Menggunakan Gadget dengan Tepat Agar Tak Menjerumuskan Anak pada Seks Bebas

penggunaan gadget pada anak

Penggunaan gadget pada anak saat ini menjadi pemandangan yang lumrah.

Karena anak-anak jaman sekarang adalah generasi digital dimana mereka lahir dan berkembang bersama dengan teknologi.

Kita mungkin akan kesulitan dalam menjauhkan benda-benda digital dari jangkauan anak.

Iklan di media elektronik, pengaruh lingkungan dan teman sebaya anak memberikan dampak luar biasa bagi keinginan anak dalam memiliki gadget.

Banyak orangtua yang takut apabila anak-anak terpengaruh hal buruk dari penggunaan gadget.

Misalnya, kesehatan mata terganggu, kemampuan motorik melemah, menjadi egois hingga terpapar pornografi.

Tapi, tidak sedikit dari kita yang membebaskan anak dalam bermain gadget alias tidak membuat aturan.

Inilah kesalahan orangtua . .

kita abai terhadap lingkungan anak dan hanya fokus pada kemampuan akademisnya di sekolah.

Kita tidak mengontrol penggunaan gadget, tapi membuat aturan terkait les dan mengerjakan tugas sekolah.

Kita lupa mengawasi hal apa saja yang dijelajahi anak di internet, tapi kita selalu mengingatkan anak tentang pentingnya belajar di malam hari.

Hal inilah yang kemudian membuat anak merasa stres dan tertekan.

Mereka kesepian, memendam amarah dan sulit mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya.

Kemudian, games di dalam gadget, internet dan segala macam informasinya menjadi satu-satunya hiburan yang dianggap anak mampu melepas penatnya.

Perkembangan berpikir anak belum sempurna layaknya orang dewasa.

Mereka belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk.

Mereka belum bisa membedakan mana yang pantas ditiru dan mana yang tidak.

Apa yang dilihat anak melalui gadget dan internet, jika menurut mereka menyenangkan, maka anak akan cenderung menirunya.

Lalu, bagaimana jika apa yang dilihat anak adalah sesuatu yang belum pantas dilihat?

Bagaimana jika saat melihat sesuatu yang tak pantas, orangtua tak hadir memberikan pengarahan?

Mengingat, games dari pengembang luar negeri menyelipkan hal-hal berbau pornografi.

Secara terang-terangan, mereka menampilkan wanita dengan pakaian serba mini yang siap diajak ML (Making Love) sebagai ‘hadiah’ jika anak bisa memenangkan games tersebut.

Tidak hanya itu . .

internet adalah alat dengan kemampuan menjelajah informasi yang super cepat dan tanpa batas.

Apabila orangtua abai terhadap hal-hal semacam itu, maka anak bisa terjerumus pada pornografi dan perilaku seks bebas.

Penyebab Anak Kecanduan Gadget

Sebelum membahas cara memanfaatkan gadget dengan tepat, kita harus memahami terlebih dahulu penyebab anak kecanduan gadget.

Penyebab utamanya adalah orangtua sendiri.

Orangtua yang abai terhadap dampak negatif dari gadget.

Orangtua yang tidak menyediakan quality time untuk anak.

Orangtua yang sibuk berdalih ‘lelah’ karena seharian bekerja mencari nafkah untuk anak.

Tapi, lupa bahwa anak tidak hanya membutuhkan materi, tapi juga perhatian yang bersifat non materi.

Silahkan bertanya kepada diri Anda sendiri, ‘apa yang mendorong saya membelikan gadget untuk anak?’

  • Apakah agar anak bisa lebih mudah dalam mencari informasi terkait tugas sekolah?
  • Apakah agar anak tampil up to date dan tidak dianggap ‘kuno’ oleh lingkungan?
  • Apakah agar anak punya ‘teman’ selagi saya sibuk bekerja?
  • Apakah agar anak tidak mengganggu saya saat istirahat di rumah?

Apapun alasannya, jika anak menjadi kecanduan dengan gadget hingga terpapar dampak negatifnya, jangan pernah salahkan gadget tersebut.

