Beginilah Cara yang Tepat untuk Menolak Permintaan Anak

cara menolak permintaan anak

Seorang ayah memukul bokong anaknya ketika di mall. Dia terlihat kesal, berang dan memaki anak dengan kalimat, kemarin sudah beli mainan kok beli lagi. Ayo pulang! Jangan nangis di sini.

Anak tersebut tidak mau pulang. Justru cengkeraman tangannya terhadap kaki sang ayah semakin kuat.

Tidak hanya mencengkeram, anak itu pun menangis dengan suara kencang hingga duduk di lantai mall, tepatnya di depan toko mainan.

Karena malu dengan banyaknya orang yang melihat, akhirnya ayah tersebut membelikan mainan untuk anaknya.

Orangtua bijak Indonesia, pernahkah Anda mengalami kejadian tersebut?

Atau setidaknya, pernah melihatnya?

Meskipun hanya ilustrasi, namun faktanya banyak orangtua yang mengalami kejadian serupa.

Anak-anak yang menangis hingga berguling-guling di tempat umum karena keinginannya tidak dituruti oleh orangtuanya.

Sebagai orangtua, kita ingin memenuhi segala keinginan anak untuk membuat mereka bahagia.

Dan, tentu saja karena kita menyayangi mereka.

Tapi, anak kita sendiri terkadang keterlaluan kalau minta-minta.

Selain itu, kita juga bingung bagaimana cara menolak permintaan anak.

Mereka tidak memikirkan keadaan orangtua, apakah situasinya tepat, bagaimana kondisi finansial orangtua hingga tidak menggubris timing yang pas, apakah sesuai dengan kebutuhan mereka atau tidak.

Kalaupun tidak dituruti, tingkah anak-anak ini akan semakin menyebalkan.

Mereka bukan lagi malaikat imut nan manis yang membuat kita gemas, melainkan berubah menjadi setan kecil mengerikan.

Karena jika tidak dituruti, mereka bisa bersikap melebihi batas.

Seperti, menangis berguling-guling atau tidak mau diajak pulang sebelum dipenuhi keinginannya.

Apalagi itu terjadi di tempat umum.

Alamak, malu sekali kita sebagai orangtua . .

Orangtua bijak Indonesia, itulah karakter anak-anak yang kita kasihi.

Mereka belum mampu mengendalikan keinginan.

Perkembangan otaknya pun belum sempurna untuk berpikir tentang bagaimana keadaan ayah dan ibuku? atau apakah aku membutuhkan benda ini atau tidak.

Yang dia tahu hanyalah, aku menginginkannya dan aku harus memilikinya.

Sebagai orangtua, terkadang kita bingung jika dihadapkan dengan kasus semacam ini.

Apabila keinginan anak terus dituruti, kita takut kalau mereka akan mengulang kejadian serupa.

Menggunakan tangisan sebagai alat supaya kita mau memenuhi keinginannya.

Tapi jika tidak dituruti, ia bisa menangis, marah, meronta-ronta di depan umum dan itu membuat kita malu.

Bahayanya Selalu Menuruti Keinginan Anak

Banyak orangtua yang malas untuk memberikan pengertian kepada anak tentang kebutuhan dan keinginan.

Sehingga, mereka cenderung memberikan apa-apa yang menjadi keinginan anak supaya berhenti merengek.

Apakah Anda juga termasuk orangtua yang benci jika anak berisik?

Semoga saja tidak.

Alasan lain orangtua selalu menuruti keinginan anak adalah karena mereka mencintai anak-anaknya.

Kami menyebut ini sebagai cinta yang menjerumuskan.

Karena alasan cinta, tidak ingin melihat anak kesusahan atau tidak suka melihat anak menderita dengan tangisan, akhirnya, sudahlah mah, belikan saja. Apa sih susahnya.

Kalau untuk urusan yang baik dan anak memaksa, maka tidak jadi masalah.

