Bagaimana Cara Mengatasi Kakak Adik yang Sering Bertengkar?

cara mengatasi kakak adik yang sering bertengkar

Cara Mengatasi Kakak Adik yang Sering Bertengkar – Adalah wajar jika kakak dan adik pernah bertengkar saat bersama.

Justru itu bisa menjadi wadah bagi orangtua untuk mengajari mereka bagaimana cara mengatasi masalah.

Selain itu, Anda juga bisa berkaca tentang pola asuh yang Anda terapkan untuk anak-anak.

Bisa jadi penyebab seringnya anak-anak bertengkar adalah sikap Anda yang lebih condong ke salah satu anak.

“Rifkiiii.. jangan nakal dong kalau sama adik. Kamu ini sudah kelas 2 SD kenapa nggak mau ngalah sih sama adik?”

Apakah seperti itu ungkapan yang sering Anda lontarkan ketika kakak dan adik bertengkar karena berebut mainan?

“Ngalah terus. . . ngalah terus”

Kurang lebih seperti itulah perasaan kakaknya.

Orangtua bijak Indonesia .  .

Apakah Anda lebih sering membela, menjaga dan memberikan perhatian lebih kepada anak yang lebih kecil?

Hal itu Anda lakukan karena menganggap ia masih lemah dan lebih membutuhkan bantuan daripada kakaknya.

Kecenderungan inilah yang membuat kakaknya merasa kesal, sehingga sering bertingkah usil terhadap adiknya.

Jika pola semacam ini tidak Anda ubah, maka perasaan iri bisa saja muncul di hati kakaknya.

Perasaan iri atau cemburu yang tidak segera diatasi bahkan bisa terbawa hingga dewasa.

Solusi pertama yang harus Anda lakukan terkait cara mengatasi kakak adik yang sering bertengkar adalah bersikap adil kepada anak-anak Anda.

Tentu saja, berlaku adil bukan berarti memberikan porsi yang sama kepada mereka.

Misalnya, memberikan uang saku sebesar Rp 10.000 kepada anak TK dan SD.

Hal ini tidak bisa dikatakan adil karena Anda tidak melihat kondisinya.

Kakaknya yang sudah lebih besar mendapatkan uang saku yang sama dengan adiknya dimana kebutuhan adiknya lebih sedikit dibandingkan kakaknya.

Jadi, dalam memberikan perhatian serta mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak sesuaikanlah dengan kondisi dan situasinya.

Cara Mengatasi Kakak Adik yang Sering Bertengkar

1. Perbedaan Pendapat

“Batman itu lebih keren daripada Spiderman”, celoteh kakak kepada adiknya.

“Enggak. Spiderman lebih kereennnn”, jawab adik tak mau kalah.

Karakter dari seorang anak adalah selalu ingin terlihat lebih baik daripada yang lain.

Mereka ingin orang lain menganggap bahwa pendapatnya adalah yang terbaik.

Jadi, Anda bisa mendekati keduanya untuk menunjukkan kelebihan dari Batman dan Spiderman.

Jelaskan bahwa pilihan mereka memiliki kekuatan tersendiri.

Katakan bahwa Anda bangga dengan pilihan kakak karena Batman memiliki kelebihan ini dan itu.

Katakan bahwa Anda bangga dengan pilihan adik karena Spiderman memiliki kelebihan ini dan itu.

Pertengkaran anak-anak memang menjengkelkan bagi orangtua.

Tapi, hindarilah untuk mengungkapkan kejengkelan Anda dengan ikut marah.

Tetaplah bersikap tenang dengan menampilkan wajah yang hangat di depan anak-anak.

Karena ekspresi wajah marah disertai amukan Anda melalui kata-kata hanya akan menghambat anak-anak dalam mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

2. Suasana Hati

Saat kakak bermain balap mobil bersama teman-temannya, Anda merasa tenang karena semua terlihat aman.

Tiba-tiba, si kakak kesal karena kalah main.

Ia masuk ke dalam rumah dan melihat sepedanya dipakai oleh adik.

Suasana hati yang tak nyaman karena kalah main dengan teman, membuat kakak sensitif terhadap adiknya.

Ia melampiaskan kekesalan itu kepada adiknya. Dan, pertengkaran tidak bisa terhindarkan.

Cara mengatasi kakak adik yang sering bertengkar karena suasana hati kakak yang tak nyaman adalah memisahkan mereka.

Jika Anda membiarkan, maka kakak bisa lebih ganas dalam melampiaskan emosinya.

Biarkan kakak menyendiri dan menenangkan diri untuk sementara waktu.

Setelah suasana hatinya membaik, Anda bisa mendekati dan menanyakan apa yang terjadi padanya.

Ajarkan padanya untuk mengelola emosi dengan baik dan bagaimana mengungkapkan kemarahan dan kekesalan dengan tepat.

Setelah itu, pertemukan kakak dan adik yang tadi bertengkar.

Posisi Anda adalah sebagai penengah.

Jadi, biarkan kakak dan adik bicara lebih banyak.

Ajarkan kepada kakak untuk menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya dan minta dia untuk menjelaskan bahwa ia tak bermaksud menyakiti adik.

Jangan fokus untuk mencari siapakah yang bersalah.