Karena ternyata, penyebab anak kecanduan gadget adalah orangtua sendiri.

Penggunaan Gadget pada Anak

Jika dilihat dari sisi positif, gadget dan internet bisa digunakan sebagai media pembelajaran bagi anak.

Karena hampir semua informasi ada di sana, internet pun bisa dimanfaatkan sebagai sumber informasi.

Ya . .

gadget dan internet sebenarnya bersifat netral.

Ia bisa menguntungkan atau membahayakan, tergantung dari individu yang menggunakan.

Layaknya pisau dapur yang ada di rumah Anda.

Pisau dapur jika digunakan untuk mengupas apel, maka ia dianggap menguntungkan.

Tapi, ia juga bisa membahayakan jika digunakan untuk menusuk punggung seseorang.

Jadi, yang terpenting saat ini bukanlah menyalahkan lingkungan, gadget dan internet.

Justru, kita harus berterima kasih pada penemu gadget dan internet. Kemudian, memanfaatkannya dengan tepat agar mampu merasakan pengaruh positifnya secara maksimal.

Lalu, bagaimana cara memanfaatkan penggunaan gadget pada anak?

Berikut adalah beberapa langkah bijaksana yang bisa Anda lakukan:

1. Menetapkan Batasan Usia Pemakaian Gadget

Bill Gates melarang anaknya memainkan gadget sebelum 14 tahun.

Pendiri Microsoft itu tidak suka jika anaknya sibuk menatap layar dan mengabaikan lingkungan.

Apalagi saat makan bersama dengan keluarga, gadget harus benar-benar mati.

Sehingga, terciptalah suasana makan yang nyaman dan mampu meningkatkan komunikasi efektif antar keluarga.

Sebelum tidur, anak-anak Bill Gates pun dilarang memainkan gadget.

Karena saat memegang gadget dan berselancar di internet, anak-anak bisa lupa waktu.

Akibatnya, waktu tidur terganggu dan mengakibatkan kelelahan di esok hari.

Ya . .

aturan penggunaan gadget pada anak adalah mengajari agar mereka tidak tergantung pada alat tersebut sedini mungkin.

Memang agak sulit meredam keinginan anak untuk memainkan gadget.

Mengingat, pengaruh iklan, lingkungan tempat tinggal dan teman sebaya ‘mengiming-imingi’ anak agar meminta gadget pada orangtua.

Inilah tugas Anda . . 

menjauhkan anak dari lingkungan yang kurang tepat.

Menyediakan quality time bersama anak dan mengisi waktu bersama untuk mengerjakan hal-hal yang bersifat positif.

Sehingga, anak tidak cenderung menghabiskan waktunya bersama tv atau temannya di luar rumah.

Lalu . .

apakah sebelum 14 tahun, anak belum diperbolehkan menggunakan gadget?

Boleh saja, asal tujuannya positif.

Misalnya, menggunakan gadget dan internet untuk mengerjakan tugas sekolah atau sebagai media pembelajaran.

Untuk hal ini, penggunaan gadget pada anak harus di bawah pengawasan orangtua.

Artinya, Anda harus di sana saat anak memanfaatkan gadget guna memberikan pengarahan dan pendampingan.

Dalam kasus ini, Anda tidak perlu membelikan gadget pribadi untuk anak.

Cukup gunakan milik Anda.

Justru, ini menjadi kesempatan bagi Anda guna mengenalkan anak pada manfaat keberadaan gadget.

2. Menetapkan Batasan Waktu Pemakaian Gadget

Setelah menginjak 14 tahun, Anda bisa memberikan gadget pribadi untuk anak.

Tujuannya bukan supaya dianggap keren, mengikuti perkembangan jaman atau menjadikan gadget sebagai teman anak saat Anda sibuk kerja.

Melainkan, sebagai bentuk kepercayaan Anda kepada anak.

Ya . .

Anda bisa mengajari anak tentang tanggung jawab melalui kepemilikikan gadget ini.

*Note untuk Orangtua:

Hindari membelikan gadget untuk anak secara cuma-cuma.

