Konsep Diri Positif Membawa 8 Tokoh Dunia ini Meraih Kesuksesan Hidup

konsep diri yang positif

Untuk bisa percaya pada kemampuan diri sendiri dan tetap optimis berjuang menjalani hari-hari meskipun takdir Tuhan kadang tak sesuai harapan, manusia membutuhkan konsep diri positif.

Konsep diri positif inilah yang telah membawa 8 tokoh dunia ini pada kesuksesan hidup.

Meskipun hidup dalam keterbatasan materi, fisik tak rupawan hingga mengalami cacat fisik permanen, tidak membuat mereka kecil hati.

Berbagai kekurangan tersebut tak lantas membuat mereka putus asa terhadap rahmat Tuhan.

Tidak juga mampu menghentikan langkah mereka untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Semua itu berkat konsep diri yang positif.

Jadi, tidak ada alasan bagi orangtua untuk tidak membangun konsep diri positif pada anaknya.

Sebagai bukti bahwa konsep diri positif adalah kunci keberhasilan hidup, berikut kami sajikan 8 tokoh dunia yang mampu bertahan dan berhasil meskipun hidup dalam keterbatasan.

1. Ludwig Van Beethoven

Komponis dan pianis asal Jerman ini adalah tokoh penting dalam transisi era Classic dan Romantis musik barat.

Sampai dengan hari ini, ia masih menjadi salah satu komponis terkenal dan paling berpengaruh.

Bakat musiknya sudah terlihat sejak masih kanak-kanak.

Ketika menginjak usia remaja, Beethoven berkunjung ke Wina dan diperkenalkan kepada Mozart.

Setelah itu, hasrat bermusiknya memuncak dan membuatnya berkeinginan untuk belajar musik dengan Haydn yang merupakan pencipta musik tersohor di Wina.

Beethoven, dalam waktu singkat mampu menjadi pencipta musik yang produktif dimana karya-karyanya disambut baik oleh masyarakat.

Di usia 20an, ia bahkan sudah menerbitkan dan menjual buku musik ciptaannya tanpa kesulitan apapun.

Sayangnya, pada 1801, Beethoven menjadi tuli.

Dan, ia menjadi tuli sepenuhnya pada 1817.

Tuli adalah malapetaka bagi seorang pemusik.

Inilah yang membuat Beethoven mundur dari kegiatan sosial.

Ia tak mau lagi bergaul dengan masyarakat dan enggan menggelar konser seperti yang biasa dilakukannya.

Meskipun begitu . .

Dengan konsep diri yang positif, Beethoven tetap mencipta musik. Justru, karya-karya terbesarnya lahir saat pendengarannya tuli sepenuhnya.

Ia memang sempat ingin bunuh diri, tapi perasaan itu hilang karena kecintaannya pada musik.

Ketika sendiri, ia tak pernah merasa sepi.

Karena musik-musiknya akan selalu menemani.

Ia menghabiskan sisa hidupnya untuk terus dan terus berkarya.

Pelajaran terbaik yang bisa diambil dari seorang Beethoven adalah kepercayaan dirinya yang total.

Sekalipun tuli, ia tak menggubris omongan orang-orang sekitar yang menganggapnya antisosial.

Ia justru aktif menggubah beberapa aransemen musik yang indah dan digemari.

2. Franklin D. Roosevelt

Presiden Amerika yang dipilih hingga 4 kali ini terserang polio dan harus duduk di kursi roda sejak usia 39 tahun.

Berkat konsep diri yang positif, ia tidak menyerah dan pasrah pada takdir.

Ia menyembunyikan berita kecacatannya pada rakyat dan media selama bertahun-tahun.

Presiden Amerika ke-32 ini pun masih mampu melindungi dan melayani masyarakat dengan cara mengesankan.

Dalam keterbatasan fisik itu, FDR mampu memulihkan negaranya dari masa Great Depression atau menurunnya tingkat ekonomi secara dramatis di seluruh dunia.

Dengan konsep diri positif . .

Franklin mampu menumbuhkan sifat sabar dan kemampuan mengontrol emosi yang baik hingga akhirnya berhasil sehat kembali pada 1924.

3. Thomas Alva Edison

Ia melalui pendidikan formal selama 3 bulan saja karena dianggap idiot oleh sang guru.

Nilainya selalu di bawah standar dan dianggap tak mampu berprestasi.

Hingga akhirnya, sang ibunda, Nancy Matthews Elliott menarik Edison dari sekolah dan memilih untuk mengajar anaknya sendiri di rumah.

Kasih sayang dan pikiran positif dari ibunya lah yang akhirnya membentuk konsep diri positif pada Edison.

Dan, ini juga yang mendorongnya mampu mengenali potensi dirinya.

Karena Edison kecil bisa lebih leluasa dalam berkreasi.

Bahkan, di usia 11 tahun ia sudah membangun laboratorium kimia mini di ruang bawah tanah di rumahnya.

Saat ini, Thomas Alva Edison menjadi pencipta terbesar sepanjang sejarah.

Konsep diri positif yang dibangun sang Ibunda menjadi benteng kokoh yang melindungi telinga Edison dari omongan miring orang-orang yang meragukan kemampuannya.

Salah satu ciptaannya yang fenomenal adalah Music Box yang diciptakannya dalam keadaan tuli.