Karena tujuan dari diskusi ini adalah mengajarkan anak untuk mencari solusi. Selanjutnya, dorong mereka untuk meminta maaf satu sama lain.

3. Lelah dan Mengantuk

Kakak masih ingin bermain, tapi adik sudah lelah dan ingin tidur.

Paksaan kakak tentu saja membuat adik marah. Sehingga, pertengkaran tidak bisa dihindarkan.

Anda tidak perlu langsung turun tangan.

Kami khawatir jika anak terbiasa terus ditolong oleh orangtuanya, maka akan tumbuh perasaan ‘aku aman karena dibela’.

Lama-kelamaan ia akan menjadi manja dan mudah mengadu kepada orangtua.

Yang sering terjadi, ketika anak yang lebih kecil mengadu kepada orangtuanya tentang ulah sang kakak, biasanya orangtua cepat merespon dan meminta kakak untuk berhenti mengganggu adik.

Padahal, belum tentu kakak yang berulah lebih dulu.

Bisa jadi, adik yang mengawali pertengkaran, bukan?

Oleh sebab itu, hindari untuk cepat merespon dan langsung menyalahkan kakak.

Terlalu sering ikut campur dalam masalah anak bisa membuat mereka sulit untuk membuat keputusan sendiri.

Ajarkan kemandirian kepada anak dan bantu ia untuk mengambil keputusan sendiri.

Terkait dengan contoh kasus di atas, Anda bisa mengajarkan adik untuk berkata kepada kakaknya seperti berikut.

Adik, katakan pada kakak ya. Kak, aku sudah lelah main dan mau tidur siang.”

Ijinkan mereka untuk mengatasi masalahnya sendiri.

Namun, jika paksaan kakak sudah berlebihan, misalnya memukul atau mencubit, Anda harus segera melerai mereka untuk menghindarkan pertengkaran fisik yang lebih parah.

Setelah melerai sebuah pertengkaran, akan lebih baik apabila Anda memberikan pilihan sebagai solusinya.

Misalnya, dengan menawarkan diri Anda untuk menjadi partner main si kakak karena adik sudah lelah dan harus istirahat.

4. Sedang Cari Perhatian

Adik bertingkah usil terhadap kakaknya yang sedang belajar ditemani sang ayah.

Ia mengambil bolpoin yang sedang dipakai kakak dan mencoret-coretkannya di buku kakak.

Karena terganggu dengan ulah adiknya, kakak menjerit dan meminta adiknya untuk berhenti.

Jadilah mereka bertengkar.

Melihat hal ini bunda hanya senyum-senyum dan berkata, “si adik sekarang sudah pintar cari perhatian ayah.”

Orangtua bijak Indonesia . . 

Dalam kasus ini Anda tidak perlu marah terhadap adik karena ia sedang mencari perhatian orangtuanya.

Ayah sedang mengajari kakak mengerjakan PR, ibu sibuk melipat pakaian, sedangkan adik bermain sendiri tanpa teman.

Itu tidak mengasyikkan bagi seorang anak.

Oleh karena itu, ia mencoba mengusili kakaknya.

Ayah yang sedang berada di dekat kakak dan adik sebaiknya berhenti sebentar untuk mengajari PR.

Kemudian, raih adik dan katakan, “adik butuh teman bermain ya?” 

Godalah ia bersama kakaknya dan ajak bercanda barang sebentar.

Tidak hanya adik yang kemudian merasa diperhatikan, kakak yang sedari tadi pusing dengan PRnya pun bisa rileks sebentar.

Cara mengatasi kakak adik yang sering bertengkar karena lagi caper seperti kasus ini adalah Anda bisa menyediakan pensil dan kertas untuk adik.

Lalu katakan, “Ayo kita belajar bersama!”

Intinya, libatkan anak-anak Anda bersama.

Jangan terlalu fokus pada anak tertentu dalam satu kegiatan.

5. Rasa Cemburu

Perasaan cemburu terhadap sesama saudara disebabakan oleh orangtua yang tidak berlaku adil.

Sudah kami jelaskan di awal tulisan untuk mengatasi rasa iri pada saudara sendiri, Anda harus mampu memprioritaskan kebutuhan anak yang lebih penting.

Dan, sesuaikan dengan kondisi dari setiap anak.

Cara mengatasi kakak adik yang sering bertengkar adalah dengan memgang prinsip, adil bukan berarti menyamaratakan.

Misalnya, Anda membelikan mainan mobil-mobilan truk kepada anak pertama.

Supaya mereka tidak rebutan, Anda pun membelikan hal yang sama untuk anak kedua.

Padahal, anak kedua Anda lebih menyukai motor-motoran.

Justru Anda disarankan untuk membelikan mainan yang berbeda sehingga, Anda bisa mengajari mereka tentang konsep hak milik.

Saat bermain dengan mainan baru mereka, katakan pada kakak dan adik bahwa tiap orang memiliki hak atas barang tertentu.

Untuk bisa memakai barang tersebut, harus ada ijin dari pemiliknya.

“Ini mainan kakak ya dik. Kalau adik ingin main, harus ijin dulu sama kakak.”

Dengan penjelasan dan arahan seperti ini sejak dini, orangtua bisa menghindarkan mereka dari rasa cemburu terhadap saudara sendiri.