapnya itu salah.

Serta membuatnya jera dan tidak mengulanginya lagi.

Oleh karena itu, jelaskan sikap anak tersebut kepada orangtuanya secara netral dan hindari untuk menyudutkan si anak.

Kemudian tunjukkan bukti melalui pernyataan anak Anda, pernyataan teman dekat anak Anda, history smartphonenya (jika ada) dan hasil kerjasama dengan pihak sekolah.

Apabila Anda emosi, menyudutkan anak pelaku bullying dan tidak membawa bukti, maka orangtuanya bisa tidak terima dengan tuduhan Anda.

Selanjutnya, kerjasama akan sulit untuk dilakukan.

Tugas Anda hanya menginformasikan perilaku anaknya, bukan untuk menghukum anaknya.

Hukuman yang menjerakan hanya bisa dilakukan oleh pihak terdekat anak.

5. Minta Bantuan Ahli

Tahapan cara mengatasi bullying di sekolah memang tidak sederhana.

Membutuhkan proses cukup panjang dan hasil yang Anda inginkan tidak keluar dalam waktu singkat.

Apabila tahapan pertama hingga keempat belum membuahkan hasil maksimal dan anak terlihat semakin down atau menunjukkan tanda-tanda depresi, sebaiknya pindahkan anak dari sekolah tersebut atau hindarkan dari lingkungan pembully.

Agar kejadian semacam ini tidak terjadi lagi di lingkungan yang baru, Anda bisa mengajak anak ke psikolog, psikiater atau konsultan keluarga.


Bullying membawa dampak negatif yang berbahaya, khususnya pada psikis anak.

Oleh karena itu, jangan terlalu santai dalam menanggapinya.

Seorang ahli bisa memberikan tips khusus untuk anak dalam menghadapi bullyan dari teman-temannya.

Bagaimana menguatkan mental diri, meningkatkan kepercayaan diri anak untuk melawan bullying atau merangkul pelaku bullying.

Kita sudah membahas bagaimana ciri-ciri dari korban bullying dan cara mengatasinya.

Lalu, bagaimana jika anak kita ternyata menjadi pelaku dari bullying?

Silahkan baca, ciri-ciri pelaku bullying.