Bagaimana Cara Mengetahui Minat, Bakat dan Potensi Unggul Anak? (Bag. 1)

 

cara mengetahui minat dan bakat anak

Apa itu minat?

Apa itu bakat?

Apa itu potensi unggul?

Apa itu penting bagi masa depan anak?

Dan, apakah orangtua peduli?

Dewasa ini ada banyak orang yang memiliki lebih dari satu bakat atau potensi.

Ada yang pintar menyanyi dan bermain piano sekaligus pandai dalam bidang fisika.

Ada yang pintar karate dan melukis sekaligus menguasai bahasa asing.

Tapi, wawasannya cenderung rata-rata.

Mereka tak menguasai satu bidang secara total. Mereka seolah membagi kemampuannya ke dalam beberapa bidang. Alhasil, mereka tak pernah menjadi expert atau ahli.

Orangtua bijak Indonesia, setiap anak lahir bersama dengan warna uniknya.

Di dalam dirinya ada keinginan dan potensi bawaan lahir yang harus ditemukan dan dikembangkan.

Supaya mereka tumbuh menjadi pribadi yang berhasrat dalam menjalani hidupnya.

Jika diibaratkan dengan benih, setiap anak adalah benih tumbuhan tertentu.

Ada benih pohon mangga, benih cabai merah, benih kacang hijau, benih kencur dan benih tumbuhan lainnya.

Benih itu akan tumbuh menjadi tumbuhan sesuai dengan fitrahnya.

Benih kacang hijau tidak bisa dipaksa tumbuh menjadi pohon mangga.

Benih cabai merah tidak bisa dipaksa tumbuh menjadi pohon salak.

Begitu juga dengan anak-anak kita.

Mereka adalah benih.

Benih khusus yang apabila dirawat sesuai dengan fitrah benihnya, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang total menjalani hidupnya.

Seorang anak dengan benih penyanyi tak bisa diperlakukan layaknya anak dengan benih dokter.

Seorang anak dengan benih peneliti tak bisa dipaksa tumbuh sebagai benih pengacara.

Sayangnya, anak-anak kita tidak lahir dengan membawa ‘cap’ dari Tuhan bahwa ia adalah benih musisi, benih pengusaha, benih ahli gizi, benih fisikawan dan sederet benih profesi lainnya.

Satu rahasia yang perlu orangtua ketahui . . .

Melalui pembawaan diri, cara pandang dan sikap anak, kita mampu melihat benih apa yang ada di dalam diri anak.

Jika memang demikian, kenapa seorang ahli atau expert ini jumlahnya hanya sedikit diantara kita?

Jika diprosentasekan, bahkan jumlahnya tak mencapai 3% dari seluruh populasi manusia di dunia.

Penyebabnya adalah orangtua yang abai dengan potensi unggul anak dan tidak memahami makna kesuksesan yang sesungguhnya.

Memaknai Kesuksesan hanya dari 1 Sudut Pandang

Salah satu penyebab orangtua tidak mau mencari tahu minat, bakat dan potensi unggul anak-anaknya adalah karena mengartikan sukses hanya dari 1 sudut pandang.

Sukses lebih sering dipandang dengan keberlimpahan materi semata.

Sedangkan, aspek lain dalam hidup jarang mendapat perhatian.

Misalnya, apakah seseorang bahagia menjalani kehidupannya, apakah ia bersemangat mengembangkan dirinya, bagaimana ia berhubungan dengan keluarga, teman dan kerabat dekatnya.

Dengan mendapatkan keberlimpahan materi, orang-orang berpikir aspek lain dalam kehidupannya akan mengikuti.

Dengan daya finansial yang lebih, orang-orang berpikir ia akan bahagia.

Pernyataan tersebut kurang tepat.

Karena kesuksesan tidak berhenti pada kekuatan finansial saja.

Melainkan, ada 4 aspek lain yang juga perlu dipenuhi. Barulah, ia bisa dianggap sukses.

5 aspek kesuksesan meliputi aspek finansial, spiritual, kesehatan, hubungan sosial dan pengembangan diri.

Jika memang kaya adalah ciri kesuksesan, maka Robin Williams tidak akan sengaja menggantung dirinya.

Ia begitu terkenal dengan film-film komedi yang selalu masuk daftar Box Office, sehingga mampu mengumpulkan kekayaan berlimpah.

Tapi jiwanya kosong karena tak memiliki visi dalam hidup yang bertumpu pada aspek spiritual.

