Konsep Diri Positif adalah Kunci Keberhasilan Hidup Manusia

konsep diri positif

Apa itu konsep diri positif? Apakah benar ianya adalah kunci keberhasilan hidup manusia?

Jika memang ya, bagaimana cara membangun konsep diri positif untuk anak-anak kita?

Sabar dulu . .

Kita akan bahas 3 pertanyaan besar di atas secara detil.

Namun, sebelumnya silahkan baca ilustrasi berikut.

 Seorang mahasiswa mengaku tidak percaya diri dengan penampilannya.

Ia merasa buruk dan muak.

Karena anggapan dan ‘rasa’ itu, mahasiswa ini cenderung minder.

Ia tak pandai bergaul dan tak berani berpendapat.

Alhasil, ia memiliki sedikit teman, tak mampu berprestasi dan sulit berkembang.

Ia sendiri penasaran dan sedih, kenapa rasa tidak mampu ini mengakar dalam dirinya.

Pikirannya pun melayang ke masa lalu saat ia duduk di bangku kelas 3 SD.

Di situ ia teringat makian yang hampir tiap hari diucapkan orangtuanya.

“Gendut, item, malas belajar. Jadi apa nanti kalau besar?”

“Kalau sudah gendut dan nggak pinter, wanita mana yang mau sama kamu nanti?”

Akhirnya ia sadar, akar dari ketidakpercayaan dirinya sangat dipengaruhi oleh ungkapan orangtuanya di masa lalu.

Ya. .

kalimat yang diungkapkan oleh orangtua mahasiswa tersebut memang bermaksud baik.

Mereka ingin anaknya bangkit dan berubah.

Sayangnya, mereka menggunakan metode yang kurang tepat.

Kalimat yang kita terima dari orang lain akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar.

Dan, kebetulan pikiran bawah sadar kita tidak mampu melakukan filter.

Mana yang boleh diproses atau mana yang tidak boleh diproses.

Semua ungkapan yang masuk akan dianggap benar.

Jadi, saat anak mendengar kalimat negatif maupun positif, ia akan menerimanya sebagai kebenaran.

Inilah yang terjadi pada mahasiswa tersebut.

Apa yang dimasukkan ke dalam pikirannya, itulah yang akan keluar dari dalam dirinya.

Sikap adalah ekspresi dari pikiran dan perasaan manusia.

Apa Itu Konsep Diri?

Semua persepsi, kepercayaan, perilaku dan nilai-nilai yang digunakan seseorang untuk mendeskripsikan dirinya sendiri disebut dengan konsep diri.

Konsep diri dibagi menjadi 2. Yakni, konsep diri negatif dan positif.

Konsep diri negatif adalah seseorang meyakini dan memandang dirinya lemah, tak berdaya, tidak kompeten, tak mampu berbuat apa-apa, tidak menarik, tidak disukai, gagal dan kehilangan daya tarik terhadap hidup.

Keyakinan negatif membuat seseorang memandang kehidupan secara pesimis.

Ia melihat hambatan sebagai ancaman yang mengganggu.

Karena pesimistis yang dimiliki, ia cenderung merasa kalah sebelum berperang.

Hal inilah yang kemudian menghambat seseorang untuk berkembang.

Konsep diri positif adalah seseorang yang menghargai dirinya dan mampu melihat sisi positif dari setiap kejadian untuk diambil pelajaran agar lebih berkembang di masa depan.

Keyakinan positif membuat seseorang memandang kehidupan secara optimis.

Ia melihat hambatan sebagai kesempatan untuk maju.

Karena optimistis yang dimiliki, ia cenderung merasa mampu menghadapi segalanya.

Hal inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk berkembang menjadi lebih baik.

Ya . .

Konsep diri adalah gambaran umum seseorang tentang dirinya sendiri.

Gambaran umum ini meliputi karakteristik fisik, sosial, psikologis, emosional, aspirasi dan prestasi.

Ia bisa bersifat negatif maupun positif karena dipengaruhi oleh 5 hal, yakni;

  1. Pola asuh orangtua
  2. Kegagalan
  3. Depresi
  4. Kritik internal
  5. Kritik eksternal

Kembali pada ilustrasi mahasiswa di atas.

Ketidakpercayaan dirinya sangat dipengaruhi oleh ungkapan negatif dari orangtuanya.

Banyak diantara kita yang tidak menyadari betapa dahsyatnya kekuatan ucapan.

Bahkan, ucapan ini membekas dan mengakar kuat dalam pikiran anak hingga menghambat perkembangannya di masa depan.