Tapi, bagaimana jika keinginan anak itu belum bisa kita penuhi karena kendala finansial atau usianya belum pantas untuk mendapatkan hal tersebut.

Jika Anda terus menerapkan pola ‘apa sih susahnya, sudah turuti saja’, maka yang terjadi adalah beberapa hal berikut.

1. Komunikasi Tidak Efektif

Hanya dengan sekali tunjuk, anak sudah mendapatkan apa yang diinginkan.

Apakah Anda sering seperti ini?

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun.

Anak semakin dewasa dan komunikasinya dengan Anda menjadi tidak efektif.

Hal ini karena sejak kecil, Anda tidak mengajarinya bagaimana mengutarakan keinginan dengan baik.

Misalnya, anak menunjuk benda tertentu, kemudian Anda mengambilkannya untuk mereka.

Contoh lain, anak menunjuk kamar mandi, kemudian Anda langsung menggendongnya ke kamar mandi.

Sebaiknya, ketika anak menunjuk sesuatu, ucapkan padanya, mau lihat benda ini ya? atau ingin pipis? Ayo ke kamar mandi. 

Ucapan adalah pembelajaran bagi anak-anak.

Bukan hanya tentang menurutinya, tapi Anda juga mendidik mereka untuk mengutarakan maksud dengan benar.

Selain itu, jika hanya sekali tunjuk atau Anda berusaha terus memenuhi keinginan mereka, anak-anak tidak akan mengenal konsep kepemilikan.

Mereka akan menganggap apapun keinginannya adalah haknya.

2. Anak Menjadi Keras Kepala

Semakin Anda mudah mengabulkan kemauan anak, maka mereka akan terdorong untuk meminta sesuatu yang lebih besar.

Anda akan semakin sulit untuk mengarahkan mereka kepada hal yang lebih tepat.

Kenapa?

Karena Anda sudah terbiasa mengalah kepada mereka.

3. Membentuk Pribadi Penuntut

Penuntut adalah salah satu karakter yang cukup berbahaya.

Karena seorang penuntut akan mudah merasa kecewa terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.

Apalagi jika sedari kecil, anak tidak diajari bagaimana mengelola emosi kecewa, maka yang terjadi ia akan mudah stres.

Rasa frustasi pun akan selalu mengiringi langkahnya meskipun ia sedang tidak berada di lingkungan rumah.

Betapa mengerikan dampak selalu menuruti keinginan anak, sehingga Anda patut untuk belajar bagaimana cara menolak permintaan anak sejak dini.

Salah seorang klien kami pernah bertandang ke kantor untuk konsultasi masalah anaknya yang agresif dan mudah marah.

Setelah kami lakukan pengamatan dan ngobrol langsung dengan si anak dan orangtua, di situ terlihat bahwa orangtuanya ternyata begitu memanjakan anak.

Selain itu, kepribadian penuntut juga bisa tumbuh menjadi anak melankolis cengeng dan pasif.

4. Kemampuan Sosial Terhambat

Jika orangtua bijak Indonesia terbiasa dengan pola ngalah terhadap anak, maka anak akan mudah mengalami tantrum.

Atau kondisi dimana anak-anak tidak mampu mengendalikan emosinya yang ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, mengomel marah hingga melawan terhadap upaya Anda menenangkan mereka.

Ciri dari kemampuan sosial terhambat karena selalu keinginannya selalu dituruti adalah anak tumbuh menjadi pribadi tidak sabaran.

Sebagai contoh, ia menyerobot antrian makan di kantin sekolah dan enggan bersabar terhadap temannya.

Sikap yang menonjol dari bahaya ketiga ini adalah hasrat anak menjadi raja kecil yang tidak mau disuruh-suruh.

Mereka akan sulit menerima kewajiban atau tugas yang harus dikerjakan dan sulit diajak kerjasama.

Karena maunya hanya menyuruh.