Jika memang sukses adalah kaya, maka Elvis Presley takkan menjalani hari dengan obat-obatan terlarang dan gaya hidup ‘gila’.

Hingga akhirnya ditemukan tewas bersama ukuran jantung dan livernya yang membesar dua kali lipat dari ukuran normal.

Gaya hidup pilihan Elvis adalah pelampiasan terhadap hubungannya dengan pasangan dan keluarga yang tak berjalan baik.

Masih banyak bukti lain yang menerangkan bahwa kesuksesan bukan datang dari 1 aspek saja.

Melainkan, gabungan dari beberapa aspek yang saling mendukung hingga melahirkan kehidupan seimbang dan menenangkan.

Nasihat Orangtua untuk Anaknya

Pemahaman yang kurang tepat terhadap kata ‘sukses’ membuat kita mengejar materi semata.

Ini tidak hanya terjadi pada diri kita sendiri.

Orangtua kita dulu pun memberikan pandangan yang serupa.

Akibatnya, ketika menjalani hari-hari, entah itu bersekolah, memilih jurusan kuliah, mencari pekerjaan hingga menentukan tujuan hidup, kita hanya bertumpu pada aspek materi.

Masih ingat dengan nasihat orangtua kita?

“Belajar yang rajin supaya nanti jadi orang”

“Belajar yang rajin supaya bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri”

“Belajar yang rajin supaya gampang cari kerja”

“Belajar yang rajin supaya gampang cari uang”

Rumusnya, jika kita belajar dengan rajin, kita akan mudah diterima di universitas dengan jurusan ‘favorit’ yang lulusnya nanti gampang cari kerja.

Nasihat orangtua tidak hanya berhenti sampai disitu.

“Nanti kalau sudah lulus, carilah pekerjaan di tempat yang terpandang. Di perusahaan besar, supaya gajinya besar, hidupmu enak dan terjamin.”

Tidak heran, yang dipikirkan orangtua hanyalah bagaimana membuat anaknya pintar, mudah mendapatkan sekolah, mengambil jurusan yang gampang cari kerja dan berpenghasilan besar.

Dengan rumus seperti ini, asumsinya kita akan bahagia menjalani hidup.

Dengan rumus seperti ini, tidak heran banyak anak yang jika ditanya tentang cita-cita, jawabannya selalu dokter, insinyur, pilot atau pegawai bank.

Pernah bertemu dengan anak yang saat ditanya tentang cita-cita, ia menjawab petani, programmer, penulis, komikus atau sopir truk?

Jika pernah, Anda patut meminta saran kepada orangtuanya, bagaimana mereka bisa mendidik anaknya hingga mampu memiliki cita-cita yang khas semacam itu.

Minat, Bakat dan Potensi Unggul

Jika memang rumus Kaya = Bahagia itu kurang tepat dan terbukti tak mampu membawa kita pada kebahagiaan sejati, bagaimana rumus yang lebih tepat?

Bagaimana caranya kita bisa membantu anak-anak kita sukses sekaligus bahagia?

Di sinilah peran dari minat, bakat dan potensi unggul anak.

Rumus yang tepat adalah Bahagia = Kaya.

Apabila kita memegang rumus Bahagia = Kaya, yang terjadi adalah pola seperti ini:

  • Bersekolah dan menjalani kegiatan sehari-hari bertumpu pada minat dan bakat.
  • Bukan mencari jurusan yang gampang cari kerja. Tapi, mencari jurusan yang membuat seseorang bersemangat untuk menguasainya karena ia cinta. Bukan karena terpaksa.
  • Jika seseorang merasakan kebahagiaan, maka ia akan total dan sepenuh hati menjalaninya.
  • Jika ia berkarya sepenuh hati, ia akan menjadi profesional dengan sendirinya. Ia akan menjadi expert atau ahlinya.
  • Seseorang yang ahli dalam hal khusus adalah yang terbaik. Ia tidak mengejar uang, tapi uang yang akan mengejarnya.

Sekarang Anda perhatikan penyanyi berbakat Indonesia, Agnez Mo.

Ia tidak mengejar materi kemudian menjadi bahagia karenanya.

Ia mengejar apa yang menjadi passion atau hasratnya sedari kecil yang diimbangi dengan potensinya.

Ia fokus mengembangkan potensi unggulnya melalui latihan dan gemblengan.

Ia melalui serangkaian proses yang tidak mudah hingga mampu menjadi seperti sekarang.

Tapi, Agnez Mo mampu melewati itu karena ia terlahir dengan benih penyanyi dan ia pun mencintai profesinya.

cara mengetahui minat dan bakat anak

Hasilnya, seperti rumus Bahagia = Kaya.