4. Bilal bin Rabah

Ianya adalah seorang budak berkulit hitam dari Habsyah (Ethiopia) yang masuk Islam saat masih diperbudak.

Ketika majikannya mengetahui Bilal masuk Islam, ia disiksa setiap hari agar kembali pada keyakinan lamanya.

Ia tetap teguh pada janji Nabi Muhammad SAW., hingga akhirnya dimerdekakan oleh Abu Bakar dan menjadi salah seorang sahabat nabi.

Kondisi fisik yang hitam dan latar belakangnya sebagai budak tak menghambatnya berjuang dalam agama Allah SWT. dan menjadi muazin pertama di dunia.

Hal itu tak terlepas dari konsep diri positif yang dimiliki oleh Bilal.

5. Agatha Christie

Ratu novel kriminal adalah julukannya.

Lahir di Torquay, Devon, Kerajaan Inggris dan telah menerbitkan 80 novel ini menjadi salah satu penulis yang karyanya diakui paling laku sepanjang masa.

Dibalik kesuksesannya dalam dunia sastra dan seni, sang pencipta ulung Agatha Christie ternyata mengidap disleksia.

Ya .  .

ia mengalami gangguan dalam kemampuan baca-tulis.

Ia merasa kesulitan dalam belajar membaca dengan lancar dan kesulitan memahami bacaan.

Konsep diri yang positif mendorong Agatha untuk terus belajar dan berusaha.

Hingga akhirnya ia mampu menjadi manusia kreatif yang tidak hanya lancar baca-tulis.

Tetapi, mampu meramu isi pikiran, perasaan dan apa yang dilihatnya menjadi bacaan yang menjual.

6. Stevie Wonder

Penyanyi, penulis lagu dan produser rekaman.

Tapi, ia bukanlah musisi biasa.

Stevie Wonder telah mencipta dan merekam lebih dari 30 lagu hit yang mampu menduduki 10 besar Top Hit Amerika dan memenangkan 21 Grammy Award.

Ia juga pernah meraih Oscar untuk kategori Lagu Terbaik, lewat lagu I Just Called to Say I Love You dalam film The Woman in Red.

Semua prestasi itu diraih oleh Stevie dalam keadaan buta.

Ya . .

label tunanetra tak menghalanginya mengasah potensi bermusik.

Berkat konsep diri positif yang dibangun oleh ibunya, Lula Mae Hardaway, Stevie tumbuh menjadi pribadi mandiri.

Ibunya tak mau memperlakukan Stevie layaknya anak cacat dan harus serba dilayani.

Ia terus memotivasi dan menganggap anaknya normal seperti anak-anak lainnya.

Pola asuh inilah yang menjadikan Stevis Wonder mampu bangkit dan tetap percaya diri meski tak mampu menikmati indahnya dunia melalui mata fisik.

7. Muhammad Ali

Sama dengan penulis Agatha Christie, Ali kecil juga mengidap disleksia.

Ali juga sering mendapat cibiran dari para pendidiknya di sekolah sebagai ‘anak bodoh’.

Hal ini disebabkan Ali tak mampu memahami buku pelajarannya dengan baik.

Tidak hanya sekolah yang merendahkan kemampuannya.

Saat ia ingin bergabung dengan dunia militer pun Ali ditolak mentah-mentah karena kemampuan bahasanya yang buruk.

Ia juga mengalami perlakuan diskriminatif karena berkulit hitam.

Apakah Muhammad Ali menyerah pada lingkungan yang meremehkannya?

Tentu saja tidak.

Untuk ‘membalas’ lingkungan yang tak memperlakukannya dengan adil, ia belajar tinju.

Tak disangka, tinju menjadi alat yang membawa Ali pada kesuksesan karirnya.

Berbagai pertandingan kelas berat telah dilaluinya hingga menjadikannya sebagai juara tinju dunia kelas berat.

Apabila Muhammad Ali tak memiliki konsep diri yang positif, apakah ia mampu menjalani hari-harinya yang keras dan berprestasi sebagai petinju?

Rasanya agak mustahil bagi Ali membangun karirnya sebagai pesohor tinju dunia tanpa mengantongi konsep diri yang positif.

8. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Tokoh yang terkenal dengan jargon, “gitu aja, kok repot” adalah Presiden Indonesia ke-4 yang juga memiliki keterbatasan fisik.

Gus Dur menderita stroke sejak Januari 1998 dan memiliki penglihatan yang minim.

Keterbatasan itu pun sama sekali tak mengganggunya dalam meraih pendidikan hingga ke Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, meskipun tak diselesaikan karena kekritisan pikirannya.

Kemudian, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Universitas Baghdad dan mampu lulus pada 1970.

Melalui konsep diri yang positif, kekurangan itu tak menghalanginya untuk menjadi pemimpin yang menomorsatukan kemajukan di nusantara.

Gus Dur ditasbihkan sebagai ‘Bapak Tionghoa’ karena dinilai memiliki semangat dan komitmen memperjuangkan kebebasan berekspresi, persamaan hak, keberagaman dan demokrasi di Indonesia.

Hingga ia mampu meraih Ramon Magsaysay Award pada 1993 yang dianggap sebagai penghargaan prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial.


Melalui kisah 8 tokoh dunia ini, semoga mata Anda terbuka dan bergegas untuk membangun konsep diri positif pada anak-anak Anda.