5. Anak Tidak Memiliki Sikap Empati

Anak yang terbiasa meraih keinginan dengan mudah dari orangtuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit berempati terhadap kesulitan orangtua.

Semakin lama, ia akan semakin tidak bisa memahami situasi dan kondisi orang lain.

Misalnya, ketika anak melihat temannya punya gadget, maka ia akan merengek untuk dibelikan gadget.

Padahal, orangtuanya menganggap dia belum membutuhkannya.

Cara Menolak Permintaan Anak

Satu rahasia yang perlu Anda tahu . .

Anak-anak adalah makhluk yang mudah sekali dibujuk dan dibuat lupa.

Kecuali mereka yang sudah terbiasa dituruti.

Jadi, untuk kasus tersebut Anda harus berupaya ekstra dalam membujuk mereka.

Jika memang demikian karakter anak, seharusnya tidak sulit dong untuk membuat mereka mengerti tentang situasi dan kondisi sebelum meronta-ronta supaya kemauannya dituruti?

Orangtua bijak Indonesia, apakah anak Anda sudah terlanjur mudah tantrum jika keinginan tidak segera terwujud ataukah masih dalam tahap wajar, Anda tetap bisa menjalankan cara menolak permintaan anak berikut.

1. Menganalisa Kebutuhan, Situasi dan Kondisi

Sebelum menuruti kemauan buah hati Anda, perhatikanlah kebutuhannya terlebih dahulu.

Apakah anak sudah membutuhkannya atau belum?

Karena barang yang dibeli tanpa melihat kebutuhan terlebih dahulu hanya akan berakhir sia-sia.

Ingat ya, kebutuhan dan keinginan itu berbeda.

Anda pasti bisa membedakannya, tapi anak Anda belum tentu bisa.

Situasi dan kondisi juga bisa dilihat dari segi orangtua dan anak.

Jika dari segi orangtua, Anda bisa melihat diri sendiri, apakah saat ini ada kebutuhan lain yang lebih mendesak atau tidak.

Sedangkan, jika dari sudut pandang anak adalah kemampuan anak dalam mengelola barang tersebut dan manfaatnya.

Keinginan anak tersulut biasanya dipengaruhi oleh lingkungan, dari teman-teman sekolah, tetangga atau bahkan iklan di televisi.

Jadi, perhatikanlah apakah anak mampu mengelola dengan baik keinginan tersebut.

Hindari untuk membelikan sesuatu dimana kemampuan anak masih belum maksimal dalam mengoperasikannya.

Sikap konsumtif dan hedonis yang kini merebak juga diakibatkan oleh orangtua yang terlalu mudah menuruti kemauan anaknya.

Tanpa melihat kebermanfaatan barang terlebih dahulu, asal anak suka, ya belikan saja.

Alhasil, kita telah menumbuhkan sikap boros dalam dirinya.

Cara menolak permintaan anak memang gampang-gampang susah.

Tapi, apabila Anda terbiasa untuk menganalisa kebutuhan, situasi dan kondisi terlebih dahulu, maka Anda akan lebih mudah memutuskan. Tips pertama ini sangat tergantung pada kebijaksanaan orangtua.

2. Menciptakan Komunikasi Dua Arah

Apabila sedari awal Anda sudah mampu membangun komunikasi yang efektif, maka Anda akan lebih mudah untuk memberikan pengertian kepada anak.

Ya, cara menolak permintaan anak yang kedua adalah memberikan pengertian kepada anak.

Di saat perasaan anak tidak nyaman karena Anda melarangnya melakukan sesuatu atau belum mewujudkan kemauannya, Anda tidak bisa langsung memberikan nasihat atau pengertian.

Anak tidak akan menerima itu.

Justru, anak semakin berontak, marah dan menganggap Anda tidak memahami mereka.

Pertama, dengarkanlah mereka. Kami menyebutnya dengan mendengar aktif. Tanyakan pada anak Anda,

Kenapa kok ngambek?