Bagaimana jika orangtua Agnez Mo sama dengan orangtua kebanyakan yang hanya memikirkan kekayaan dan tak mengindahkan kepuasan hati anaknya?

Bisa jadi, sekarang kita tak mengenal Agnez dan karyanya.

Bisa jadi, penyanyi kelahiran 1986 itu menjadi pengacara atau teller bank seperti cita-cita kebanyakan orangtua.

Jadi, apa sebenarnya minat, bakat dan potensi unggul itu? Berikut penjelasannya untuk Anda.

MINAT

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat berarti kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, keinginan.

Dalam bahasa Inggris, kita mengenal istilah passion atau keinginan hati yang kuat.

Minat yang lahir dari dalam diri seseorang biasanya sulit untuk dijelaskan, kenapa ia bisa menyukainya.

Saat ditanya, ia hanya mampu berkata, “Ya, suka aja.”

BAKAT

Bakat adalah potensi bawaan lahir.

Meskipun begitu, bakat masih perlu digembleng supaya terbentuk.

Seperti benih pohon yang tidak akan tumbuh jika tak dirawat.

Apabila seorang anak tidak memiliki bakat sebagai musisi, maka sia-sia saja jika Anda terus melatihnya dengan tujuan agar menjadi musisi yang bersinar.

Jadi, biarkan anak bertumbuh sesuai dengan fitrah benih yang Tuhan hadiahkan untuknya.

Bayangkan, jika Chairil Anwar dulu dipaksa ibunya untuk mendalami matematika dan ‘membuang’ bakatnya sebagai penyair.

Apakah ia akan tetap menjadi penyair legendaris yang makamnya dikunjungi ribuan orang per tahunnya dan hari kematiannya dikenang sebagai Hari Chairil Anwar oleh para penggemarnya?

Jawabannya, tentu saja tidak.

Orangtua bijak Indonesia, minat dan bakat biasanya saling berhubungan.

Anak dengan benih dancer, biasanya aktif bergerak dan pandai berlenggak-lenggok mengikuti alunan musik.

Gerakan itulah bakatnya.

Dan, keinginannya untuk bergerak mengikuti musik itulah minatnya.

Yang perlu orangtua sadari . . .

Minat dan bakat adalah sesuatu yang berbeda.

Seseorang yang berminat terhadap sesuatu, belum tentu berbakat di sana.

Minat berhubungan erat dengan perasaan.

Jika Anda senang memasak, bukan berarti Anda berbakat memasak seperti Rudy Choiruddin.

Bakat berhubungan erat dengan hasil.

Anak yang berbakat menjadi chef, jika diajari, maka hasilnya akan sempurna.

Anak yang berbakat menjadi fisikawan, jika digembleng, maka kemajuannya akan pesat.

POTENSI UNGGUL

Seperti pembukaan dalam tulisan ini, saat ini ada banyak orang dengan berbagai keahlian.

Ada seorang anak yang jago memainkan piano, melukis dan pandai dalam hal akademis.

Tapi, kemampuannya cenderung standar.

Potensi unggul adalah potensi terbaik diantara semua potensi itu.

Orangtua bijak Indonesia, potensi unggul inilah yang perlu Anda temukan dalam diri anak.

Ianya adalah hadiah terbaik dari Tuhan yang bermanfaat sebagai sarana menggapai cita-cita.

Ianya adalah seperangkat alat yang apabila diasah dengan baik mampu digunakan untuk meraih harapan.

Kenapa Minat dan Bakat itu Penting?

Untuk orangtua yang masih belum yakin untuk mencari tahu minat, bakat dan potensi unggul anaknya, ada baiknya membaca manfaatnya terlebih dahulu.

Karena dengan mengerti manfaatnya, kita bisa menjadi lebih bersemangat dalam mempelajari sesuatu.

1. Sekolah Anak Menjadi Investasi

Apakah Anda mengenal seseorang yang salah jurusan sewaktu kuliah?

Apakah Anda mengambil jurusan A sewaktu kuliah, tapi kini bekerja dalam bidang yang bertolak belakang dengan jurusan?

Berapa banyak diantara kita yang jurusan pendidikan, tapi berkarir dalam bidang perbankan?

Berapa banyak diantara kita yang jurusan teknik informatika, tapi justru menghindari bidang IT saat mencari kerja.

Apakah Anda keberatan, jika kami menganggap sekolah Anda selama ini sia-sia?