Buatlah kesepakatan dengan anak berupa ‘membeli gadget dengan upaya sendiri’.

Misalnya, anak menginginkan gadget saat 13 tahun, maka ia punya waktu setahun untuk menabung.

Berikanlah bantuan sebesar 50%. Dan, sisanya anak harus membayar biaya pembelian gadget dengan tabungannya sendiri.

Anda pun bisa memberikan tugas lain pada anak.

Misalnya, jika anak mampu menghafal surat Al Ikhlas dalam waktu seminggu, Anda akan menambah uang sakunya.

Sehingga, uang tabungan anak bisa bertambah lebih cepat.

 

Nah, setelah ia berhasil memiliki gadget pribadi, saatnya Anda mengajarkan tanggung jawab.

Jelaskan pada anak, aturan waktu penggunaan gadget.

Aturan waktu juga bisa menjadi cara mengurangi penggunaan gadget pada anak.

Tips dalam membuat aturan bagi anak adalah melibatkan dan mengajak mereka berdiskusi.

Perlihatkan pada anak tentang dampak penggunaan gadget yang berlebihan.

Misalnya, kesehatan mata bisa terganggu hingga menjadi autis dan sulit bergaul dengan lingkungan.

Nak, supaya kamu tidak terkena dampak negatif itu, kita batasi ya penggunaan gadgetnya. Bagaimana kalau 2 jam sehari? Apakah sudah cukup?

Dengan cara seperti ini, Anda tidak hanya mendengarkan pendapat anak, tapi juga mengajarinya tentang memperjuangkan kebutuhan dan keinginan pribadinya.

Kalau 3 jam sehari gimana yah? Aku kan sering dapat tugas dari sekolah yang sumber informasinya ada di internet.

Jika alasan anak logis dan bersifat positif, maka Anda bisa meluluskan permintaannya.

3. Hanya Memasang Aplikasi yang Bermanfaat

Untuk menghindari paparan negatif tayangan gadget dan internet, Anda bisa memasang aplikasi yang bermanfaat saja pada gadget anak.

Pemutar video, pemutar musik, penampil foto adalah aplikasi standar yang ada pada gadget.

Gunakan aplikasi-aplikasi tersebut sebagai media pembelajaran bagi anak.

Selain itu, ada juga aplikasi yang bebas didownload dari playstore.

Inilah yang perlu Anda waspadai.

Jika sudah tersambung internet, informasi di belahan dunia manapun tak bisa lagi dibendung.

Semua hal bisa diakses oleh anak secara cepat dan mudah.

Jadi, Anda perlu memberikan penjelasan pada anak tentang manfaat dari tiap-tiap aplikasi.

Misalnya melalui penjelasan,

“Nak, dengan aplikasi A kamu bisa melakukan ini dan itu. Manfaatnya seperti ini dan resikonya seperti itu”.

Ya .  .

Anda cukup memberikan pemahaman dan menunjukkan resikonya.

Selanjutnya, biarkan anak belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

4. Memeriksa Gadget Anak Secara Berkala

Sekarang sudah ada software Parental Control yang bisa Anda manfaatkan untuk memeriksa gadget anak secara berkala.

Software tersebut tidak berarti mengunci aplikasi tertentu.

Terdapat 3 manfaat dari Parental Control, yakni:

  • Menyaring – menyeleksi situs aman untuk dikunjungi anak. Anda bisa membuat daftar untuk situs yang boleh dan tidak boleh dikunjungi anak.
  • Memantau – secara otomatis Anda bisa merekam kegiatan online anak. Anda bisa mengecek, situs apa saja yang telah dikunjungi mereka.
  • Menjadwal – Anda bisa menyepakati ‘pada pukul berapa anak boleh memanfaatkan internet’. Jadi, jika tidak dalam waktu yang telah disepakati, anak-anak tidak bisa berinternet ria.

Jika Anda tertarik dengan kelebihan software ini, Anda bisa mendownloadnya secara gratis.

penggunaan gadget pada anak

Alternatif lain jika Anda tak ingin menggunakan software tersebut, Anda bisa memanfaatkan menu history untuk melacak konten apa saja yang sudah dilihat anak.