Orang dewasa telah melewati serangkaian proses kehidupan dan mengenal kapasitas dirinya, sehingga mampu mengolah lebih dulu terhadap apa yang ia dengar.

Tapi, hal ini berbeda dengan anak-anak.

Kemampuan mereka masih terbatas.

Jadi, konsep diri anak diperoleh dari pendapat atau penilaian orang lain dan lingkungan terhadap dirinya.

Inilah poin penting yang akan kita bahas.

Bagaimana seharusnya kita memperlakukan anak dan ucapan seperti apa yang bisa kita perdengarkan agar mampu membangun konsep diri positif.

Kunci Keberhasilan Hidup

Pembentukan konsep diri dimulai sejak manusia dilahirkan.

Ucapan orangtua dan lingkungan di sekitar kita sangat mempengaruhi pembentukan konsep diri.

Kritikan, ejekan, hukuman, kegagalan di sekolah dan kejadian lain berperan dalam membentuk persepsi seseorang atas dirinya.

Jika diibaratkan, macam-macam kejadian itu ‘layaknya mengukir di atas batu’.

Setelah ukiran terbentuk dengan jelas, ia masuk dalam core personality yang sulit diubah dan diukur.

Ia menjadi semacam watak dalam diri manusia.

Beberapa ahli menyatakan, konsep diri bagaikan sistem operasi yang menjalankan komputer.

Sistem operasi yang telah terinstal akan mempengaruhi cara kerja komputer tersebut.

Semakin baik kualitas sistem operasi, maka kinerja komputer itu pun akan baik.

Sebaliknya . . 

Jika kualitas sistem operasi buruk, maka kinerja komputer itu pun akan terpuruk.

Hal yang sama berlaku bagi manusia.

Saat pikiran dan perasaan negatif tertanam sejak kecil, ia akan menjadi pola pikir kuat dan membentuk kebiasaan berpikir.

Selanjutnya, pola pikir negatif ini akan terekspresikan dalam bentuk perilaku.

Hasilnya . . 

kita akan berpikir dan berperilaku negatif yang membatasi pengembangan diri.

Seseorang akan mulai meragukan dirinya dan sering merasa tak puas.

Ia mudah takut, cemas dan merasa tak layak.

Semakin dalam pola pikir ini, semakin rendahlah harga dirinya.

Lalu, bagaimana jika pikiran dan perasaan positif yang tertanam sejak kecil?

Hasilnya . . 

kita akan berpikir dan berperilaku positif yang mendorong kita untuk selalu optimis menjalani hidup.

Seseorang akan menerima dan mencintai dirinya apa adanya.

Ia akan senantiasa percaya diri dalam mengambil keputusan, mengelola resiko dan tidak merasa dihambat oleh rasa takut.

Semakin kuat pola pikir ini, semakin baiklah hidup seseorang.

Hidup ini Penuh Ujian

Tidak ada orang hidup yang tidak mendapatkan ujian.

Karena ujian adalah satu paket dengan kehidupan.

Apakah itu ujian kenikmatan atau keterpurukan, mereka sama-sama mendatangkan pelajaran bagi manusia.

Namun, terkadang kita kesulitan mengambil pelajaran dari sebuah ujian.

Saat hidup berada di titik yang tak kita inginkan, biasanya kita marah dan kecewa terhadap keadaan.

Bukannya fokus mencari solusi, kita justru menyesalkan kesalahan masa lalu dan menyalahkan orang lain yang terlibat.

Inilah yang kemudian menghambat kebangkitan kita.

Namun . . 

semua akan berbeda saat seseorang memiliki konsep diri positif.

Mereka akan memanfaatkan ujian sebagai kesempatan untuk belajar.

Belajar mengenai pikiran dan tindakan yang tak seharusnya ia lakukan.

Belajar mengenai solusi yang tepat untuk mengatasi ujian.

Sehingga, kebangkitan menjadi ‘mungkin’ bagi mereka yang berkonsep diri positif.


Begitu besar peranan konsep diri dalam hidup manusia.

Ia memegang kendali emosi dan mental kita.

Sehingga, penting bagi orangtua untuk menciptakan lingkungan yang mampu merangsang tumbuhnya konsep diri positif pada anak.

Nah, pada halaman berikutnya kami menyediakan langkah-langkah detil bagaimana membentuk konsep diri positif pada anak.

Semoga bermanfaat dan mampu membantu mencerahkan masa depan anak-anak Anda.