Bahkan cenderung merugikan orangtua Anda yang telah membiayainya.

Karena buktinya, Anda tidak memanfaatkan ilmu yang Anda dapatkan sesuai dengan bidangnya.

Orangtua bijak Indonesia, salah satu manfaat mengetahui minat, bakat dan potensi unggul seorang anak adalah membantu mereka memiliih jalur pendidikan yang tepat.

Dengan cara ini, maka pendidikan atau sekolah anak menjadi sebuah investasi.

Bayangkan!

Tanpa mengetahui minat, bakat dan potensi unggul seorang anak, sekolah yang Anda biayai hingga puluhan bahkan ratusan juta berakhir tanpa cerita.

Biaya itu termasuk sekolah bertahun-tahun, kursus berbagai mata pelajaran agar ia mendapat nilai bagus dan biaya transportasi anak Anda.

Anda tidak hanya kehilangan uang, tapi anak Anda juga kehilangan waktunya yang begitu berharga.

Yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendalami potensinya.

Perhatikan pebulu tangkis Indonesia, Susi Susanti.

Betapa hebat orantuanya yang mampu menemukan potensinya sejak usia dini.

Hingga ia mampu berprestasi dalam usia yang begitu muda.

Orangtua bijak Indonesia. .

jangan sia-siakan waktu anak Anda dengan menjejali mereka berbagai kegiatan yang tak berkontribusi bagi masa depannya.

2. Kebahagiaan, Kepuasan dan Pekerjaan yang Dilakukan Sepenuh Hati

Ciri dari seseorang yang tidak mencintai pekerjaannya adalah selalu menantikan tanggal merah dan membenci hari Senin.

Mereka tidak benar-benar tulus mengerjakan tugas hariannya.

Sekalipun terlihat giat bekerja, itupun terpaksa karena tidak tahu pekerjaan lain yang bisa dikerjakan.

Ia merasa buntu dan menganggap mencari pekerjaan itu sulit.

Akhirnya, ia jalani saja ala kadarnya.

Tipe pekerja seperti ini akan sulit berkembang.

Ia menuntut gaji yang besar, mengeluh karena pekerjaannya berat dan mengumpat atasan yang tidak adil karena tidak memberikan promosi jabatan.

Tapi, ia tidak memandang ke dalam dirinya. Kontribusi apa yang sudah ia berikan ke perusahaan?

Ia tidak menemukan kepuasan dalam karirnya.

Ia tertekan dan tidak bahagia menjalani hari-harinya di tempat kerja.

Yang lebih parah lagi, ia tidak mengerjakan tugasnya dengan sepenuh hati.

Siapa yang dirugikan dalam hal ini?

Bukan hanya perusahaan, tapi orang tersebut juga ikut rugi.

Karena ia menghabiskan waktunya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak ia sukai.

Masih ingat rumus tepat yang seharusnya Anda terapkan untuk anak-anak?

Ya, Bahagia = Kaya.

Dengan menemukan minat dan bakat anak sama dengan Anda membantunya mendapatkan kebahagiaan.

Seseorang yang bahagia menjalani hari-harinya, yang tulus mengerjakan tugasnya bukan semata karena gaji atau bonus akan mendapatkan kepuasaan total.

Kepuasan lahir dan batin.

Karena rasa bahagia dalam mengerjakan sesuatu akan mendorong kita bertindak secara total.

Saat itu terjadi, uang atau bonus akan datang dengan sendirinya.

Orangtua bijak Indonesia, apakah Anda ingin meninggalkan kebahagiaan atau penderitaan untuk anak Anda?

3. Persaingan Dunia Kerja Tidak Bisa Dijebol dengan Kemampuan Standar

Saat Anda membaca tulisan ini, mungkin Anda berpikir,

“Saya tidak tahu minat,bakat dan potensi unggul diri saya. Tapi, sekarang saya bisa sukses.”

“Saya tidak pernah merencanakan kesuksesan. Tapi, saya mampu bertahan dan hidup dengan baik.”

Seorang bijak yang juga sepupu dari Rasulullah SAW. pernah berpesan . .

“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya. Karena ia hidup di jamannya, bukan di jamanmu.”

Apa makna dari ungkapan tersebut?

Orangtua bijak Indonesia, kita tidak bisa menyamakan pola asuh yang Anda dapatkan dari orangtua jaman dulu dengan orangtua di jaman sekarang.

Dulu, Anda hidup pada era dimana persaingan dunia kerja tidak sesengit ini.