Dengan cara seperti ini, Anda tidak perlu selalu menemani anak saat menggunakan gadget.

Karena memantau anak terlalu ketat bisa membuat mereka merasa terancam dan tak memiliki kebebasan.

Anak-anak pun cenderung sulit berkreasi saat orangtua mengawasi dengan mata tajam.

Jika usia anak di bawah 14 tahun, Anda patut menemani dan memberikan bimbingan.

Jika usia anak memasuki 14 tahun, Anda hanya boleh menemani mereka bermain gadget sesekali.

Jadi, orangtua harus lebih cerdas dalam menggunakan gadget ketimbang anak.

Jangan sampai Anda kalah up to date mengenai perkembangan teknologi.

5. Mengajak Anak Berdiskusi

Orangtua harus rajin mengajak anak berdiskusi, sekalipun untuk hal-hal yang bersifat sepele.

Khususnya, setelah anak menggunakan gadgetnya.

Tanyakan pengalamannya berselancar di internet atau perasaannya sesudah bermain games.

Misalnya melontarkan pertanyaan seperti ini,

Gimana tadi rumus yang kamu cari di internet, udah ketemu ?

atau,

Gimana gamesnya kak? Kamu udah bisa nglewatin level 7?

Jika anak merespon dengan baik dan antusias untuk bercerita, maka dengarkanlah secara seksama serta hindari mendengarkannya sambil lalu.

Jangan lupa perhatikan bahasa tubuh anak.

Karena bahasa tubuh berkata lebih jujur daripada apa yang diucapkan oleh mulut.

Saat anak mengerutkan dahi dan berkata, ‘ya gitu deh’.

Mungkin ia sedang kesal atau lelah karena apa yang dicari di internet belum ketemu.

Nah, dalam kasus ini Anda bisa menawarkan bantuan untuk anak.

Mau ayah temenin nyari informasi di internet?

Ya, bertanya pada pengalaman anak dan mengajaknya berdiskusi bisa meningkatkan kedekatan orangtua dan anak.

Pola komunikasi yang tidak menjudge dan memandang kepentingan anak secara positif akan membuat mereka merasa nyaman berbicara pada orangtuanya.

Selanjutnya, anak-anak akan lebih terbuka untuk bicara dengan Anda.

Melalui komunikasi tersebut, Anda juga bisa menemukan indikasi jika anak sudah terpapar pornografi atau masih bersih.

6. Mengajarkan Anak untuk Bersosialisasi

Penggunaan gadget pada anak secara berlebihan dan tanpa kontrol memang tidak baik.

Nah, untuk membatasi penggunaan internet dan sebagai solusi kecanduan gadget, orangtua perlu membantu anak mengisi waktu luang.

Salah satu caranya adalah mengajarkan anak untuk bersosialisasi.

Anda bisa mengajak anak mengikuti club tertentu yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Atau bergabung dengan komunitas menyenangkan yang memungkinkan anak bersosialisasi dengan teman lintas usia.

Saat ini, ada banyak sekali komunitas di luar sekolah formal yang fokus membantu anak agar mampu berbagi dan berkarya.

Komunitas-komunitas semacam ini memiliki manfaat;

  • Merangsang otak anak untuk berpikir kreatif
  • Merefresh pikiran anak agar tidak tertekan dengan tugas-tugas akademis
  • Mengajarkan sosialisasi dengan teman lintas usia (biasanya komunitas diikuti oleh rentang usia tertentu)
  • Meningkatkan kepedulian anak terhadap lingkungan sekitar
  • Menghindarkan anak dari sikap egois

Namun, jika Anda keberatan dengan biaya gabung komunitas, jangan khawatir.

Sosialisasi bisa diajarkan dengan cara gratis.

Misalnya, keliling komplek perumahan, mengenalkan anak pada lingkungan tempat tinggal dan tetangga.

Atau mengajak anak berbelanja ke minimarket dan pasar agar terbiasa untuk berkomunikasi dengan masyarakat luas.