Kakak marah ya, karena ibu menolak permintaan kamu?

Adik sedih ya, karena ayah nggak mau beliin mainan itu?

Jangan hanya bertanya sambil lalu.

Anak Anda adalah makhluk yang dilengkapi Tuhan dengan perasaan.

Meskipun masih kecil, perasaannya akan terluka apabila Anda bertanya sambil mengerjakan hal lain.

Itulah kenapa kami menyebut ini mendengar aktif.

Karena Anda harus fokus hanya mendengarkannya dan terlibat total dalam pembicaraan secara fisik dan emosi.

Dengarkan perasaannya, perhatikan bahasa tubuhnya dan tataplah matanya.

Ketika Anda memerhatikan bahasa tubuhnya, cobalah untuk menganalisa.

Apakah ia dalam keadaan nyaman dengan Anda atau tidak.

Jika tidak, berusahalah untuk mengimbangi bahasa tubuhnya.

Membungkuklah untuk terlihat sama tinggi dengan tujuan bahwa Anda menunjukkan ketertarikan terhadap ceritanya.

Jika ia sedih dengan memperlihatkan bibir ke bawah, ikutilah mimik muka tersebut.

Itu menunjukkan bahwa Anda mengerti perasaannya.

Apabila anak sudah mau menjawab pertanyaan pertama Anda tentang perasaannya, baru lanjutkan dengan memberikan pengertian.

Cara menolak permintaan anak dengan memberikan pengertian haruslah menggunakan kata-kata sederhana yang mampu dicerna anak dengan mudah.

Berikan penjelasan kenapa Anda menolak atau menunda keinginannya.

Tetaplah berkata jujur, hindari menakut-nakuti dan alasan Anda harus rasional.

3. Memberikan Tantangan untuk Anak

Orangtua bijak Indonesia, Anda mungkin sering menanggap bahwa anak manja karena apa-apa selalu dituruti oleh orangtuanya tanpa ada timbal balik dari anak.

Anda sudah tahu rumusnya, tapi kenapa tidak mencoba menerapkan rumus tersebut?

Tantanglah anak Anda untuk melakukan kegiatan positif yang Anda harapkan atau melakukan kewajiban tertentu.

Kemudian, apabila dia sudah berupaya, memperlihatkan kemajuan bahkan sudah berhasil menyelesaikan misinya, Anda bisa berikan reward kepadanya.

Reward itu bisa berupa mainan yang diinginkan atau kemauan anak yang Anda tunda.

Tapi, jangan lupa untuk memperhatikan tips yang pertama, yakni analisa kebutuhan, situasi dan kondisi.

Baca juga, Mengatasi Anak Nakal yang Susah Diatur

Beberapa waktu lalu, ada seorang ibu bertanya kepada kami.

Anaknya yang kini duduk di tingkat 6 SD ingin memiliki smartphone.

Bagaimana caranya supaya ia tidak asal dapat dan ada usahanya?

Kami memberikan solusi sebagai berikut; orangtua dilarang untuk memberikan smartphone cuma-cuma.

Anak harus dilatih untuk belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu harus ada usahanya terlebih dahulu.

Kemudian, kami meminta ibunya untuk memberikan subsidi 50% dari harga smartphone tersebut.

50% sisanya, harus dibayar sendiri oleh anak tersebut.

Alhasil, anak akan belajar berusaha bahwa tidak semua keinginan bisa terpenuhi.


Hal paling penting dalam menerapkan cara menolak permintaan anak adalah mengajari mereka bagaimana mengelola hasrat atau nafsu.

Misalnya, dengan mengurangi intensitas menonton tv karena sebagian besar keinginan anak muncul dari iklan atau tontonan di tv.

Selain itu, perhatikan pula lingkungan dimana anak-anak bergaul.

Ajarkan kepada anak tentang skala prioritas, kebutuhan mana yang perlu didahulukan dan keinginan seperti apa yang bisa diwujudkan.