Secara fisik, manusia jaman sekarang tumbuh lebih sehat dengan asupan gizi seimbang.

Hal ini berdampak pada kesehatan yang lebih prima, otak yang berkembang secara sempurna, sehingga banyak diantara kita yang mampu berpikir kritis dan kreatif.

Jika anak-anak Anda tumbuh dengan kemampuan standar, maka ke depannya ia akan mudah tergerus jaman.

Di sinilah minat dan bakat mengambil peran.

Dengan memantapkan minat dan bakat anak sama dengan Anda membantunya berkembang bersama potensi terbaiknya.

Potensi terbaik inilah yang akan mendukung anak Anda tetap unggul meski berada di tengah persaingan yang ketat.

Ingat! Kesuksesan seseorang tidak tergantung pada banyaknya kemampuan yang ia miliki.

Justru hal itu hanya akan membuatnya tumbuh menjadi orang yang berkemampuan rata-rata.

Cukup satu kemampuan saja yang diasah secara total hingga mencapai kualitas teratas.

4. Menentukan Tujuan yang Jelas dalam Hidup

Satu kesalahan orangtua yang tidak pernah disadari adalah ‘meremehkan profesi tertentu’.

Kita menganggap profesi yang berkaitan dengan bidang akademis lebih baik daripada profesi lainnya.

Jika anak pandai dalam bidang matematika atau fisika, kita akan mengagung-agungkan hal tersebut.

Dan, mendorong anak untuk giat belajar.

Berbeda dengan anak yang memiliki potensi menari.

Orangtua justru menganggap profesi tersebut tidak akan mampu membawa anak pada kesejahteraan.

“Mau makan apa nanti kalau jadi penari?”

Yang terjadi, kita tidak akan mendukung anak dan melemahkan potensi yang ia miliki.

Orangtua bijak Indonesia, percayalah terhadap rumus Bahagia = Kaya.

Jika anak bahagia, maka ia akan terdorong untuk total menjalani kesehariannya.

Totalitas menghasilkan karya terbaik yang mampu membawa anak pada kesejahteraaan.

Mungkin Anda nanti akan dikejutkan oleh anak Anda setelah mengetahui minat dan bakatnya. Karena potensi yang Tuhan titipkan begitu beragam.

Jawabannya tidak akan sesempit menjadi dokter, guru, pegawai bank, insinyur atau pilot.

Minat dan Bakat juga berkaitan erat dengan tujuan hidup.

Anda tidak bisa bepergian tanpa menentukan tujuan terlebih dahulu.

Setelah mengetahui tujuan, Anda akan berpikir bagaimana cara mencapainya dan dengan apa kita mencapainya.

Hindari untuk menjalani hidup layaknya air mengalir, karena kita tak pernah tahu kemana arus akan membawa diri kita.

Banyak orang yang putus asa karena kelelahan setelah bekerja keras.

Tapi, hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan energi besar yang telah dikeluarkan.

Mereka seolah lari di tempat.

Hanya mengitari siklus yang sama setiap hari.

Terus berlari dan berusaha sekuat tenaga, tapi tak memperoleh kemajuan.

Itu karena mereka tak mengetahui sumber daya apa yang dimiliki dalam dirinya.

Sehingga, ia asal dalam mencari medan untuk ‘berperang’.

Minat, bakat dan potensi unggul membantu kita menentukan tujuan jelas dalam hidup.

Seperti Christiano Ronaldo yang tidak akan mencetak gol jika tak ada gawang.

Layaknya, Daniel Pedrosa yang tidak akan berprestasi tanpa garis finish.

Tujuan atau visi membantu Anda dan anak-anak memilih area untuk berkarya dan bagaimana anak-anak mengerahkan seluruh sumber daya yang ia miliki secara maksimal.

Sehingga, tidak terjadi kesia-siaan potensi yang telah Tuhan titipkan.


Orangtua bijak Indonesia. .

setelah membaca ulasan yang panjang ini apakah pikiran Anda semakin terbuka dan tergerak untuk mencari tahu minat, bakat dan potensi unggul anak Anda?

Jika iya, maka Anda bisa melanjutkan pada halaman berikutnya, Bagaimana Cara Mengetahui Minat, Bakat dan Potensi Unggul Anak? (Bagian 2).

Pada halaman tersebut, Anda akan kami bimbing langkah demi langkah untuk membantu anak menemukan potensi unggulnya.

Tahapan yang kami buat begitu mudah untuk diterapkan. Anda hanya perlu sabar dan konsisten dalam menjalaninya.