7. Fokus Menemani Anak dan Tidak Menduakannya dengan Chatting

Orangtua ingin agar anaknya tidak kecanduan gadget.

Tapi, apakah Anda sendiri sudah merdeka dari gadget dan media sosial?

Misalnya, saat menemani anak bermain atau mengerjakan tugas sekolah.

Banyak orangtua terkesan setengah hati melakukannya.

Karena menduakan anaknya dengan gadget dan chatting bersama rekan kerja.

Bagaimana anak Anda bisa bebas, tidak egois dan peduli dengan lingkungan, jika orangtua mencontohkan yang sebaliknya?

Orang bijak berkata,

jangan takut kalau anak tidak mendengarkan ucapan Anda. Takutlah jika anak melihat perilaku Anda.

Ya . .

perilaku Anda memiliki kekuatan 1000x lebih dahsyat ketimbang nasihat Anda.

Tunjukkan apa yang ingin Anda ajarkan pada anak melalui perkataan dan perilaku yang baik.

8. Berempati pada Kesalahan Anak Saat Mengakses Internet

Saat Anda mengetahui anak telah membuka situs dengan konten yang menjurus pada pornografi, apa yang akan Anda lakukan?

Tipe orangtua ekspresif, mungkin akan langsung marah dan menjudge bahwa anak bersalah.

Sebaliknya, orangtua yang kurang terbuka akan mendiamkan kesalahan anak dan merasa canggung untuk menegurnya.

2 respon tersebut kurang baik untuk perkembangan anak.

Mereka akan kesal karena disalahkan tanpa melihat latar belakangnya terlebih dahulu.

Bisa jadi, ia tak sengaja mengklik link ‘sampah’ yang mengarah pada konten porno.

Yang lebih parah, karena dilarang atau terlalu dibiarkan, anak bisa semakin penasaran dan mencarinya lagi di kemudian hari.

Lalu . .

bagaimana respon yang pantas kita berikan saat anak ketahuan melakukan kesalahan semacam ini?

BEREMPATI.

Ya, menolong anak agar mampu mengenali kesalahannya dan mengontrol diri agar tak mengulangi kesalahan tersebut.

Misalnya dengan berkata,

Kak, dulu teman ibu waktu seumuran kamu juga ada yang suka nonton film porno lho. Tahu nggak apa yang terjadi sama teman ibu itu? Teman ibu itu juga cowok lho kaya kamu.

Tips berbicara dengan anak adalah mengungkapkannya secara sepotong-potong.

Fungisnya agar anak penasaran dan merespon Anda dengan antusias.

Memangnya teman ibu kenapa?

Lanjutkan penjelasan Anda.

Karena dia kecanduan nonton film porno, dia jadi sering meniru adegan film itu sama temannya sendiri. Terus . .

Masih dengan cerita yang sepotong-potong.

Terus gimana buk?

Lanjutkan kembali penjelasan Anda.

Dia kena penyakit kelamin. Iya, penis yang biasa dipakai buat pipis itu kena penyakit. Katanya, kalau mau pipis jadi sakit, terus kulitnya pada ngelupas gitu . . hii ngeri deh.

Anak Anda pasti akan semakin penasaran. Dan, menjawab “Hi, kok bisa gitu ya buk? Padahal awalnya cuma nonton film”.

Selanjutnya, Anda bisa menyisipkan nasihat dan peringatan di sana.

Misalnya dengan berkata, “Kak, kemarin ibu lihat kamu buka situs ini. Mulai sekarang hati-hati ya main internetnya. Kan kamu sudah tahu bahaya pornografi”.

Daripada menjudge menyalahkan anak, kemudian melarangnya menggunakan gadget atau internet, lebih baik menggunakan cara komunikasi semacam ini.

Pasti lebih efektif dan efisien.

Selain itu, anak-anak juga merasa lebih diperhatikan oleh orangtuanya.


Inilah tips praktis yang bisa langsung Anda praktikkan terkait penggunaan gadget pada anak.

Selanjutnya, kami akan mengajak Anda untuk belajar mengenai cara memilih gadget tepat sesuai kebutuhan anak.