Karakteristik Pelaku Bullying yang Perlu Orangtua Ketahui

pelaku bullying

Apa yang Anda lakukan jika anak Anda menjadi pelaku bullying di sekolah?

Banyak diantara kita yang lebih concern mengatasi dan membantu korban bullying.

Padahal, sama seperti korban, pelaku pun memerlukan penanganan khusus agar perilakunya tak bertambah buruk hingga menghambat kemajuannya di masa depan.

Pelaku bullying biasanya adalah anak-anak yang memiliki masalah dalam proses belajarnya.

Tidak hanya itu, dalam beberapa kasus terungkap bahwa mereka juga memiliki latar belakang keluarga yang tidak harmonis.

Sehingga, hal ini memicu anak untuk mencari perhatian dari teman-temannya.

Sayangnya, mereka menggunakan cara yang kurang tepat dalam mengekspresikan keinginannya untuk diperhatikan.

Oleh karena itu . .

orangtua perlu mengenali karakteristik anak-anak yang menjadi pelaku bullying.

Melalui ciri-ciri tersebut, Anda akan mengenali penyebab anak melakukan bullying.

Sehingga, lebih mudah bagi kita untuk menyelamatkan anak dari kebiasaan buruknya.

Ciri-ciri Pelaku Bullying

Karakter yang paling menonjol pada pelaku adalah sifat agresor, provokator dan inisiator.

Ya . .

apabila dilihat dari kacamata positif, provokator dan inisiator bisa menjadi kelebihan bagi seseorang.

Sayangnya, kelebihan ini tidak mendapat respon tepat dari lingkungan.

Kelebihan ini tidak dikelola dengan baik, tapi diabaikan dan dimusuhi.

Sehingga, muncullah perilaku bullying.

Penasarankah . . 

Anda terhadap karakteristik dari pelaku? Apakah anak-anak Anda memiliki kecenderungan sebagai pelaku?

Silahkan cermati ciri-cirinya berikut;

1. Emosi anak meledak-ledak

2. Selalu ingin berkuasa

3. Anak tidak mampu menunjukkan empati pada orang lain

4. Cenderung cuek, tidak peduli dan tak punya belas kasih pada sesama

5. Bertingkah agresif, baik pada teman sebaya maupun orang dewasa

6. Menganggap kekerasan sebagai hal lumrah

7. Pernah menjadi korban bullying

8. Bingung terhadap dirinya sendiri

9. Tidak mau mengakui kesalahan

10. Suka melampiaskan kemarahan pada orang lain

11. Merasa tidak aman dan pencemas

12. Tidak suka bersosialisasi

13. Memendam luka batin atau frustasi

14. Memandang sekolah sebagai sesuatu yang tidak penting

15. Trouble maker atau pembuat onar

16. Bangga yang berlebihan terhadap diri sendiri

17. Terlalu membanggakan dukungan orangtua

18. Haus akan popularitas dan superioritas

19. Suka mencari perhatian

20. Membeda-bedakan orang lain dan mudah berprasangka negatif

21. Selera humor buruk dan sering berkata yang menyakitkan hati

22. Suka melontarkan ejekan atau olok-olok yang bernada merendahkan orang lain

23. Jauh dari sentuhan budaya dan agama

24. Kaku dan tidak peduli pada pendapat orang lain

25. Tidak sabaran, suka menantang dan merusak

26. Sulit mengendalikan kemarahan

27. Mendominasi dan mengendalikan anak lain untuk menuruti keinginannya

Penyebab Anak Melakukan Bullying

Penyebab anak melakukan bully sangat erat kaitannya dengan pola asuh orangtua.

Karena ciri khas dari pelaku bully adalah tidak memiliki empati, kemampuan interpersonal buruk, tidak memiliki kontrol diri yang baik, tidak memiliki tanggung jawab dan agresif.

Bukankah sikap-sikap tersebut seharusnya bisa dihindari jika orangtua menerapkan pola asuh yang tepat?

Jadi . . 

saat Anda mendapati anak menjadi pelaku kekerasan di sekolah, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah introspeksi diri.

Melihat dan melakukan analisa terhadap perilaku Anda dan pasangan kepada anak selama ini.

Apabila Anda mendapati tingkah laku yang tak sesuai, belajarlah untuk memperbaiki diri.

Karena memperbaiki diri terlebih dahulu adalah kunci menyelesaikan masalah anak.

Pada umumnya, siswa yang menjadi pelaku bullying memiliki fisik besar dan kuat, tapi ada juga yang bertubuh kecil.

Pelaku yang bertubuh kecil biasanya didukung oleh status sosial, kedudukan atau berasal dari keluarga kaya.

Target yang diincar oleh pelaku bullying adalah anak dengan penampilan berbeda.

Misalnya, kelebihan berat badan, cungkring, berkacamata, lemah, penyendiri, minder bahkan anak yang mengalami cacat fisik.

Perbedaan ini dianggap sebagai ‘celah’ atau kesempatan untuk berbuat onar oleh pelaku.

Itulah kenapa, mereka lebih suka menjatuhkan pilihan pada anak-anak yang berbeda dan terkesan inferior.

Lalu . . 

Apa sebenarnya penyebab anak melakukan bullying pada teman-temannya sendiri di sekolah?

Ini jawabannya untuk Anda;

1. Pola asuh orangtua

Penyebab utama anak berperilaku menyimpang adalah peran orangtua yang kurang optimal dalam proses pengasuhan.

Misalnya, kehangatan, perhatian dan cinta kasih yang tidak diberikan secara total pada anak.

Pola asuh permisif dimana orangtua membolehkan segala permintaan anak akan membuat mereka terlalu bebas.

Akibatnya, anak tidak mengenal ‘resiko’ dari setiap perilakunya.

Pola asuh otoriter dimana orangtua terlalu keras pun bisa membuat anak dekat dengan suasana mengancam.

Ketidakharmonisan dalam keluarga pun turut andil dalam membentuk perangai anak yang keras dan tidak peduli pada lingkungan.

2. Pengaruh pergaulan teman sebaya

Saat anak memasuki usia sekolah, mereka lebih suka menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya.

Tidak masalah jika mereka bertemu dengan lingkungan positif.

Tapi, bagaimana jika anak mencari dukungan dari teman sebaya yang berperilaku negatif?

Misalnya, bergaul dengan pelaku bullying atau anak-anak yang suka pada tindak kekerasan.

Dampaknya, anak-anak kita akan menerima perilaku temannya sebagai hal yang lumrah.

Lama-kelamaan, mereka pun akan meniru tindakan teman-temannya.

3. Pengaruh media

Dewasa ini, kekerasan dipertontonkan secara wajar oleh media televisi, internet dan games pada anak.

Padahal, audio dan visual mampu memberikan pengaruh yang kuat dalam pikiran seseorang.

Apalagi jika anak menontonnya berkali-kali.

Akan terjadi pengulangan yang membuat pengaruh itu menancap semakin kuat.

Tidak masalah jika pengaruh itu dalam kebaikan.

Bagaimana jika pengaruh itu dalam bentuk kekerasan fisik dan verbal seperti yang dipertontonkan sinetron atau games jaman sekarang?

Ya . . 

akibatnya akan fatal bagi kepribadian dan cara berpikir anak.


Bagi orangtua yang memiliki anak dan terlanjur menjadi pembully, jangan bersedih hati.

Pada halaman berikutnya, kita akan membahas bagaimana cara mengatasi pembully (pelaku bullying).